VEGASPETE - AGREEMENT - 9

 Vegas mengusap lembut rambut Pete. Menatap lekat wajah istrinya yang masih betah tidur. Sudah 20 jam Pete menutup mata dengan beberapa perban yang menghiasi wajah dan tubuhnya. Satu selang infus juga ikut terpasang pada pergelangan tangannya demi memenuhi nutrisi yang dibutuhkan Pete selama tertidur.

Vegas mendekatkan wajahnya pada wajah Pete dan mulai menciumi wajah yang masih dipenuhi lebam itu. Air matanya menetes. Iba melihat istrinya menderita seperti ini.

"Jika kau tak selingkuh dan hampir memiliki anak orang lain, kau tak akan seperti ini sayang. Kumohon, pahami aku" Vegas mengecup bibir Pete lama. Menyalurkan rasa sayangnya yang begitu dalam. Berharap Pete merasakan cintanya yang meluap luap.

"Kuharap kau tak akan mengulangi kesalahan seperti ini lagi Pete. Kau milikku. Selamanya" Vegas menarik wajahnya dari Pete. Mencengkram pipi Pete keras. Wajahnya kembali mengeras ketika mengingat Pete pernah mengandung anak orang lain. Ingat. Dia tak suka berbagi miliknya dengan orang lain. Apalagi sampai membawa jejaknya didalam tubuh kepunyaannya. Dia tak akan membiarkan ini terjadi lagi.

Vegas menatap dingin perut Pete. Menelusupkan tangannya kedalam baju tersebut hingga kulit tangannya bertemu dengan kulit perut Pete. Meremas perut tersebut kuat hingga muncul memar baru. Hanya dia yang boleh mengisi perut ini dengan benihnya. Pete hanya boleh mengandung anaknya. Vegas melepaskan cengkramannya dari perut Pete. Mengelus lembut bekas memar yang baru saja terbentuk. Kemudian kepalanya bergerak dan mengecup perut tersebut dan tersenyum lembut.

Beruntung.

Pete keguguran.

-----

Kring Kring..
Kring Kring..

Vegas menggeliat dalam tidurnya. Mulai terusik dengan dering ponsel yang berada di meja nakasnya. Vegas semakin mengeratkan pelukannya pada Pete yang masih belum bangun.

Kring Kring..
Kring Kring..

Ponsel tersebut kembali berdering sehingga membuat Vegas mendecakkan lidahnya kesal. Sekarang baru pukul 7 pagi. Apa yang terjadi dengan orang orang. Mereka perlu diajari tata krama dalam menghubungi seseorang.

Belum sempat tangan Vegas meraih ponsel yang berdering. Tangan lain yang terpasang selang infus mulai meraba meja dan mengambil ponsel tersebut. Jarinya menggeser ikon hijau dan mengangkat panggilan tersebut.

"Ya. Halo" Pete memulai suara pertamanya sedikit serak. Kerongkongannya kering karena sudah 30 jam tidak dibasahi apapun.

"Permisi Tuan. Apakah ini dengan Tuan Pete Wichapas Teerapanyakul? " suara samar terdengar oleh telinga Vegas. Matanya masih terpejam. Tidak berniat ikut campur pada sambungan tersebut.

"Ya, dengan saya sendiri. Ada apa? Dan ini siapa? " Pete memaksakan suaranya. Meski kerongkongannya terasa perih dan gatal sekarang. Dia melirik Vegas yang tidur dan memeluk dirinya erat. Apakah bajingan ini tak sadar Pete bangun? Membantu memberinya sedikit minum apa susahnya? Pete berdeham sedikit keras untuk mengurangi rasa gatal pada kerongkongannya.

"Orang tua anda saat ini sedang diperiksa di UGD Rumah Sakit Medical Centre dan harus segera dioperasi. Kami membutuhkan persetujuan keluarga sebelum dapat melakukan tindakan"

Ponsel yang berada ditangan Pete jatuh kesisi ranjang disamping telinga Pete. Pete terkejut. Jantungnya berdebar sangat cepat. Badannya mematung. Otaknya tak dapat mencerna apa yang baru saja penelpon itu katakan. Apa? Rumah sakit? Orang tuanya? Kenapa?

Vegas yang merasakan Pete membatu segera mengambil alih ponsel yang berada disebelah Pete. Terdengar penelpon tersebut memanggil manggil nama Pete.

"Ya. Maaf, saya suami dari Pete. Kami segera kesana. Untuk tindakan pengoperasian ayah dan ibu kami menyetujuinya. Bisakah dilakukan sekarang? Kami akan sampai dalam 30 menit" Vegas berdiri dari ranjang dan memakai bajunya segera. Ponsel tersebut dimatikan ketika penelpon langsung menyetujui permintaan Vegas.

Vegas berjalan kearah Pete yang masih membeku. Matanya tak berkedip dan hanya menatap lurus langit langit. Vegas sedikit mengguncang tubuh Pete, membangunkan pria kecil tersebut dari shocknya. 

"Vegas. Siapa yang berada di rumah sakit? " Pete menatap Vegas lekat. Berusaha mencari informasi yang sudah ia sangkal. Tangannya lemahnya terangkat memegang ujung kemeja Vegas. Meminta Vegas menjelaskan semuanya padanya.

Vegas berjongkok menyamakan tingginya dengan kepala Pete. Mengusap rambut Pete dengan lembut.

"Aku akan ke rumah sakit Pete. Kau belum pulih, biar aku yang mengurus mereka" Vegas mengecup kening Pete. Beranjak dari posisinya dan berjalan menuju kulkas yang berada tak jauh dari kasur. Kulkas tersebut hanya berisikan air minum dan beberapa minuman kaleng lainnya. Tangan Vegas mengambil salah satu botol air minum dan membukanya sambil berjalan menuju Pete. Tangannya ia selipkan dibelakang tengkuk Pete dan membantunya meminum air tersebut.

Vegas meletakkan botol minum tersebut dimeja terdekat. Mengecup bibir Pete lama dan memposisikannya kembali seperti semula. Pete masih tak bergeming. Pikirannya masih beku. Dadanya terasa sakit.

"Aku pergi Pete. Akan kukabari segera" Vegas mulai melangkah mendekati pintu. Namun berhenti ketika mendengar suara Pete yang bergetar.

"Aku mohon. Selamatkan ayah dan ibuku, Vegas" mata merahnya menatap Vegas penuh harap.

-----

Pria dengan jubah putihnya asik memperhatikan layar komputer didepannya. Memperbesar gambar yang berada disana dan mengerinyit. Ketukan pun mulai terdengar dari pintu ruangannya. Matanya menatap orang yang baru saja masuk dan langsung duduk dihadapannya.

"Tuan Pete? " dokter tersebut mengerinyit heran. Seingatnya pria dihadapannya bukan Pete.

"Bukan. Saya suaminya. Bagaimana keadaan ayah dan ibu dok? " Vegas meletakkan tangannya diatas meja dan menangkupkan kedua telapak tangannya. Sedikit was was terjadi hal yang tidak diinginkan. Bagaimanapun Vegas sangat menyayangi ayah dan ibu.

"Suami? Kenapa bukan Tuan Pete yang kesini? " tanya dokter tersebut heran. Seingatnya beberapa hari yang lalu Pete masih di thailand dan kondisinya baik baik saja. Ya meskipun malam itu dia terlihat sangat kacau.

"Ada masalah jika saya yang datang? " sengit Vegas. Apa apaan dokter ini menanyakan istri orang. Vegas tak suka.

"Oh bukan begitu Tuan. Saya hanya ingin memastikan informasi yang akan saya berikan dapat dimengerti oleh pihak keluarga dengan baik, bukan melalui pihak ketiga"

"Saya suaminya dan menantu mereka. Saya bukan orang ketiga disini. Apakah anda memang dokter? Kenapa mengurusi keluarga orang lain! " Vegas sedikit emosi mendengar ucapan dokter didepannya. Dimana letak tata kramanya!

"Maafkan saya sudah membuat anda tersinggung. Perkenalkan saya Pavel Phoom, saya dok-"

"Siapa? Pavel? "

"Ya, saya Pavel, Tuan. "

"Oh! Ini ternyata bajingan yang berani berani merebut istriku? Dan sekarang apa? Kau menangani orang tuanya? Kau mau merebut mereka dariku heh? Kau pikir kau siapa?! " Vegas menggebrak meja Pavel dengan keras. Matanya menatap marah kearah Pavel. Setelah 2 hari dia mencari identitas selingkuhan istrinya, dia hanya memperoleh biodata tanpa satupun foto. Dan see, dia bertemu ular berbisa ini disini.

Vegas melupakan tujuannya untuk mengetahui kondisi orang tua Pete.

"Tuan. Anda salah paham. Kami tid-"

"Heh. Jangan mengelak dokter Pavel Phoom. Aku tau kau sudah menghoda istriku. Kau! Jangan coba mendekati Pete lagi! Ingat itu. Atau kau akan tau akibatnya" Vegas berlalu keluar ruangan dan membanting pintu dengan keras, meninggalkan Pavel yang memejamkan mata mencoba mengontrol emosinya.

"Sial! Bajingan! " Pavel menggebrak mejanya kesal. Dia juga bukan orang yang sabar asal kalian tau.

-----

Vegas berjalan menuju ruangan direktur Rumah Sakit Medical Centre. Langkahnya terburu buru dan tak beraturan. Marahnya belum reda. Dia ingin memukul Pavel sekarang juga tapi dia ingat harus mengurus ayah dan ibu terlebih dahulu.

Vegas membuka pintu dihadapannya tergesa. Matanya menangkap siluet sepupunya yang asik mewarnai kukunya.

"Oi Khun. Aku ingin mengganti dokter untuk ayah dan ibu! Aku tak ingin mereka di rawat oleh Pavel! " Vegas berdiri berkacak pinggang didepan sepupunya yang masih sibuk bersenandung dan mengolesi kuku kakinya.

"Kau mendengarku?! " Vegas menendang kursi yang diduduki oleh Thankun. Kesal karena sepupunya tak menanggapi omongannya.

"O oih! Kukuku jadi jelek! Dasar Vegas bodoh! Jangan ganggu aku jelek! " Thankun meraung marah. Kuku kakinya belepotan karena ulah Vegas.

"Ganti dokter untuk ayah dan ibu! "

"Tsk. Pavel itu dokter bedah terbaik disini. Aku tau yang kecelakaan adalah mertuamu makanya kuberikan dokter terbaik kami. Dan dokter bedah lain saat ini sibuk. Mereka pergi ke Inggris untuk seminar! " Tankhun melirik tajam sepupu jeleknya. Tak habis pikir kenapa bisa ada orang jelek seperti ini dunia. Kasihan Pete.

"Argh! Aku akan pindahkan mereka kerumah sakit lain! "Vegas mulai beranjak dari posisinya.

"Oi Vegas! Mereka harus segera ditangani. Berdasarkan hasil operasi pertama mereka mengalami banyak pendarahan dalam di organ. Ginjal ibu Pete bocor dan sudah terinfeksi. Paru paru ayah juga sama. Mereka harus segera mendapatkan transplantasi organ. Rumah sakit lain tak akan mengijinkan kalian menyalip antrian. Kusarankan mereka tetap dirawat disini. Tapi ya terserah kau. Karena kau bodoh kau pasti akan membawanya. Apa yang bisa kuharapkan dari sepupu bodoh sepertimu? " Tankhun memang sedikit nyentrik dan aneh. Walau begitu dia adalah dokter syaraf yang hebat. Wajar saja Tuan Korn -ayahnya Tankhun- mempercayakan anak gilanya ini mengurus rumah sakit besar ini.

"Sial! " Vegas memukul tembok di hadapannya tidak terima.

"Berikan yang terbaik untuk ayah dan ibuku. Aku pergi"

"Kau harus membayarnya dengan membelikan jet pribadi okey? " Tankhun bersorak sebelum Vegas keluar dan menghempaskan pintunya.

-----

Aku memarkirkan mobilku di garasi rumah. Menuruni mobilku dan mulai berjalan memasuki rumah. Aku melihat ada sepasang sepatu yang familiar di rak sepatu. Hah.. Apakah dia tak bekerja? Selalu saja mengusikku.

Aku masuk melewati ruang tamu yang sepi. Tak melihat seorangpun disana. Aku sedikit bingung. Aku melihat sepatu Us disana tapi tak menemukan orangnya.

Aku terus berjalan dan menaiki tangga menuju kamarku. Membuka pintu hati hati takut mengganggu Pete yang mungkin saja sedang tidur. Aku terkejut melihat Us yang sedang menyuapi bubur pada Pete.

"Apa yang kau lakukan disini Us? " aku berjalan menuju kasur yang berisikan Pete yang bersender pada kepala ranjang. Aku mengecek keadaan Pete dan mengusak rambutnya sayang.

"Kau baik sayang? Ada yang kau butuhkan? " Aku duduk di tepi ranjang dan memegang kedua tangan Pete. Menatap matanya dengan lembut. Pete hanya menggeleng lemah dan memilih menatap keluar jendela.

"Aku ingin menemuimu dan mengajak keluar untuk makan. Kupikir kau dikamar tapi malah menemukan Pete. " Us meletakkan mangkuk bubur yang sudah habis setengah ke meja disebelah ranjang dan kembali duduk diposisinya semula di tepian ranjang sebelah Vegas.

"Kau bahkan tak memberi Pete makan Vegas. Apa kau benar suaminya? " cibir Us sambil menggoyangkan kakinya.

"Maafkan aku Pete. Aku terburu buru ke rumah sakit" Aku memegang dagu Pete dan memutar kepalanya menghadapku. Matanya menatapku datar dan sedikit menganggukan kepala. Tanda bahwa dia tidak apa apa.

"Vegas. Ayo pergi. Baby menginginkan pizza hari ini. " Us memegang tanganku dan mulai menariknya. Aku menepis kasar tangan Us yang lancang memegangku dihadapan Pete. Istriku tengah teebaring sakit dan Us masih berani memegang tanganku? Yang benar saja!

"Pergilah Vegas. Aku tak apa" Pete akhirnya membuka suara. Tapi aku tak suka. Kenapa itu yang dia katakan pertama kali? Aku ingin menemaninya! Bahkan pekerjaanku ku tinggalkan untuk merawatnya 2 hari ini.

"Tapi- "

"Ayolah Vegas. Pete sudah mengijinkan" Us kembali menarik tanganku dan berjalan menuju pintu.

"Tu-Tunggu. Us, aku minta maaf sebelumnya. Bisakah kau keluar lebih dulu sepuluh menit? Ada yang ingin kutanyakan pada Vegas. " aku tersenyum senang. Aku tau dia ingin bersamaku lebih lama. Oh aku makin mencintainya!

Aku melepaskan pegangan tangan Us dan melangkah kembali kearah Pete. Us juga meninggalkan ruangan tanpa protes.

"Ya sayang. Aku disini" aku mengusap pipi Pete dan memeluknya kedalam dekapanku. Rasanya sangat nyaman seperti ini. Tubuhnya terasa sangat pas ditubuhku. Wangi dan suhu tubuhnya pun sangat terasa nyaman ditubuhku.

"Vegas aku ingin bertanya mengenai ayah dan ibu. Apa yang terjadi pada mereka? " Pete menarik dirinya dari pelukanku. Tangannya meremas tepian selimut dengan sedikit bergetar.

Kutangkup pipinya yang sedikit gembul. Mengusapnya lembut dengan ibu jariku sekedar memberikan rasa tenang.

"Ayah dan ibu pagi ini akan berangkat ke gereja. Namun ada truk  berlawanan arah dan menabrak mobil mereka- sstt... ssttt... Jangan menangis okey? Mereka sekarang baik" Pete menganggukkan kepalanya lucu. Tangannya menyeka air mata yang mulai jatuh dipipinya.

"Aku hanya menceritakan kejadiannya. Ini sudah berakhir dan kau tak perlu takut sayang. Aku lanjutkan ya.. Ayah dan ibu kecelakaan dan segera dilarikan ke UGD. Kemudian mereka diberikan pertolongan pertama dan harus segera dioperasi. " aku menghentikan penjelasanku. Pete kembali menangis. Aku tak tega. Ku kecup kedua matanya dan ku jilat air matanya yang masih mengalir. Pete sedikit terkejut dan air matanya berhenti. Kutatap wajahnya yang memerah malu. Aku yakin bisa hidup hanya dengan melihat wajahnya saja.

"Tankhun mengatakan ginjal ibu dan paru ayah sudah terinfeksi. Dan harus segera menemukan donor" mata Pete kembali berkaca kaca. Pasti sangat berat mendengarkan orang tua yang disayangi tengah diambang kematian.

"Vegas.. Kumohon.. Hiks.. Selamatkan ayah dan ibu.. Kumohon" Pete mengambil tanganku dan memegangnya erat. Mengecup punggung tanganku berkali kali sambil terus memohon. Punggung tanganku mulai basah karena air matanya. Punggungnya bergetar hebat. Peteku yang malang. Aku merengkuhnya kedalam pelukanku dan mengusap punggungnya yang masih bergetar. Isakannya lolos dan mengiris hatiku. Aku tak ingin milikku ini bersedih. Dia terlalu berharga.

"Pasti. Pasti aku akan membantumu. Aku akan menolong ayah dan ibu, Pete" isakan Pete mulai reda. Pete mulai mengontrol tangisannya dan melepaskan pelukanku.

"Pergilah Vegas. Kasian Us menunggumu diluar. " Pete menatap mataku sayu. Tangannya sedikit mendorongku menjauh agar segera pergi menemui Us.

"Baiklah. Aku pergi dulu. Kalau butuh apa apa telpon saja aku. " aku mengecup kening Pete dan berjalan keluar kamar.

Pete hanya bergumam dan memilih menatap keluar jendela lagi.

-----

Pete merebahkan badannya diatas ranjang dan meringkuk ke arah jendela. Tangannya memeluk erat perutnya dan memberikan usapan disana. Bibir bawahnya ia gigit sekuat tenaga agar tak mengeluarkan suara. Dia menangis lagi. Mempertanyakan dirinya sendiri. Mungkinkah ia pernah dikutuk? Sampai sampai takdir mempermainkannya seperti ini.

Orang tua yang disayanginya kecelakaan. Bahkan hampir kehilangan nyawa pagi ini. Dan dia hanya di kamar ini tanpa berbuat apa apa. Menggantungkan harapannya pada Vegas. Lelaki bajingan yang sangat ia benci saat ini.

Benar kata Us. Pete seharusnya tak bersama Vegas. Bahkan Vegas terlihat memanjakan Us seperti yang Pete inginkan. Vegas menuruti semua keinginan Us dan menerima bayi dalam kandungannya.

Sedangkan untuk Pete. Vegas malah menuduhnya berselingkuh dan memiliki anak dengan orang lain. Dia tak mengakui anaknya yang ada pada Pete. Ia dipukuli, disiksa hingga pingsan. Seperti tahanan.

Pete menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya dan kemudian mengusap perutnya pelan.

"Kuatkan papa nak"

TBC

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FORTPEAT - SURROGATE 2🔞

FORTPEAT - JINX - 16 🔞

FORTPEAT - RARE SPECIES - 5 🔞