VEGASPETE - AGREEMENT - 17

 Pete membolak balikan beberapa dokumen yang ada ditangannya. Matanya terpaku membaca perkembangan kosmetik yang akan diluncurkan 3 bulan lagi. Masih banyak yang harus diperbaiki pikirnya. Beberapa formula tampak menjiplak keluaran lama dan hanya mengganti seri warnanya saja.

Sesekali Pete melirik Venice yang sibuk menghitung jumlah ikan hias yang berada dalam akuarium besar yang berada dalam ruangan Pete. Venice menghitung menggunakan seluruh jarinya. Tapi dia lupa jika hanya hapal sampai angka 10. Sehingga ketika angka sudah melewati angka 10 Venice menggerutu kesal dan mengulangnya dari awal.

Pete menggelengkan kepalanya dan kembali menatap dokumen lain yang bertuliskan dokumen CAPA (Currative Action Prefentive Action) terkait seluruh proses produksi obat dari industri farmasi yang perusahaannya jalankan. Pete tampak mengangguk angguk melihat sedikitnya perbaikan yang harus dilakukan. Sepertinya industri farmasi dijalankan dengan baik.

Kringg

Kringg

Kringg

Telpon kantor yang berada pada meja Pete berdering. Tangannya terulur mengangkat gagang telpon tersebut.

"Ya, halo"

"Selamat siang Khun. Maaf mengganggu waktu anda. Saya ingin mengabarkan jika properti untuk kantor tim administrasi yang anda minta sudah kami cek dan konfirmasi. Namun ada beberapa kendala terkait bangunan sehingga pihak TK Corp meminta anda untuk mendiskusikan hal ini secara langsung Khun" Pete memijit pelipisnya yang sedikit pusing. Pete tau ini akal akalan Vegas yang masih ingin mencari tau mengenai Venice. Sudah beberapa kali ia menghubungi Pete secara pribadi untuk membicarakan hal ini. Jelas Pete akan menolaknya mentah mentah.

Jika ditanya kenapa Pete meminta TK Corp untuk melayani pencarian properti, itu karena bagusnya kinerja mereka. Mereka dapat menemukan properti yang sesuai dalam jangka waktu pendek. Pete bukan orang yang suka membuang buang waktu. Tim administrasi memerlukan satu tempat khusus untuk meningkatkan kinerja mereka. Sehingga Pete harus mendapatkan properti ini secara cepat.

"Jom. Gantikan aku untuk bertemu dengan pihak mereka. Katakan saja jika aku sakit dan tidak bisa bertemu" perintah Pete pada sekretarisnya. Ia tak ingin mengurusi hal yang tidak penting.

"Baik Khun. Saya permisi. " Pete meletakkan telpon tersebut pada posisinya semula. Ia kembali dengan dokumennya dan memeriksa satu persatu. Beberapa dokumen yang memerlukan tanda tangannya iya tanda tangani.

Setelah selesai dengan dokumen tersebut, Pete berjalan ke arah Venice yang sudah menaiki mobil mobilannya yang dapat dikemudikan oleh anak anak seumurannya.

"Baby, Papa lelah. Papa mau suntikan energi" Pete nerentangkan tangannya setelah duduk bersila dikarpet diujung ruangannya. Venice segera turun dari mobilnya dan berlari memeluk Pete erat.

"Oh! Kenapa belum terisi penuh ya? Sepertinya ada yang kurang" Pete menarik kepalanya menghadap Venice dan memanyunkan bibirnya. Venice memegang kedua sisi pipi Pete dan mengecup bibir Pete. Venice terkekeh geli setelah melepas kecupannya.

"Aw! Energi papa sudah meningkat sayang! Lihat! Otot papa semakin besarkan? " Pete berpose seperti binaragawan memperlihatkan lengan kurusnya. Venice tertawa terbahak bahak melihat Pete yang menampakkan wajah serius seperti binaragawan. Pete ikut tertawa dan mulai menggelitiki tubuh Venice.

"Wha.. Anak papa mulai nakal hm? Sudah berani menertawakan papanya ya.. " Venice bergerak acak menghindari tangan Pete yang asik bergerilya disepanjang tubuhnya. Kikikan Venice yang sangat besar terdengar hingga luar ruangan.

Brakk

Pintu ruangan Pete dibuka kasar. Hal tersebut sukses membuat Pete menghentikan aktivitasnya dan melihat orang yang mendobrak pintunya.

"Pete! Kau sakit?! " Vegas berjalan stengah berlari ke arah Pete dan memegang bahu Pete. Menggoyangkan tubuh Pete ke kanan dan ke kiri. Tangannya kemudian memeriksa dahi Pete dan dahinya. Mengecek perbandingan suhu tubuh mereka. Pete memutar bola matanya jengah. Pete menepis tangan Vegas yang berada didahinya.

Venice yang melihat raut tidak suka papanya segera berdiri diantara Vegas dan Pete. Tangannya ia rentangkan dengan membelakangi Pete. Mata bulatnya ia belalakan seperti orang marah kearah Vegas.

"Jangan ganggu papa! " bibir Venice mengerucut lucu. Alisnya menekuk tajam. Wajah marah yang ia buat malah tampak menggemaskan.

"Keluar Vegas. Jangan lancang " Pete menggendong Venice dan berjalan menuju meja kantornya dengan Venice yang masih mempertahankan wajah marahnya yang menggemaskan.

"Pete. Aku hanya ingin bertemu dan berbicara denganmu. Kenapa sangat susah? " Vegas meninggikan suaranya.

Pete memejamkan matanya menahan emosi. Ia tak ingin marah didekat Venice.

"Vegas, silahkan keluar sebelum aku memanggil security" Pete menunjuk pintu yang masih terbuka lebar. Pete menatap sengit Vegas.

"Ingat Pete. Urusan kita belum selesai.  Kau berhutang penjelasan kepadaku" Vegas melangkah keluar dan membanting pintu ruangan Pete.

Pete menghembuskan napas kasar. Dia sangat lelah harus berhubungan terus dengan Vegas. Dia tak tahu harus bagaimana. Dia tak mungkin bertanya pada Porsche apalagi pada Pol dan Arm yang masih berbulan madu sejak 2 minggu yang lalu. Pete belum memberitahu mereka sama sekali mengenai keadaan sebenarnya antara dirinya dan Vegas.

Dia sangat butuh saran seseorang saat ini.

-----

Vegas mengerang frustasi dan memukul kemudi mobilnya. Dia hanya butuh kepastian. Info yang dia peroleh dari informannya sangat abu abu. Sepertinya seseorang menutupi hal tersebut dengan sangat baik. Ia hanya mengetahui Pete sama sekali belum menikah setelah bercerai dari dirinya. Dan tak ada informasi lebih mengenai Venice.

Vegas sedikit berharap jika Venice adalah anaknya. Jika memang benar begitu, maka ia harus bertanggung jawab. Ia akan menarik Pete kembali beserta Venice ke genggamannya. Vegas tak ingin kehilangan Pete untuk kedua kalinya. Pete adalah miliknya. Selamanya.

Namun jika Venice bukan anaknya. Ia dapat menyingkirkan anak itu jika menghalangi jalannya. Vegas tak main main dengan omongannya. Bagaimanapun caranya dia harus mendapatkan Pete kembali.

Getaran ponsel disakunya mengusik lamunannya. Ia melihat nama Us tertera dilayar tersebut. Vegas menghela napas kasar sebelum mengangkat telpon dari Us.

"Ya, ada apa? "

"Hiks.. Daddy.. Dad.. Mom- hiks.. Mommy pingsan.. Huaaa" suara tangisan Siena disana membuat Vegas segera menghidupkan mobilnya. Ia mengapit ponsel tersebut diantara bahu dan telinganya.

"Calm down baby.. Okey? Daddy akan pulang. Hei jagoan, jangan menangis. Anak pintar dengarkan daddy okey? "

"Hmm.. Hiks.. Ya.. " terdengar suara Siena yang mencoba menghentikan tangisannya.

"Baik. Sekarang Siena telpon 911 agar segera kerumah okey? Beritahu mereka jika ada orang yang pingsan dan kau hanya sendiri. Daddy akan sampai dalam 15 menit"

"Hiks.. Baik Dad"

"Okey, anak pintar"

Pip

Vegas melempar ponselnya asal. Dia sangat khawatir mendengar kabar Us. Apalagi Siena hanya sendiri sekarang. Ia mengutuk dirinya yang mengizinkan Jen untuk cuti hari ini.

-----

Vegas berjalan keluar dari ruangan dokter. Kakinya melangkah menuju kamar rawat Us. Hatinya memberat mendengar perkataan dokter nefrologi tadi. Ensefalopati uremikum. Us sudah mengalami komplikasi karena gagal ginjal kronis yang dideritanya. Kata dokter harapan hidup Us hanya tinggal satu bulan lagi jika belum juga ditemukan pendonor yang cocok. Setelah hidup bertahun tahun bersama, Vegas menjadi sedikit peduli dengan Us. Dia rasanya seperti memiliki seorang teman untuk berbagi keluh kesah.

Vegas berdiri di depan pintu kamar. Menatap pintu tersebut sangat lama. Apa yang harus dia katakan pada Us?

Kriett

Pintu kamar disebelah terbuka lebar. Beberapa perawat dan seorang dokter keluar dari kamar tersebut. Fokus Vegas teralihkan melihat wajah yang familiar dimatanya. Pavel. Pavel kemudian mengintruksikan agar perawat yang lain pergi lebih dulu.

"Kenapa? Ada yang perlu kau bicarakan? " suara Pavel sedikit meninggi. Pavel yang merasa ditatap tajam dari tadi berdiri menantang Vegas. Alis matanya terangkat sebelah, angkuh. Pavel rasanya ingin memukul wajah iblis itu sekarang mengingat cerita Pete. Bajingan ini sama sekali tak pantas hidup!

"Cih. Tak ada yang perlu kukatakan pada benalu rumah tangga orang sepertimu" Vegas tersenyum remeh, matanya menatap Pavel dari bawah keatas.

"Sialan! "

Bugh

Pavel memukul Vegas tepat dirahangnya. Emosinya mendadak naik sampai tak bisa ia bendung. Tangannya menarik kerah Vegas dan menyeretnya menuju toilet khusus pegawai.

Vegas yang tak siap dengan pergerakan Pavel terseret mengikuti arah kaki Pavel.

Pavel menghempaskan tubuh Vegas ke dinding dan memukul rahang Vegas kembali.

"Dasar bajingan! Dimana letak otakmu hah?! Kau menuduh Pete berselingkuh?! "

Vegas meludahkan darah yang tergumpal dalam mulutnya kearah Pavel. Darah itu mendarat tepat di pipi Pavel. Vegas tertawa seperti kesetanan, namun sekejap wajahnya berubah menjadi dingin.

"Menuduh? Menuduh katamu?! Bajingan! " Vegas berdiri dari posisinya dan balas memukul Pavel dipelipisnya. Dia menduduki Pavel di dada dan mencengkeram jas putih yang Pavel kenakan.

"Kalian telah membodohiku sialan! Kupikir saat itu diriku salah menuduh kalian berselingkuh. Tapi apa yang kudapat hah?! Aku mendapati Pete yang mengandung anak kalian! Bahkan ketika dia tak pernah aku sentuh dia malah mengandung! Kau masih mau mengelak brengsek?! " Vegas meluapkan amarahnya. Beberapa cipratan darah dari mulut Vegas memercik ke wajah Pavel.

Pavel mendorong Vegas ke dinding. Lengannya ia tahan dileher Vegas agar tak bisa bergerak.

"Kau tak berhak berkata seperti itu tentang Pete, bajingan! Apa kau pernah mendengarnya satu kali saja huh?! Apa kau pernah mengerti dirinya satu kali saja huh?! Jika itu memang anakku tentu aku akan sangat bersyukur. Tapi kenyataannya bukan! Itu anak kau keparat! "

"Wahh.. Kalian memang pasangan yang serasi. Saling membela satu sama lain heh? Kau pikir aku percaya dengan omonganmu?! Cuih! Mimpi saja kau!" Vegas kembali meludahi Pavel.

Pavel menarik kerah kemeja Vegas dan memukulnya bertubi tubi.

"Kau sama sekali tak pantas bersanding dengan Pete. Bajingan yang hanya mementingkan nafsu diatas segalanya. Meninggalkan benihmu dimana mana sehingga menyiksa Pete. Kau bahkan membunuh darah dagingmu sendiri Vegas! Kau itu seorang pembunuh! Bahkan kematian saja terlalu baik menjadi hukumanmu. " Pavel menghempaskan tubuh Vegas yang sudah terkulai ke lantai. Wajah yang sudah penuh lebam dan darah dimana mana menghiasi penampilan Vegas.

"Jangan pernah mengusik hidupnya lagi jika kau masih ingin hidup" Pavel meninggalkan Vegas yang masih menatap langit langit kamar mandi. Pikirannya melayang. Apakah dia telah membunuh anaknya?

-----

Pekikan Porsche terdengar seisi rumah ketika Venice menggigit tangannya dengan sangat keras. Terlihat jejak gigitan seperti lingkaran di tangannya. Porsche menatap Venice sengit dan dibalas tak kalah sengit oleh Venice.

"Itu salahmu Porsche kenapa malah berbuat curang. Kau harusnya berjalan satu kotak tapi malah melangkah 2. Venice itu tak bisa ditipu kau tau? " Pete terkekeh melihat dua orang yang sama sama keras kepala dan tak mau mengalah didepannya.

"Tapi dia duluan yang mencurangiku! Dia mendapatkan 3 langkah tapi hanya menjalankan 2 agar tidak terjun! " Porsche bersungut kesal kearah Pete. Apa disini ada dua anak bayi? Pete tercengang melihat Porsche yang ikut merajuk.

"Kalau begitu kita selesaikan sampai dis-"

"Tidak boleh! /Tak mau! " Porsche dan Venice membantah secara serempak. Pete lagi lagi tercengang. Bahkan membantah pun mereka kompak. Apa mereka kakak beradik atau bagaimana?

"Satu es krim untuk masing masing" Pete menaik turunkan alisnya menggoda dua bocah dihadapannya.

"Dua"

"Tiga"

"Ya, tiga" Venice mengangguk setuju dengan ucapan Porsche. Mereka sama sama bersilang tangan didepan dada saat ini.

"Dua atau tidak sama sekali" aku ikut menyilangkan tangan dan menyipitkan mataku kearah mereka.

"Setuju" sorak Porsche. Mereka terdiam beberapa saat dan akhirnya tertawa begitu tawar menawar selesai. Mereka merasa konyol dengan diri mereka sendiri.

Ting Tong

Suara bel menghentikan tawa mereka. Pete berdiri dan berjalan menuju pintu. Tangannya terulur membuka pintu tersebut.

"Vegas! " tangan Pete reflek menangkap tubuh Vegas yang limbung kearahnya. Mendengar teriakan Pete, Porsche segera berlari kearah Pete. Porsche terkejut. Ia melihat Vegas yang penuh lebam dan darah dipelukan Pete. Porsche membantu Pete membawa Vegas kedalam rumah dan menidurkannya diatas sofa.

Derap langkah kecil menghampiri Pete. Tangan gemuknya memeluk kaki Pete erat. Venice terlihat ketakutan karena seseorang dipenuhi darah berada dirumahnya. Wajahnya ia sembunyikan di kaki Pete. Badannya bergetar dan mulai terisak.

Pete menggendong Venice menjauhi Vegas dan membawa Venice ke kamar. Ia menidurkan Venice diatas kasur dan mulai menyanyikan lullaby kesukaan Venice. Tak lama Venice pun tertidur ditambah faktor kelelahan setelah menangis.

Pete mengusap jejak air mata dipipi Venice dan mengecup kedua matanya.  Pete menuruni ranjang tersebut dan kembali ketempat Porsche dan Vegas yang ia tinggalkan tadi.

"Porsche, tolong temani Venice tidur. Biar aku yang mengurusnya" Pete menepuk bahu Porsche yang duduk disalah satu sofa.

"Kau yakin? Aku bisa menemanimu" Porsche sedikit khawatir. Mereka adalah sepasang mantan suami istri, dan Porsche tak mau Pete dituduh mengganggu rumah tangga orang lain.

Pete mengangguk dan mendorong Porsche searah jalan menuju kamar. Pete memperlihatkan senyum manisnya seakan mengatakan dia sungguh tidak apa. Porsche mengalah. Ia tak bisa keras kepala disituasi ini. Ia percaya pada Pete.

-----

Pete mengoleskan salep pada lebam di wajah Vegas. Pete menghela napasnya. Ia tak habis pikir. Kenapa pria ini menemuinya dalam keadaan begini. Apa Vegas ingin menarik simpatinya atau bagaimana?

"Pete" bibir Vegas bergerak memanggil nama Pete dengan mata yang masih terpejam. Pete menghentikan tangannya yang sedang mengoleskan salep, ia kaget mendengar suara Vegas.

Mata Vegas perlahan terbuka. Matanya menatap lurus keatas. Pete yang merasakan suasana mulai canggung bergerak membersihkan peralatan yang ia bawa untuk mengobati Vegas. Saat ditengah tengah aktivitas yang dilakukan oleh Pete, tangan Vegas bergerak memegang pergelangan tangan Pete. Tangan Vegas sedikit menarik pergelangan tangan Pete untuk menyuruhnya duduk dan berhenti dari aktivitasnya.

"Ada yang ingin kubicarakan denganmu Pete. Kumohon. Sekali ini saja" Vegas menatap Pete dengan tatapan putus asa. Ia sangat butuh penjelasan saat ini.

Pete menatap Vegas sangat lama. Hatinya bimbang. Dia sudah bertekad untuk tidak menceritakan apapun. Tapi melihat tatapan putus asa Vegas dia tak tega. Pete akhirnya menaruh barang yang ada ditangannya dan duduk kembali dihadapan Vegas.

Vegas perlahan mencoba duduk dari posisinya saat ini. Badannya terasa sangat sakit setelah dihempas oleh Pavel. Beberapa tulangnya mungkin saja retak. Setelah berhasil duduk, Vegas menatap mata Pete dalam.

Suasana menjadi sangat hening.

Mereka saling menatap mencoba menyelami pikiran satu sama lain.

"Ekhem, jadi apa yang ingin kau tahu? "

"Semuanya"

"Berbicaralah lebih spesifik. Aku tak mengerti"

"Lima tahun yang lalu. Kandungan pertamamu. Apa itu anakku? "

Pete tersenyum remeh mendengar pertanyaan Vegas.

"Untuk apa kau ingin tau? " Pete menatap dingin kearah Vegas. Hati Pete kembali hancur ketika mengingat perbuatan Vegas padanya sehingga ia kehilangan Coco hari itu.

"Apa dia anakku? " Vegas mengulang pertanyaan yang sama. Dia ingin tau fakta yang sesungguhnya. Dia ingin tau sekeji apa dirinya.

"Tidak" Pete menolehkan kepalanya kesamping. Dia tak mau menatap Vegas.

"Jujurlah padaku Pete. Kumohon. Aku.. Aku ingin meminta maaf secara pantas.. Pada anak kita" Bibir Vegas bergetar. Matanya sudah memanas ingin menangis. Dia seperti ditampar kenyataan melihat pipi Pete yang mulai basah. Vegas tau Pete berbohong padanya. Dia hanya ingin kepastian itu diucapkan oleh Pete.

Pete mengatup bibirnya rapat rapat. Ia tak mau terlihat lemah dan menyedihkan.

"Terserah" Pete tak kuat. Ia ingin beranjak dari sini. Pete mulai berdiri menjauhi Vegas. Air matanya mengalir deras. Luka yang berusaha ia tutup kembali terbuka lebar. Rasanya luka itu masih basah diingatannya. Kehilangan orang tua dan anaknya. Pete merasa dibodohi. Ketika ia masih dengan sesumbar mengatakan dirinya hamil pada teman dan orang tuanya hari itu, namun kenyataannya anaknya sudah lebih dulu meninggalkannya. Tanpa sempat mendengar nama panggilannya. Tanpa sempat merasakan indahnya terlahir kedunia. Langkahnya menjadi gamang. Ia bertumpu pada dinding disebelahnya. Suara isakan yang sedari ia tahan akhirnya lolos juga. Tangan lainnya meremas bagian depan baju yang ia kenakan. Ia sangat kesakitan.

Tiba tiba Pete merasakan tubuhnya dipeluk dari belakang. Vegas terisak dibelakang tubuhnya.

"Maafkan aku, Pete.. Hiks.. Maafkan aku.. " Vegas terus mengucapkan kalimat tersebut berulang ulang. Pete merasakan baju dipunggungnya sudah basah.

Pete menguatkan pegangannya. Ia mulai berdiri dengan tegap dan melepaskan pelukan Vegas. Tubuhnya berbalik menghadap Vegas yang berurai mata.

"Maaf? Maaf katamu?! Kau pikir dengan maaf anakku kembali? Coco kembali?! Tidak! Tidak Vegas. Dia tak akan kembali. Kau tak tau betapa menyedihkannya menjadi Coco! Kau tak tau!! " Pete berteriak pada Vegas. Tangannya mendorong Vegas menjauh. Matanya yang masih meneteskan air mata berkilat penuh emosi.

Vegas bersimpuh dihadapan Pete. Seluruh sendinya melemah mendengar tuduhan tuduhan Pete. Ternyata dirinya sekeji itu.

Vegas mengangkat kedua tangannya dan menatapnya. Tangannya. Tangannya sendiri yang membunuh anaknya. Darah dagingnya sendiri. Vegas meraung. Tangannya terangkat memukul kepalanya. Dia bodoh! Dia keji! Dia tak berhak memohon ampun! Bahkan mati saja tak cukup menebus kesalahannya.

"Kenapa? Kenapa kau baru menyesal sekarang?! Kenapa?!!! Kau sama sekali tak pernah dan tak akan berubah Vegas. Apa kau ingat semua perlakuanmu padaku?! Kau menyiksaku, memukulku dan kau sampai hati berselingkuh didepan mataku! Bahkan kau mempertontonkan seksmu dengan orang lain dihadapanku. Dimana letak hatimu hah?! Dimana?! Kau bahkan memperkosaku berkali kali, Hiks.. Sakit Vegas.. Sakit.. Aku-aku sangat ketakutan hanya dengan mendengar suaramu saja. Kau tau? Bahkan aku merasa ketakutan mendengar langkah kaki orang. Aku sampai sesakit itu Vegas. Aku merasa diriku jauh lebih hina dibanding kotoran! Dan sekarang apa?! Kau mencoba mencari tau tentang Venice?! Dia anakku bajingan! Dan selamanya hanya akan menjadi anakku! " Pete mensejajarkan tubuhnya denganku. Tangannya memegang bahuku dan mengguncangnya dengan kuat. Aku melihat matanya yang berurai air mata penuh rasa sakit dan kepedihan. Aku telah menghancurkan malaikatku segitu dalamnya. Aku mengangkat jariku menuju wajahnya. Air mata yang berjatuhan itu kuusap dengan ibu jari yang bergetar. Aku menyesal. Aku merasa bersalah melihat kondisinya saat ini. Ingin  kurengkuh tubuh rapuh itu kedalam dekapanku. Aku ingin menenangkannya. Tapi apakah pantas setelah semua yang kulakukan?

Pete berteriak kesakitan. Pegangan Pete terlepas dari bahu Vegas. Tangannya terkulai lemah kebawah namun masih berusaha menumpu badannya yang sudah ingin tumbang. Kondisi Pete sudah sangat kacau. Ia mencurahkan segala emosinya pada Vegas.

Vegas pun tak beda jauh. Ia masih mempertahankan posisi berlututnya. Rambutnya kacau dengan wajah lebam yang dibanjiri air mata. Bajunya pun kusut dan penuh noda darah.

Vegas kemudian bersujud dikaki Pete. Tangannya meraih pergelangan kaki Pete.

"Semua salahku Pete... Tak ada satupun pembenaran dariku. Aku.. menyakitimu dan telah membunuh anak kita.-" Vegas menarik napas panjang untuk menormalkan napasnya yang masih tersengal sengal "-aku tak pantas mendapatkan maaf darimu. Hiks.. Aku tak pantas Pete. Tapi kumohon, beri aku satu kesempatan lagi untuk memperbaikinya. Kumohon, satu kali lagi" Vegas menatap Pete penuh penyesalan. Ia ingin memperbaiki semuanya dari awal. Ia akan mengunjungi makam anaknya setelah ini dan memulai awal baru bersama Pete.

"Kau benar. Kau tak pantas dimaafkan. Seharusnya kau yang mati Vegas! bukan Coco" Pete kemudian beranjak dari posisinya. Ia tidak sanggup terus berhadapan dengan Vegas.

"Jangan pernah berpikir untuk memperbaiki hubungan kita Vegas. Tinggalkan aku dan Venice. Biarkan aku mengurusnya sendiri. Kau sudah memiliki anak dan istri. Jangan menghancurkan keluarga barumu. Jika kau sudah selesai, silahkan pergi " Pete meninggalkan Vegas yang masih menangis dalam posisi sujudnya.

-----

Porsche menutup telinga Venice rapat rapat. Tak ingin ponakan kesayangannya mendengarkan keributan yang ia dengar. Hatinya teriris sakit mendengar semua penderitaan Pete. Porsche ikut merasa bersalah. Ia tak ada saat Pete melewatkan hari hari buruknya kala itu. Porsche ikut menangis malam itu bersama dengan Vegas dan Pete.

TBC

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FORTPEAT - SURROGATE 2🔞

FORTPEAT - JINX - 16 🔞

FORTPEAT - RARE SPECIES - 5 🔞