VEGASPETE - AGREEMENT - 8

 Pete mengemudikan mobilnya tanpa arah. Badannya masih bergetar. Tak menyangka jika Vegas akan sekasar ini padanya. Bibir bawahnya sudah mulai terluka karena sang pemilik menggigitnya dengan kuat. Padahal dia hanya sendiri dimobil tapi tak mau ada isakan yang lolos. Dia tak mau di cap lemah yang hanya bisa menangis. Bagaimanapun dia seorang pria. Dia memiliki harga diri. Pete tak terima diperlakukan seperti itu. Bahkan posisinya adalah suami sah disini, bukan kekasih. Bukankah sepantasnya dia marah pada Vegas yang notabenenya adalah suaminya sendiri dan tengah beradegan intim dengan pria lain. Dan mereka melakukannya dirumahnya!! Damn! Dia menikahi iblis rupanya.

Pete sekarang tak tau akan kemana. Tak mungkin ia kembali kerumah ayah dan ibu sekarang. Penampilannya begitu mengkhawatirkan. Ia tak mungkin meminta tolong pada temannya. Mereka pasti sibuk. Atau bisa jadi sudah tidur. Tak ada yang mau diusik tengah malam begini.

Pete menepikan mobilnya di ujung jembatan yang memanjang jauh melintasi sungai Chao Phraya. Jembatan Rama VIII. Dia tak punya tujuan. Melihat kelap kelip lampu yang menemani jembatan tersebut pada malam hari mengundangnya untuk mampir.

Pete kemudian turun dari mobil dan berjalan lambat menyisir tepian jembatan. Suhu malam bangkok yang biasanya jarang dibawah 25 derajat tampaknya lebih dingin hari ini. Dinginnya seperti berkunjung ke negara bersalju.

Pete menyakukan tangannya disaku celana. Tak berani mengeluarkannya karena terlalu dingin. Dia memang menyukai dingin. Tapi tidak seesktrim ini. Tapi bagaimana lagi. Dia tak memiliki tujuan sekarang. Menatap riak rendah sungai untuk menenangkan kekalutan pikirannya tidak buruk sepertinya.

Setelah sampai ditengah jembatan, Pete berbalik menghadap pagar pembatas jembatan. Pete melihat pagar tersebut lumayan kokoh. Dengan keberanian penuh dia menaiki pagar tersebut. Hari sudah malam, tak akan ada yang menegur pikirnya. Jadilah dia menatap sungai secara lebih jelas.

Pikirannya mulai masuk kedalam riak sungai yang bergerak maju. Lama kelamaan sungai tersebut memperlihatkan kejadian yang tak sampai sejam lalu terjadi. Matanya kembali memanas dan air mulai membendung dipelupuk matanya. Badannya bergetar. Satu tangannya memegang tiang penyangga jembatan. Isakannya lolos. Dia bahkan tak ingin terlihat kuat sekarang. Hatinya berteriak agar bebannya terangkat. Sudah terlalu berat rupanya. Isakan pilu tersebut lama lama berubah menjadi raungan hingga teriakan.

Pete terduduk tak kuat menahan tubuhnya yang lemas. Tangannya terulur memeluk lututnya. Menenggelamkan kepala diantara lutut dan kepala. Ia hanya mampu merengkuh dirinya sendiri. Mencari penenang diantara pelukan yang ia buat sendiri.

Dia tak bisa mengadukan apapun pada siapapun. Dia tak mau disalahkan dan menyalahkan. Dia hanya ingin hidup biasa dan normal. Mencintai dan dicintai layaknya orang pada umumnya. Apa itu hal yang sulit terjadi padanya? Apa mungkin takkan pernah terjadi?

Tak apa. Hidup memang tidak ada yang lurus. Bahkan jalan pun memiliki belokan. Tapi dia harus memastikan bahwa anaknya akan hidup seperti seharusnya. Dapat mencintai dan dicintai selayaknya.

Tangannya mulai menelusup dicelah paha dan perutnya. Mengusap perutnya dan memberi ketenangan bagi janin disana. Mengatakan bahwa anak itu harus menjadi pribadi yang tangguh namun penuh belas kasih, menjadi pribadi yang kuat pendirian namun menyenangkan. Tak seperti papanya ataupun- Daddynya. Dia harus lebih baik dengan versinya sendiri.

"Apakah persiapan bunuh diri biasanya memang lama? Kau sudah berdiri disana selama 20 menit. " suara berat memecah percakapan antara ibu dan anak tersebut. Pria tersebut menekan tombol diatas stopwatchnya dengan badan yang bersender pada pagar pembatas dan menaruh kedua sikunya diatas pagar tersebut.

Pete mengusap wajahnya yang sudah basah dengan cepat. Kemudian turun dengan sedikit meloncat dan berjalan menuju mobilnya. Tak berniat menanggapi omongan pemuda tersebut.

Pete tiba tiba teringat apartemen yang ia diami sebelumnya. Kenapa dia tak memikirkan ini dari tadi? Oh tunggu, jika dia kesana Vegas akan mudah menemukannya. Ia tak ingin bertemu Vegas. Tapi apa ia terlalu percaya diri Vegas akan mencarinya? Pete mendesah. Vegas tak akan mencarinya. Toh dengan jelas Vegas telah memilih Us dibanding dirinya.

Hmm.. Tapi, Pete rasa dia lebih aman di hotel, wisma atau semacamnya. Dia bahkan tak membawa ponselnya untuk menghindari yang tidak dia inginkan.

"Hei bocah! Apa kau besok tidak ada kelas? Tak baik keluyuran malam malam seperti ini. " suara berat itu kembali menarik Pete dari pertarungan pikirannya. Pete memutar bolanya malas. Kenapa dia harus bertemu pria sok tau seperti ini.

Pete menatap tajam pria yang mulai berjalan disampingnya. Menampakkan dia tak ingin diganggu sekarang.

"Ohoi! Bocah! Kau mengabaikanku? Atur matamu! Tidak sopan menatap orang yang lebih tua seperti itu! " pria itu mendelik berlagak marah. Wajahnya dibuat buat sangar menakut nakuti Pete.

Pete yang melihat itu hanya menatap jengah pria tersebut. Apa apaan dia. Pete berani jamin bahkan umurnya jauh dibawah Pete.

"Maaf phi. Saya permisi" Pete memberikan salamnya pada pria disampingnya. Hanya melanjutkan skenario saja, tak lebih. Pete berjalan dengan kesal dan menghentak hentakkan kakinya. Sesampainya dimobil Pete mengecek dompetnya yang berada dilaci dashboard. Bagaimanapun dalam pelarian kau harus mempunyai uang tunai. Akan berbahaya jika menggunakan kartu kredit ataupun debit.

Helaan berat keluar dari mulut Pete. Sudah berapa desahan yang ia keluarkan hari ini? Katanya jika terlalu sering dapat memperpendek umurmu! Dia masih mau hidup! Setidaknya untuk melihat anaknya tumbuh dan berkembang. Tapi bagaimana bisa dia tidak mendesah, bahkan dompetnya mengkhianatinya. Dia tak memiliki uang tunai sepeserpun. Terkutuklah kebiasaannya yang suka menggunakan kartu!

Pete kemudian menutup pintu mobilnya dan melaju mendekati pria yang mengganggunya tadi. Pete memberhentikan mobilnya dan menurunkan kacanya.

"Hei phi. Boleh bicara sebentar? " Pete menyoraki pria yang asik dengan rokoknya tersebut. Mata tajam pria itu melirik kearah Pete.

Pria tersebut menggerakkan kepalanya mengangguk seperti memberi izin Pete untuk bertanya.

"Apakah kau memiliki uang 5000 baht phi? " pria tersebut mendekati mobil Pete setelah mendengar pertanyaan Pete. Menaruh tangannya diatas mobil dan memasukkan kepalanya sebatas jendela mobil dan menyebabkan Pete memundurkan kepalanya sedikit.

"Berani sekali kau meminjam uang pada sembarang orang. Kau tidak takut kalau aku rentenir heh? Atau bisa jadi aku melakukan human trafficking? " pria itu tersenyum miring kearah Pete. Pete sedikit takut jika pria ini memang seperti yang dikatakannya. Wajahnya memang meyakinkan untuk melakukan hal tersebut.

"Hmm. Orang jahat tak akan menyebut dirinya jahat phi. Jadi pinjamkan aku uang. Aku akan menggantinya dua kali lipat" Pete mencoba memberanikan diri. Dia butuh uang sekarang. Dan pria ini sepertinya mampu meminjaminya. Hanya saja wajahnya seperti kriminal.

"Tsk. Berani juga kau. Berapa yang kau butuhkan bocah? "

"5000 baht" sudah jelas tadi dia mengatakan nominalnya. Apakah pria ini tuli? Pete mencoba menahan mulutnya untuk tidak mengumpat.

"Berikan tanda pengenalmu atau apalah. Yang jelas ada kontak yang bisa aku hubungi untuk menagih hutangmu"

"Aku akan memberikanmu kontakku. Tunggu sebentar. " Pete menarik salah satu kertas yang ia dapat di laci dashboard dan menuliskan nomor ponselnya disana.

"Ini" Pete menjulurkan kertas yang sudah berisikan nomor ponselnya pada pria tersebut. Pria tersebut segera mengambil kertas itu dan tersenyum remeh.

"Kau kira aku percaya ini nomormu? Jangan mengelabuiku bocah! Berikan yang lain. Yang lebih resmi" pria itu membalas sambil mengantongkan kertas tadi

"Itu sungguh nomorku. Kalau tidak perca-" Pete menepuk dahinya. Dia lupa kalau ponselnya masih dirumah.
"-Ugh! Baiklah. Ini kartu namaku. Kau bisa menghubungi nomor itu. Sekarang berikan 5000 bahtku" Pete menarik kartu namanya dari dompet dan menyerahkannya pada pria tersebut.

"Pete Jakapan Puttha. Baiklah." Pria itu merogoh sakunya dan menarik dompetnya keluar. Mengeluarkan beberapa lembar uang tunai dan memberikannya pada Pete.

"Oh. Ini terlalu banyak phi. Aku hanya meminta 5000"

"Kau mau atau aku ambil semuanya?"

"Tunggu tunggu. Aku mau. Akan aku kembalikan dua kali lipat. Terimakasih phi" Pete memberikan salamnya pada pria tersebut. Dan mulai menaikkan kacanya.

"Pavel. Lain kali biasakan bertanya nama orang sebelum kau meminta uang" pria yang memperkenalkan namanya sebagai Pavel itu berjalan menjauh mendekati motor Ducati bercorak merah putih.

Dua kendaraan tersebut saling melaju namun berlawanan arah. Menghilang ditikungan dan meninggalkan jembatan tersebut dalam kesunyian

-----

Vegas menatap layar ponselnya. Sudah pukul 6 pagi. Vegas menggerakkan badannya hati hati dan mulai bersandar dikepala ranjangnya. Dia melirik lelaki disampingnya yang masih tertidur pulas. Sudah 3 jam sejak persetubuhan panas mereka, wajar saja Us masih merasa lelah. Vegas teringat pada Pete. Untuk pertama kalinya dia membentak dan menyakiti pria kecilnya. Vegas tak tau setan apa yang merasukinya tadi malam. Matanya seperti terselimuti marah dan nafsu. Vegas menatap tangannya yang ia gunakan untuk menampar Pete. Menatapnya penuh penyesalan. Apakah ia memang seperti ini? Memorinya kembali berputar mengingat keadaan Pete tadi malam. Wajahnya yang dipenuhi air mata. Pipinya yang merah bekas tamparannya. Bahkan kepalanya terlihat berdarah. Kenapa dia berubah menjadi monster seperti ini

Dia menyesal telah menyakiti kepunyaannya. Hatinya memberat.

Vegas kemudian menuruni kasurnya. Berjalan menuju walk in closet dan mengambil baju baru. Dia harus menemui Pete dan meminta maaf. Dia tidak akan menggunakan baju yang sudah dipenuhi sperma dan keringat sisa bercinta dengan Us semalam. Dia harus menghargai perasaan Pete.

Vegas berjalan keluar kamarnya menuju kamar Pete. Namun ia sedikit terkejut melihat kamar Pete yang tidak tertutup. Apakah Pete lupa menutup pintu? Vegas sedikit berlari masuk ke kamar tersebut. Dia tak melihat Pete disana. Ia mencoba mengecek kamar mandi. Pete pun juga tidak disana. Vegas mulai menelpon Pete. Berharap Pete segera mengangkatnya.

Drrtt Drrtt

Vegas mendengar getaran ponsel dari arah kasur. Tangannya menyibak selimut dan menemukan ponsel Pete disana. Shit! Kemana Pete?! Kenapa dia selalu memancing kemarahannya?! Vegas berlari menuruni tangga dan mengecek dapur. Pete juga tak disana. Vegas berlari kesetiap ruangan dirumahnya. Nihil. Tak ada seorangpun disana.

Vegas kemudian menelpon orang suruhannya. Memerintahkan orang disebrang sana untuk mencari Pete. Sorot matanya kembali marah. Napasnya menggebu gebu. Dia tak suka kepunyaannya tidak bersamanya. Pete miliknya dan seharusnya dia dirumah! Bukan kabur seperti ini! Vegas meremas erat ponselnya. Kemudian membanting ponsel tersebut ke dinding sehingga pecah menjadi beberapa bagian

-----

Aku menyesap kopi soreku. Kemudian kembali fokus pada laptopku melihat email-email kerjasama dari kolegaku dan membandingkannya dengan draft atau laporan yang telah mereka kirimkan. Sesekali aku mengerinyit heran melihat beberapa angka yang tak sesuai dengan kesepakatan kami. Aku beralih pada ponselku dan menghubungi kolegaku terkait hal yang sedikit janggal. Mendiskusikannya beberapa saat dan berujung aku yang memenangkan perdebatan. Sudah kubilang bukan aku perfeksionis.

Tanganku mulai menandatangani dokumen dokumen yang sudah sesuai dengan keinginanku dan standar perusahaan. Menyisihkan beberapa dokumen yang harus diperbaiki. Kemudian aku melanjutkan mengecek laporan perusahaan. Menelaah isi laporan tersebut sambil mengetuk ngetukkan pena di mejaku. Sesaat kemudian aku memanggil sekretarisku melalui telpon kabel yang berada dimejaku agar masuk keruanganku.

Dua ketukan terdengar dipintu ruanganku. Kemudian pintunya terbuka yang memperlihatkan sekretarisku. Tem. Tem berjalan dan sedikit membungkukkan kepalanya menyapaku hormat.

"Tem. Disini tertulis kalau pengiriman alat ini akan dikirimkan bulan depan. Bukankah pada rapat minggu lalu sudah aku katakan harus dikirim minggu ini? " aku mendorong laporan yang ada dimejaku kearah Tem sambil menunjuk letak tulisan tersebut.

"Ya Khun. Seharusnya memang dikirimkan dalam minggu ini. Namun dua hari lalu terjadi sedikit kendala di Phoom Express. Sehingga baru dapat dikirimkan bulan depan atau sekitar satu minggu lagi Khun. "

"Apa yang terjadi? Mereka tak pernah semengecewakan ini"

"Presdir dari Phoom Group baru saja menunjuk anak sulungnya menjadi direktur utama Phoom Express. Sehingga peresmian tersebut menyebabkan beberapa hal ditunda dan keterlambatan diberbagai sektor pengiriman Khun"

"Bukankah anak pertamanya dokter? Dia tak memiliki skill sama sekali dibidang ini. Ini tidak baik. Kau harus mengamati ini dengan baik Tem. Jika merugikan, kita akan membatalkan kerjasama kita. Kau boleh kembali" Aku mengambil dokumen tersebut dan menandatanganinya. Sedikit heran dengan keputusan Presdir Phoom menunjuk anaknya mengambil alih salah satu anak perusahaannya. Seorang dokter akan berbisnis? Yang benar saja.

Sedikit mengenai perusahaanku. Tidak. Sebenarnya aku hanya melanjutkannya dari papa. Perusahaan yang bergerak di bidang properti dan real estate ini dibangun dan dirintis oleh papaku. Perusahaan ini sudah papa percayakan padaku sejak 5 tahun yang lalu. Tepat setelah aku menyandang gelar sarjanaku. Aku memang sedikit lebih cepat lulus dibanding teman temanku.

Aku tak mau hanya bergantung pada bisnis papa. Jadi aku juga sudah merintis bisnis showroom mobil dan sekarang sudah meraih untung yang sangat besar. Showroom mobilku sudah memiliki banyak cabang yang tersebar di Thailand. Sehingga kadang kadang aku harus berkeliling Thailand selama seminggu untuk turun langsung mengecek perkembangannya.

Papa juga sudah menyiapkan beberapa perusahaan lain untuk dikelola oleh Macau. Adikku. Tidak semua. Hanya salah satu yang akan dipercayakan padanya. Tapi harus menunggu sekitar setahun lagi hingga hari kelulusannya.

Aku kembali berkutat dengan laptopku dan mengecek beberapa email yang belum sempat kubaca. Kurasakan ponselku bergetar diatas meja. Aku melihat nama penelpon dan langsung mengangkatnya.

"Sudah ketemu?"

"..."

"Terus awasi"

"..."

"Tidak. Biarkan dia pulang sendiri. Awasi saja"

Aku mematikan ponselku. Memutar kursiku menghadap jendela besar diruanganku. Ck, kau kira akan mudah pergi dariku Pete? Ingat, kau sudah dalam genggamanku. Tali pengerat lehermu didalam tanganku. Jangan harap bisa lepas Pete!

Aku menyesap nikotin yang baru saja ia ambil dari kotak rokoknya. Menikmati asap yang mulai memenuhi paru parunya.

-----

Kinn menggulirkan jarinya keatas dan kebawah memeriksa pesan dan beberapa kerjaan melalui tabletnya. Waktu adalah uang. Memang betul kata pepatah. Sambil menunggu kedatanagan clientnya, Kinn dapat menyelesaikan beberapa pekerjaannya.

Tok Tok

Ketukan dimeja makannya mengejutkan Kinn. Terlihat Porsche mengenakan kemeja coklat dengan dua kancing terbuka diatasnya serta denim putih memanjang dikakinya. Kinn sedikit terkesima melihat Porsche.

"Maaf saya sedikit terlambat. Bangkok lumayan macet hari ini" Porsche mendudukan dirinya didepan Kinn dan mulai mengeluarkan lembaran dokumen yang ia bawa.

"Oh tak apa. Bahkan tak sampai 5 menit. Maaf aku ingin bertanya, bukankah seharusnya Baifern yang datang? " Kinn menaruh tabletnya disisi meja makan dan menatap Porsche.

"Maaf mengecewakan anda karena saya menggantikan Baifern hari ini. Tapi dia hari ini sakit, dan hanya saya yang bisa menggantikan. Tapi kalau anda keberatan dengan ini, saya bisa menun-"

"Tidak. It's okay.  Kau paham bukan itu maksudku Porsche" Kinn memotong pembicaraan Porsche yang tampaknya salah paham. Tangannya menahan pergelangan tangan Porsche yang mulai mengemasi barangnya kembali.

Porsche menatap Kinn datar dan melepaskan pegangan tangan Kinn.

"Baiklah. Ini rancangan acara runway yang rencananya akan kami gelar di hotel anda. Dan ini merupakan model pakaian yang akan ditampilkan beserta nama nama model yang terlibat. " Porsche berbicara panjang lebar menerangkan konsep, durasi hingga jumlah tamu untuk runway yang akan dilaksanakan boutiquenya. Porsche kemudian menatap Kinn setelah selesai dengan bagiannya.

"Anda mendengarkan saya Khun?" Porsche menyilangkan tangannya didepan dada. Menatap tak suka kearah Kinn yang malah sibuk bermenung.

"Ya. Tapi apa kau tak terlalu terburu buru Porsche? Pesanlah makanan dan minuman terlebih dahulu. Atau perlu aku pesankan? " Porsche menghela napas berat. Dia sudah menerangkan isi dokumennya dengan sangat panjang namun malah dibalas dengan penawaran makan? Itu adalah attitude yang baik tapi tidak setelah ia selesai menerangkan kerja sama mereka.

"Bisakah kita kembali fokus beker- Hei Pete! " tak sengaja mata Porsche menangkap siluet Pete yang baru saja keluar dari lift hotel. Kinn kemarin memang menyarankan pihak boutique untuk mengadakan meeting disini. Karena hotel ini memang milik Kinn, selain itu Porsche juga ingin melihat ballroom tempat pameran akan diadakan.

Pete yang mendengar sorakan namanya segera memutarkan tubuhnya mencari sumber suara. Mata Pete melihat Porsche yang duduk disalah satu meja bersama dengan seorang pria. Dia seperti kenal postur tubuh itu.

Pete berjalan mendekat dan mendapati Kinn dan Porsche yang tengah -ehem- berduaan.

"Apa ini? Kalian balikan? " Pete menyipitkan matanya curiga kearah Porsche dan Kinn. Mendudukan dirinya diantara pasangan tersebut.

"Tidak bodoh! " Porsche memukul kepala belakang Pete. Mereka baru bertemu setelah sekian lama dan ini yang pertama kali dia ucapkan? Dasar setan!

Kinn hanya tersenyum mendengar pertanyaan Pete.

"Aku tak masalah kalau temanmu mau"  Kinn menatap Porsche dengan menaik turunkan alisnya. Porsche hanya membalasnya dengan tatapan sengit. Dasar bocah tua genit!

"Oh. Kenapa kau ada disini Pete? " Porsche kembali menghadap Pete. Mengerutkan dahinya bingung.

"Ehm.. Itu.. Aku.. " Pete tak tau harus menjawab apa. Ia tak memiliki alibi. Otaknya masih lambat berproses karena baru bangun.

"Sudah berapa hari? " sela Porsche

"Hah.. Ini hari ketiga" balas Pete berat. Dia tak mau menambah pusing Porsche sebenarnya. Tapi Porsche sudah hapal dengan sifat temannya satu ini. Pete adalah orang yang suka menghindari masalah. Jadi Porsche yakin Pete sedang kabur saat ini.

"Pulanglah Pete. Selesaikan masalahmu dengan baik. Jangan seperti ini terus" Porsche mengusap punggung Pete yang sudah melengkung membungkuk. Porsche memandang Pete kasihan. Direngkuhnya sahabatnya itu dalam pelukan hangat. Pete kembali menangis dipundak Porsche.

Sebenarnya dia sudah tak ingin menangis lagi. Tapi ketika ia mendapatkan pelukan hangat yang menguatkannya membuat hatinya menghangat. Dia merasa ditemani. Merasa disayangi. Sehingga ingin rasanya membagi bebannya dengan Porsche.

Porsche menarik dirinya dari pelukan mereka. Mengangkat tangannya kearah pipi Pete dan mengusap air mata yang mengalir disana.

"Ayo pulang, aku antar"

Porsche mengambil tasnya dan mulai menarik Pete berjalan.

"Oh iya. Khun Kinn. Silakan baca dokumen tersebut. Jika ada yang tidak sesuai silahkan hubungi Baifern. Saya pamit" Porsche kembali berjalan meninggalkan Kinn yang termenung tak paham dengan situasi yang baru saja terjadi.

-----

Setelah seharian berputar dan jalan jalan, Pete juga sedikit menceritakan beban dihatinya kepada Porsche. Dia tak membicarakan kejadian yang berhubungan dengan Us. Dia hanya membicarakan kehamilannya dan takut Vegas tak menerimanya jika mengetahuinya. Pete tau Porsche terlalu peduli padanya dan bisa menghajar Vegas jika tau ada Us di dalam pernikahan mereka.

Porsche kemudian menguatkan Pete jika Vegas pasti menerima itu dan akan turut berbahagia. Mendukung Pete agar segera memberitahukan perihal anak mereka. Pete hanya mengangguk menyetujui perkataan Porsche. Tapi dia tak yakin akan memberitahu Vegas.

Pete kemudian turun dari mobil Porsche dan berjalan menuju rumahnya. Sekarang sudah malam dan rumahnya masih tampak gelap. Apa Vegas belum pulang? Pete masuk kedalam rumah yang sudah 3 hari tidak ia singgahi. Kepalanya berputar melihat lihat apakah ada orang atau tidak. Jarinya meraih saklar lampu yang berada didekatnya. Menghidupkan semua lampu didalam rumah tersebut.

Semuanya tampak bersih dan rapi seperti biasanya. Tak ada yang mencurigakan. Pete kemudian berjalan menaiki tangga dan membuka pintu kamarnya. Menyentuh saklar lampu dan menghidupkannya untuk menerangi kamarnya. Pete sedikit terperanjat ketika mendapati Vegas yang duduk dikasurnya dan bersender di kepala ranjang.

"Whaa.. Akhirnya istriku pulang. Sudah berapa hari ini? Apa sudah selesai bersenang senangnya sayang?" Vegas tersenyum miring sambil memainkan ponsel didalam genggamannya.

"Bagaimana perselingkuhan pertamamu? Oh tidak. Bagaimana rasanya bayaran pertamamu sebagai pelacur, istriku? " Vegas menuruni kasur Pete dan berjalan mendekat kearah Pete. Vegas meraih salah satu tangan Pete dan meletakkan ponsel yang digenggamnya keatas tangannya.

"Baca! " hardik Vegas.

Pete terkejut dengan suara Vegas sehingga tak sengaja menjatuhkan ponselnya. Tangannya buru buru mengambil ponsel yang terjatuh itu namun gagal ketika Pete merasakan rambutnya ditarik kebelakang. Pete merasakan sangat perih pada akar rambutnya.

Vegas mengambil ponsel Pete dan mengarahkan layarnya kedepan wajah Pete. Pete membaca pesan dilayar tersebut.

Temui aku di hotel Squartz. Ingat kau berhutang padaku

Pavel

"Aku tak berselingkuh Vegas. Dia temanku" Pete berusaha melepaskan cengkraman Vegas pada rambutnya.

Vegas melepaskan cengkramannya pada rambut Pete secara kasar. Menyebabkan Pete jatuh tersungkur diatas kasur. Pete meringis ketika kakinya tak sengaja membentur tepian ranjang.

"Teman? Lalu ini apa hah? Kau berselingkuh dengannya sampai mengandung?! Aku kira kau sangat suci Pete. Tapi kau tak ada bedanya dengan pelacur- "

Plakk

Pete menampar wajah Vegas setelah sukses berdiri kembali. Emosinya sudah sampai diubun ubun mendengar ucapan Vegas yang sangat kelewatan. Dia pikir Pete sama seperti dirinya? Yang suka bermain api dibelakangnya. Bahkan tak hanya dibelakangnya, didepan mata kepala Pete pun dia berani. Vegas merasakan panas menjalar dipipinga. Test pack yang ia pegang diremas dan patah menjadi dua bagian.

"Jaga omonganmu Vegas! Kau tidak tau apa apa tentangku. " Pete menunjuk marah kewajah Vegas. Wajah lembutnya berubah bengis.

Vegas segera memukul Pete tepat dpipinya. Kemudian menendang perut Pete. Pete terhenyak dengan pukulan yang ia peroleh. Tubuh Pete terlempar kebelakang menghantam dinding. Reflek tangan Pete menutupi perutnya ketika melihat Vegas mulai mendekat. Vegas seperti kesetanan kembali memukul Pete bertubi tubi. Sudah banyak lebam terbentuk ditubuhnya. Ada beberapa lebam yang mulai berdarah. Pete meringkuk melindungi perutnya. Tak ingin anaknya terluka. Namun Vegas masih belum selesai. Kakinya menginjak pinggang Pete. Menekannya dengan kuat dan menendang punggung Pete. Tangannya menarik rambut Pete ketengah kamar. Menghempaskan tubuh tak berdaya itu ditengah karpet beludru. Menatap wajah kepunyaannya yang sudah memar dengan bibir yang mulai mengeluarkan darah. Pelipisnya terluka dan hidung yang juga mengeluarkan darah. Vegas menendang kuat perut Pete untuk yang terakhir kali. Menyebabkan napas Pete tercekat dan menutup matanya perlahan.

Rembesan darah keluar dari selangkangnya. Mengotori karpet beludru yang berwarna kuning tersebut. Vegas menatap Pete lamat lamat. Tak ada penyesalan di wajahnya. Vegas merogoh saku celananya dan menelpon dokter pribadinya.

TBC

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FORTPEAT - SURROGATE 2🔞

FORTPEAT - JINX - 16 🔞

FORTPEAT - RARE SPECIES - 5 🔞