VEGASPETE - AGREEMENT - 10

 Sudah lima hari Pete tinggal dirumah. Vegas melarangnya kemana mana sampai tubuhnya pulih seratus persen. Pete bingung dengan Vegas. Vegas kadang memperlakukannya dengan baik, bahkan sangat baik. Sampai kadang Pete terlena dan kembali menyukai perlakuannya. Namun kadang dia seperti iblis. Vegas seperti kerasukan. Meneriakinya. Memukulnya dan hingga kejadian terakhir membuatnya sampai tak sadarkan diri. Perubahan moodnya sangat cepat. Bahkan terakhir kali Vegas mengatakan dia sedih melihat Pete yang penuh bekas luka. Pete mendengarnya saat dia setengah tidur. Pete lagi lagi dibuat heran. Bukankah dia sendiri yang menyakiti Pete hingga seperti ini? Kenapa dia juga yang sedih? Tak masuk akal!

Pete merasakan tubuhnya sudah pulih. Ia akan bertemu orangtuanya hari ini. Hatinya sedikit menghangat karena sudah lama tidak melihat kedua orangtua yang sangat ia cintai. Mereka terakhir kali bertemu saat pernikahan. Pete ingin menemui mereka lebih cepat sebenarnya. Tapi dengan banyaknya masalah Pete mengurungkan niatnya. Ia tak mungkin menampakan wajah sedihnya pada orang tuanya. Padahal ia adalah pengantin baru.

Pete berjalan menuju kamar mandi. Melepas pakaiannya satu persatu dan mulai membasuh tubuhnya. Pete melihat dirinya yang telanjang di cermin. Menatap perutnya yang masih datar. Ia tersenyum manis. Ada jiwa lain dalam tubuhnya. Dia tak sendirian sekarang. Akhir akhir ini Pete jarang menangis. Dia sering berbagi cerita dengan anaknya.

"Maafkan papa sering berkeluh kesah padamu nak. Aku hanya punya dirimu sekarang. Jangan bosan ya denganku! Hehe" Pete terkekeh kecil sambil menepuk lembut perutnya.

"Aku ingin memberikan nama panggilan untukmu. Hmm, siapa ya bagusnya? " Pete mengetuk ngetukkan jarinya pada dagu. Matanya menerawang keatas dan berpikir keras.

"Coco. Karena aku suka cokelat. Jadi ku kasih nama Coco. It's okey? " Pete menatap perutnya dari cermin.

Tak ada jawaban.

Pete terkekeh geli. Sudah pasti tidak ada jawaban. Tidak mungkin gumpalan darah yang belum berbentuk itu bisa berbicara.

"Diam berarti iya. Baik Coco. Papa hari ini akan bertemu nenek dan kakekmu. Ketika sudah disana sapa mereka dengan sopan, okey? " Pete berjalan mengambil handuknya dan melilitkannya dipinggang. Kemudian keluar dari kamar mandi dan menuju walk in closet.

Ya, sejak ia pingsan Vegas mengurungnya disini. Kamar yang seharusnya mereka tempati berdua.  Tak boleh beranjak sedikitpun dari kamar, bahkan turun kedapur saja tidak diizinkan. Kamar yang biasa ia tempati sudah dikunci Vegas. Dan tentunya kunci tersebut Vegas simpan jauh jauh.

Pete sebenarnya tak ingin disini. Mengingat fakta kamar ini bukan dirinya yang mencoba pertama kali. Pete kembali terbayang ketika Vegas dan Us yang masuk kesini untuk bercinta. Dan sekarang Pete harus tidur di ranjang yang sama, 'bekas' mereka. Hatinya sakit. Tapi tak apa. Dia tak berniat merusak hari bahagia ini. Lagi pula seminggu lagi dia akan menyerahkan surat cerai pada Vegas. Dan mengembalikan kamar ini pada pemilik seharusnya. Vegas dan Us.

Menurut Pete, Us tidak buruk. Ia baik. Pete melihat Us sangat telaten mengurusinya dihari pertama Pete bangun. Ia membantu Pete ke kamar mandi bahkan membuatkan bubur untuk Pete. Mereka sedikit mengobrol. Sebenarnya hanya Us yang menceritakan dirinya dan Pete menjawab sekenanya. Karena Pete masih sakit hati saat itu.

Pete mengetahui jika Us ternyata seorang model majalah. Dan sekarang tengah merintis karir dengan membuka toko perhiasan di sekitaran bangkok. Us menceritakan juga bagaimana dia bertemu Vegas dan bayi dalam kandungannya.

Jangan tanyakan perasaan Pete ketika mendengar hal itu. Tentu sangat tak enak. Tapi apa yang bisa dia perbuat? Selain mendengarkan ocehan Us. Namun dia beruntung bahwa Us tidak seperti orang ketiga di film film. Us tidak menyakiti Pete secara fisik dan malah membantunya. Tapi apa iya ini keberuntungan? Entahlah. Setidaknya nanti Pete tenang meninggalkan Vegas dengan orang sebaik Us. Pete juga berdoa semoga bayi Us selalu diberkati dan diberikan kelimpahan rahmat dan kesehatan. Semoga anak mereka dapat bertemu sebagai teman baik. Tanpa melihat buruknya hubungan orang tuanya.

Setelah selesai berpakaian, Pete mengambil tasnya dan berjalan menuruni tangga. Kakinya sedikit berlari keluar rumah. Tampak mobil Vegas yang baru memasuki pekarangan. Pete tersenyum manis dan melambaikan tangannya pada Vegas. Pete ingin menikmati minggu terakhirnya sebagai pasangan Vegas. Tak apa. Untuk terakhir kalinya.

Vegas membukakan pintu untuk Pete. Mempersilahkan Pete masuk layaknya seorang putri kerajaan. Perangai Vegas sedikit lucu sehingga mengundang tawa kecil dari Pete. Pete masuk dan menduduki kursi penumpang. Tak lama Vegas pun ikut masuk dan melajukan mobilnya menuju rumah sakit.

-----

Tanganku masih menggantung di gagang pintu kamar dimana ayah dan ibu dirawat. Padahal aku sangat bersemangat tadi. Tapi tak tau kenapa aku sedikit takut saat ini. Aku menatap Vegas. Meminta pertolongan apa yang harus kulakukan sebaiknya. Vegas mengangguk. Memberi tanda bahwa aku harus masuk.

Tanganku ku angkat menuju dadaku yang berdebar kencang. Menetralkan napasku agar tidak terlihat terlalu gugup. Aku menguatkan diriku agar tegar dan tak memperlihatkan wajahku yang sedih nanti.

Kuberanikan diri untuk membuka pintu. Aku melihat ayah ibu disana. Mereka tidur dengan beberapa selang terpasang ditubuh mereka. Dadaku sedikit sakit dan sesak. Aku biasanya melihat mata mereka terbuka dan menatapku penuh rasa sayang. Bahkan  setiap aku menemui mereka, aku selalu mendapatkan senyuman dan pelukan. Bahkan ibu sesekali masih mencium pipiku.

Tapi kini berbeda. Mereka menyambutku dalam diam. Bahkan tersenyum pun tidak. Aku meremas jari jari tanganku. Ternyata aku tak sekuat itu. Bibir bawahku sedikit bergetar. Mataku yang mulai berkaca kaca aku gerakan keatas dan mengerjapkannya dengan cepat. Berharap air mata tersebut masuk lagi kedalam kelenjarnya. Aku menghirup napas dalam dalam dan menghembuskannya perlahan. Mencoba mengatur emosiku agar tak menangis.

Aku merasakan sentuhan tangan Vegas dibahuku. Dan membisikkan kalimat kalimat yang sedikit menenangkanku. Mengatakan bahwa aku harus kuat demi ayah dan ibu, karena ayah dan ibu hanya memiliki aku sekarang. Aku meresapi kata kata Vegas. Dan mulai mencoba tersenyum kembali.

Aku membalikkan badanku kearah  Vegas yang berada dibelakangku. Mengatakan padanya agar kembali ke kantor. Pekerjaannya sangat banyak kurasa akhir akhir ini. Apalagi dia mengambil libur untuk merawatku. Dia sering pulang terlambat, bahkan tak sempat mandi dan langsung tidur.

Setelah Vegas pergi aku duduk diantara ranjang ayah dan ibu. Menatap mereka secara bergantian. Lumayan lama. Kemudian aku berdiri dan berjalan kedepan, dan mengambil posisi diantara ranjang yang dekat dengan ujung ranjang tersebut.

Tanganku ku lipat diatas perut dan kemudian membungkuk dalam seperti penghormatan di negara korea. Setelah itu aku mengangkat kepalaku dan tersenyum.

"Selamat pagi ayah dan ibu. Kuharap hari kalian menyenangkan" aku sedikit berteriak. Tak peduli jika kamar sebelah akan terganggu atau tidak. Kuharap tidak. Karena ini kamar VVIP. Seharusnya fasilitas sebanding dengan harga.

Aku mulai menceritakan keadaanku pada mereka. Dimana aku juga ikut terbaring diranjang pada hari yang hampir sama dengan mereka. Aku makan dan bermain dengan baik. Menonton acara kesukaanku seharian. Tentunya aku hanya menceritakan keseharianku lima hari terakhir. Aku ingin bercerita betapa mengasyikkannya hidupku pada orang tuaku. Katanya kalau orang koma itu jiwanya ada didekat tubuh mereka. Jadi aku tak mau membuat mereka khawatir.

"Oh iya. Ayah ibu. Kalian tau. Kalian agar segera punya cucu. Hehe. Aku baru memberi namanya pagi ini. Namanya Coco. Kuharap kalian segera bangun, dan setelah ini mau menemaniku kontrol ke dokter kandungan. Aku... Tak mau merepotkan Vegas soalnya" aku sedikit berbohong diakhir. Bukan itu alasan sebenarnya. Aku takut Vegas kembali mengamuk dan mencelakai Coco lagi. Bahkan setelah kejadian kemarin aku tak mau menyebut kehamilan ini pada Vegas. Aku tak ingin kehilangan bayiku.

"Ibu tau. Sepertinya aku terlalu cepat melalui morning sickness ku. Bahkan aku tak pernah muntah lagi akhir akhir ini. Aku ingin belajar dari ibu. Apa sebaiknya yang harus dan tidak boleh aku lakukan selama mengandung. Tapi aku sepertinya harus menunda dulu sesi pelajaranku. Cepat sembuh ya, nanti kita bicarakan mengenai Coco lagi" aku berjalan mendekati ibu. Ku kecup pipinya dan ku peluk ibu. Tidak erat memang. Karena aku takut salah gerak dan menyakiti ibu.

"Ayah. Kata ayah mau melihatku bahagia. Tapi ayah malah membuatku sedih jika seperti ini. Ayah harus bangun. Ayah harus membantuku nanti untuk persiapan kamar Coco. Sebagai kakek ayah seharusnya membuatkan ranjang goyangnya. Membantuku mengecat kamarnya nanti. Ayah harus janji membantuku. Cepat sembuh okey? " aku berjalan kesamping ayah. Memeluk ayah sama seperti ibu. Tapi tak kuberi kecupan, karena aku tau ayah tak suka aku cium. Hehe.

"Permisi Khun. Kami ingin melakukan visite sebentar" seorang perawat berseragam hijau muda masuk kedalam ruangan. Aku mengangguk pelan dan mulai berjalan kesalah satu sudut ruangan. Takut mengganggu pemeriksaan.

Aku melihat sosok yang tak asing masuk ke dalam ruangan. Badan yang tinggi besar, kulit putih dan mata yang tajam. Aku seperti pernah melihat pria ini. Tapi dimana ya?

Aku terus menatap pria yang sepertinya merupakan dokter. Karena dia satu satunya yang menggunakan jubah putih. Dia tampak bertanya mengenai kondisi dari ayah dan ibu pada perawat. Kemudian perawat tersebut menjelaskan kondisi vital yang mereka periksa pagi ini. Pria ini mengangguk-ngangguk mengerti dan membicarakan penanganan selanjutnya untuk ayah dan ibu.

"Terimakasih Khun. Kami pamit" ujar salah satu perawat tersebut dengan senyum manisnya. Aku membalas senyum tersebut dan mengantar mereka sampai pintu.

Aku berencana menutup pintu, namun tertahan karena ada tangan yang mendorong pintu berlawanan arah denganku. Aku membiarkan pintu tersebut terbuka sesuai arah yang diinginkan pemilik tangan tersebut.

"Kau tak melupakanku kan bocah? "

"Oh! Ternyata benar kau rupanya. Aku seperti pernah melihatmu. " aku sedikit terkejut mendapati ingatanku yang akurat. Dokter tersebut memang mirip dengan pria yang meminjamkanku uang malam itu.

"Aku pikir anak dari orang tua ini adalah pria yang pemarah itu. Tapi melihatmu disini sepertinya kau lebih cocok menjadi anak mereka bocah" Pavel masuk kedalam ruangan tersebut dan duduk disalah satu sofa. Menyilangkan kakinya dan membentangkan tangannya sepanjang senderan sofa.

"Aku memang anak mereka. Dan yang kau lihat biasanya itu Vegas. " aku mengambil posisi disofa lain yang berhadapan dengan Pavel.

"Pavel mengen-"

"Wah. Hebat sekali kau bocah. Kau sudah lupa dengan sopan santun ya? Aku ini lebih tua darimu! "

"Oi! Aku ini sudah 28 tahun! Kau yang bocah" ucapku tak terima. Ingin rasanya aku memukul kepala bocah ini. Kalau dia tidak pernah meminjamkan uang padaku, habis riwayatnya!

"Wow! Kau 28? Dengan bentuk seperti ini? Aku kira kau 18. Hahaha. " Berengsek! Dia malah menertawaiku! 18? Dia kira aku bocah SMA?

Aku menarik napas panjang. Mulutku ku katup erat sampai berbentuk garis tipis. Aku tak ingin marah. Hari ini hari baik. Dan aku tak boleh merusaknya.

"Jadi kau sendiri berapa umurmu? " aku kembali memulai percakapan. Aku juga sedikit penasaran berapa umur bocah didepanku ini.

"26"

See?  Tebakanku benar. Dia lebih muda dariku.

"okey Pavel. Mengenai uang yang kupinjam. Aku ingin mengembalikannya. Tapi tak tau berapa nomor rekeningmu" aku berjalan menuju kulkas dan melihat isinya.

"Kau mau kopi? " aku menyembulkan kepalaku dibalik pintu kulkas yang masih terbuka dan menatap Pavel. Aku melihat Pavel  termenung dengan menopang dagunya menggunakan kepalan tangannya. Matanya lurus menatapku. Apa sekarang dia bisu? Atau telinganya mulai tuli?

"Oi! Kau mau kopi tidak?! Disini dingin! " teriakku kesal. Aku tak suka diacuhkan! Aku melihatnya tersentak dari lamunannya dan duduk dengan canggung. Dan Shit!  Dia masih belum menjawab pertanyaanku.

Aku mengambil satu kopi kaleng dan menutup -sedikit membanting- pintu kulkas. Kemudian berjalan kembali ke sofa dan duduk disana.

"Mana punyaku? " tanyanya melihat satu kaleng ditanganku dan itupun sudah kubuka dan kuminum. Aku memutar bola mataku malas. Tak ingin menjawab protesnya. Aku meletakkan kaleng tersebut dimeja dan mengeluarkan ponselku.

"Jadi berapa nomor rekeningmu? " aku membuka aplikasi mobile banking dan melirik kearah Pavel.

"Aku tak butuh uang. Cukup temani aku makan siang ini" Pavel mengambil kaleng kopiku dari atas meja dan mulai meminumnya.

"Hei itu punyaku! " aku berusaha merebut kaleng tersebut dari tangannya. Tapi tangannya kelewat panjang. Kalengku berada ditangannya yang menjauh kebelakang dan tubuhku ditahan dengan tangan lainnya. Dasar raksasa!

-----

"Kau temani aku makan okey? "

"Tidak, aku ingin membayarnya dengan uang. Aku meminjam uang dan harus menggantinya dengan uang! "

"Kalau begitu anggap saja kau mentraktirku makan"

"Hmm.. Baiklah"

Pip

Aku mematikan wireless earphoneku. Mataku menatap hamparan perkotaan melalui jendela ruanganku. Aku mengepalkan tanganku kuat. Masih berani rupanya mereka berselingkuh dibelakangku.

Aku segera beranjak dari tempatku dan berjalan keluar ruangan. Memberitahu Tem untuk menghandle
keadaan selama aku pergi.

-----

Setelah menitipkan orangtuaku pada perawat. Aku pergi menuju lobi rumah sakit. Didepan rumah sakit tersebut terdapat satu restoran ala korea dan aku disuruh kesana oleh Pavel. Katanya dia ingin makan disana, tapi sedikit terlambat karena sesi rawat jalannya belum selesai.

Tak lama aku memasuki restoran tersebut. Mengambil posisi disudut restoran namun tak jauh dari pintu dan dekat dengan jendela. Aku sudah bersuami dan tak mau terjadi kesalah pahaman. Apalagi Pavel terlihat muda. Bagaimana perasaan kekasihnya nanti.

Aku memainkan ponselku untuk mengurangi rasa jenuh. Jariku bergulir kesana kemari memainkan game yang kebetulan ada diponselku. Setelah lelah dengan ponselku, aku memilih melihat pemandangan dari balik jendela besar. Mataku menyipit mendapati ada kerumunan orang didepan restoran.

Aku biasanya tidak tertarik dengan urusan orang lain. Tapi kakiku tanpa sadar malah melangkah mendekati kerumunan itu. Aku terkejut. Aku melihat dua orang yang familiar saling memukul satu sama lain. Aku menyelip dan bergumam maaf ketika tanpa sengaja mendorong orang orang didepanku.

"Vegas! Pavel! Hentikan! " aku berteriak melerai dua orang yang saling memukul tersebut. Namun aku diacuhkan. Mereka masih sibuk mengumpat dan melayangkan pukulannya.

Aku kemudian berjalan ketengah pertarungan mereka. Tanpa aba aba, aku merasakan satu bogem mentah mendarat dipipiku. Akupun tersungkur diatas aspal. Telapak tanganku tergores ketika menahan tubuhku agar tak membentur aspal. Kurasakan rasa besi tertinggal dilidahku. Tanganku mengusap bibirku ketika terasa adanya lelehan dari sana. Darah.

"Hei. Maafkan aku. Yaampun, bibirmu berdarah. "Pavel mengangkat tubuhku dan menopangnya dengan kedua tangannya disisi bahuku. Wajahnya terkejut mendapati bibirku yang berdarah.

"Jauhkan tanganmu dari istriku bajingan! " aku terhuyung kebelakang ketika Vegas menarik paksaku kearahnya. Tangan posesifnya mengurungku dengan melilitkannya dipinggangku.

"Kau! Jangan pernah sampai terlihat oleh mataku. Kalau tidak jangan berharap untuk hidup" Vegas menarikku menjauhi kerumunan. Mendorong tubuhku agar masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya sekencang mungkin.

-----

Vegas menarik paksa tangan Pete memasuki rumah. Menghempaskan tubuh Pete keras kedinding dan mencium bibir Pete paksa. Memainkan  bibir Pete dengan bibirnya. Vegas menggigit bibir bawah Pete dan menghisapnya kuat. Menyebabkan Pete mendesah tertahan karena lumatan Vegas pada bibirnya. Vegas memasukkan lidahnya kedalam rongga  mulut Pete. Menghisap dan menggigit lidah Pete. Memakan semua yang bisa mulutnya capai. Pete mulai kehabisan napas. Tangannya yang berada dibahu Vegas ia jadikan tumpuan untuk mendorong Vegas menjauh. Namun Vegas tak ingin mengakhirinya. Tangan Vegas menurunkan tangan Pete yang berada dibahunya. Kemudian memeluk pinggang dan kedua tangan Pete erat. Vegas masih melanjutkan lumatannya, dia masih ingin mengecap bibir istrinya yang sudah sangat ia rindukan.

Beberapa saat setelah itu Vegas merasakan tak ada balasan dari Pete. Vegas akhirnya melepaskan pagutan bibirnya dan menatap Pete yang mulai menutup matanya karena kehabisan napas. Vegas memukul pipi Pete lembut untuk membangunkannya.

Pete tersadar. Mulutnya meraup oksigen dengan cepat untuk mengisi paru parunya yang sudah mengecil. Dia seperti hampir mati barusan.

Vegas mengapit pipi Pete dengan telunjuk dan ibu jarinya. Vwgas menekannya sangat kuat sehingga bibir Pete mencuat. Mata elangnya menatap sengit kearah Pete.

"Kau masih berani rupanya berselingkuh heh? " Vegas tersenyum miring. Tangan lainnya meraba wajah Pete dan dengan sensual turun hingga leher. Tangannya mulai mengeras. Vegas mulai mencekik Pete. Kekuatannya kian bertambah. Cekikan pun semakin erat. Pete kembali kehabisan napas. Tangannya berusaha menggapai tubuh Vegas. Tapi tak ada tenaga, seperti sel-sel tubuhnya satu persatu mulai kebas. Cekikan tersebut makin erat. Matanya memerah dan menitikkan air mata kesakitan. Reflek tangan Pete memegang tangan Vegas yang berada dilehernya. Ingin melepaskan cekikan tersebut. Melihat wajah Pete yang sudah sangat memerah dan matanya yang sudah memutih. Vegas menghempaskan tubuh Pete ke lantai.

Pete terhempas ke lantai. Tubuhnya tidak siap sehingga tangannya terbentur dengan keras. Pete dengan rakus kembali mengumpulkan oksigen. Paru parunya terasa sangat sakit. Tangan Pete memegangi lehernya yang memerah dan menatap Vegas tajam. Vegas gila! Dia hampir mati!

Vegas meletakkan kakinya yang masih beralas sepatu didada Pete. Bibirnya tersungging miring. Seperti iblis.

"Kau dilarang kemana mana. Sebagai hukuman kau kukurung 3 hari. Jangan coba coba kabur. Atau kau kubunuh! " Vegas mengambil ponsel dan dompet Pete. Berjalan keluar rumah dan menguncinya dari luar.

Pete meraung dan berteriak setelah kepergian Vegas. Kenapa dia bisa terjebak begitu lama dengan iblis seperti dia? Pete kembali menangis. Hari bahagianya telah dirusak oleh suaminya.

TBC

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FORTPEAT - SURROGATE 2🔞

FORTPEAT - JINX - 16 🔞

FORTPEAT - RARE SPECIES - 5 🔞