FORTPEAT - RARE SPECIES - 39
Deburan ombak menyahuti cicitan burung yang tak sengaja melintasi tepian pantai pagi itu. Seorang pria dan wanita tampak duduk diatas pasir dengan lutut yang menekuk hingga telapak kaki mereka tenggelam dipasir basah tersebut. Sudah 40 menit mereka duduk disana dan hanya sibuk memainkan jemari kaki mereka yang terendam pasir.
"Kupikir kau tak akan menemuiku lagi" Mulai tak merasa nyaman dengan rasa hening yang ada, akhirnya Peat mengeluarkan pernyataannya terlebih dahulu.
Mata rusa itu masih setia menengadah dengan jemari kaki yang bergerak memainkan pasir. Tangannya yang menumpu dibelakang tubuhnya terasa mulai lelah karena terlalu lama mempertahankan posisi tersebut. Apalagi dengan perut besarnya ia tak bisa melipat tubuhnya dengan baik, hingga akhirnya Peat merubah posisi kakinya menjadi sedikit lurus dengan lutut yang bengkok kearah luar.
"Kenapa kau berpikir seperti itu?" Wanita dengan rambut yang tertiup angin itu pun mulai melirik pasir yang cukup kering disampingnya. Tangannya mulai bergerak membentuk gundukan gundukan kecil dalam ukuran beragam.
"Kau tahu maksudku. Kau bahkan tau saat ini aku tengah mengadu pada Nick jika aku tak menyukai kehadiranmu" Peat menoleh, menatap wajah cantik perempuan disampingnya yang terlihat tak terganggu sama sekali dengan ucapannya.
"Aku kesini karena ingin melihatmu Peat. Aku ingin mengunjungi bayimu dan memberikan berkat pada mereka."
Peat mendengus kecil, sedikit tergelitik dengan ucapan Luna barusan. Seorang Moon Goddes ingin melihatnya? Tak mungkin. Tapi ia harus berterimakasih dengan niat berkat yang diberikan Luna. Siapa yang tak mau anaknya diberkati oleh dewi?
"Aku benar benar ingin melihatmu Peat. Aku- merasa bersalah"
Wajah Peat yang masih menunjukkan ekspresi geli tiba tiba menjadi datar.
Merasa bersalah? Tapi- kenapa?
"Sebelumnya aku ingin menemuimu lebih cepat. Bahkan ketika melihat dirimu tersiksa selama dibalik sel pun aku ingin mengunjungimu. Tapi tentu saja tak semudah itu." Luna memutar kepalanya kearah Peat, menatap omega cantik yang kini menatapnya lekat tanpa berkedip.
"Apa aku boleh bertanya sesuatu?" Awalnya Peat sedikit ragu untuk bertanya, namun hatinya tak lagi bisa membendung rasa penasaran dibenaknya. Menanyakan sesuatu ketetapan pada dewi bukankah terasa lancang? Sekiranya itu yang Peat rasakan.
"Kenapa aku terlahir sebagai seorang omega? Dan kenapa harus aku?" Melihat Luna menganggukkan kepalanya, Peat melanjutkan perkataannya dengan harapan mendapat jawaban yang ia harapkan.
"Aku tak tahu"
"Hah? "
"Aku bukan Tuhan, Peat. Aku hanyalah seorang dewi. Tugasku hanya mengatur kehidupan para wolf"
Omega itu terdiam. Sedikit tertampar dengan jawaban sang dewi. Benar, harusnya ia tak menanyakan hal semacam ini pada seorang dewi.
"Ketika Tuhan memberiku perintah agar memberikanmu gender kedua, maka kulakukan. Dan itupun kulakukan bukan atas kehendakku. Kupertemukan jiwamu dengan seluruh ruh serigala yang ada ditanganku. Dan kubiarkan kalian memilih jalan masing masing" Luna mengalihkan pandangannya dari Peat, ia mulai menatap perut besar Peat dan tersenyum lembut. Perut Peat benar benar besar, padahal janinnya baru berusia 22 minggu.
"Lalu bagaimana dengan darahku?" Mata rusa itu mengiringi pergerakan perempuan disampingnya yang tengah mengelus perutnya. Entah kenapa tapi perutnya terasa sangat nyaman saat ini.
"Berkah. Kau harus berterimakasih pada Tuhan"
Lagi lagi Peat terdiam. Jauh dilubuk hatinya ia tak ingin berterimakasih, ia tak menyukai kelebihan yang ia miliki. Karena darah itu ia harus melewati semua rasa sakit baik secara fisik maupun batin.
"Setiap ciptaan pasti akan memiliki dua sisi, baik positif maupun negatif. Kau tak pernah mengalami sakit bukan sebelum masuk kedalam istana? Dan setelah reject kau bahkan bisa duduk disini setelah berbulan bulan lamanya setelah kejadian itu, ya meskipun efek itu tetap ada, setidaknya kau bersama bayi bayimu sekarang"
"Aku hanya ingin hidup normal seperti yang lain. Semuanya terlalu sulit untukku"
Keduanya saling menatap, menyelami manik satu sama lain. Luna tau jika hambanya tengah jujur. Omega ini melalui begitu banyak cobaan hampir setahun kebelakang. Hidupnya berubah 180 derajat. Siapa yang tak akan kesulitan?
"Itulah hidup. Bahkan ketika kau melabeli kehidupan orang lain normal, kau akan menemukan kesulitan lain yang tak tahu apakah hal tersebut lebih sulit atau tidak dari yang kau alami"
Helaan napas panjang pun terdengar dari Peat, ia sepenuhnya paham dengan ucapan sang dewi, ia belum tentu sekuat ini ketika ditaruh disepatu yang berbeda. Tapi masih ada sebagian kecil dari hatinya yang tak mau menerima, dan menurutnya itu wajar mengingat dirinya hanyalah seorang manusia biasa.
"Apa kau tau aku membencimu?" Mata rusa itu kembali mengamati Luna yang kini memandangi laut. Matahari yang mulai tinggi membuat wajah sang dewi terlihat semakin indah.
Anggukan pun Peat dapatkan dari Luna. Helaan napas pun kini berganti keluar dari bibir kecil sang dewi.
"Kupikir dengan menciptakan banyak kekurangan pada omega akan menjadi kunci pada sebuah hubungan nantinya. Dengan memberikan banyak kelebihan pada Alpha akan membuat mereka memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi hingga mampu melindungi dan mengayomi para submisif. Aku menginginkan jika fated pair bukanlah hanya sekedar takdir, melainkan juga melibatkan rasa cinta hingga tak akan ada paksaan didalamnya. Namun seperti yang kubilang sebelumnya, tak ada sisi yang benar benar putih ataupun benar benar hitam-
-dan karena itu juga aku ingin meminta maaf padamu " Luna menolehkan kepalanya dan menatap Peat yang juga baru saja menolehkan kepala kearahnya.
"Beribu tahun lamanya aku mengatur hidup para wolf dan inangnya, dan akhirnya aku bisa menyampaikan permintaan maafku melewatimu. Aku tahu jika hambaku terlebih para kaum omega tak menyukai apa yang menjadi takdir mereka. Hanya saja mereka tak memiliki petunjuk bagaimana rasa hidup yang lebih baik. Tepat sebelum dirimu masuk kedalam kehidupan werewolf, tak ada satupun dari mereka yang protes mengenai hal ini, hingga dititik aku berpikir jika para omega tak memiliki masalah besar dengan ketetapanku"
"Apa bisa diubah? Aku tak mau ada yang menderita seperti ini lagi"
Raut wajah Peat terlihat sangat putus asa saat mendapat gelengan dari Luna.
"Takdir yang sudah ditulis akan sangat sulit mengubahnya Peat. Hampir mustahil. Oleh karena itu aku datang hari ini dan memohon maaf padamu, karena jika statusmu sebagai Omega Agung telah benar benar hilang, maka tak ada lagi benang merah yang menuntun kita untuk bertemu Peat"
Degg
Seketika rasa panas menyekang kerongkongan Peat. Telinganya berdenging hingga tak satupun suara yang masuk ketelinganya.
Apa Fort sudah mendapatkan penggantinya?
Apa Fort sudah melupakannya?
Seketika napas Peat menjadi tak teratur, dadanya sesak dan panik menyerangnya tiba tiba. Kepalan tangannya reflek memukul dadanya cukup kuat untuk memfokuskan pikirannya.
Ada apa dengannya?
Bukankah seharusnya ia siap dengan kemungkinan seperti ini?
Fort sendiri, dan sangat wajar jika calon Raja itu memiliki pendamping baru.
"Hei, atur napasmu dengan baik Peat" Sebuah telapak tangan pun menutup hidung dan mulut Peat, Luna terlihat mencoba membantu Peat untuk mengatur pernapasannya lebih mudah.
Butuh beberapa menit hingga Peat merasakan kepalanya kembali ringan, napasnya menjadi lebih tenang dan rasa sesak didadanya menjadi hilang. Tangannya yang sedari tadi bersarang didada pun beralih menggenggam tangan Luna dan menurunkan tangan tersebut perlahan. Mata rusa itu kemudian menatap lekat iris indah didepannya.
"Moon Goddess ambillah jiwaku, dan kumohon, ubahlah takdir itu"
-----
Bandara terlihat penuh dengan hiruk pikuk segala aktivitas yang memadati. Tak hanya staff, orang orang dengan setumpuk koper pun turut menyemarakkan area tersebut. Beberapa diantaranya memilih berlibur untuk merehatkan diri dari sibuknya kehidupan, dan tak sedikit dari mereka yang menggunakan transportasi ini untuk keperluan pekerjaan.
Ratusan manusia juga terlihat menduduki kursi tunggu yang disediakan pihak penerbangan. Salah satunya ialah pria besar dengan setelan casualnya, lria tersebut terlihat hanya mengenakan kemeja abu abu serta celana bahan biasa. Dan demi mendukung sedikit penampilannya, pria itu turut menambahkan kacamata hitam untuk tersampir diatas hidung tingginya.
Mengingat tujuannya hari ini bukan hanya sekedar menunggu penerbangan, pria berkacamata hitam itu menutupi hampir separuh tubuhnya dengan koran lama yang ia dapatkan dari bawah meja. Matanya yang bersembunyi dibalik kacamata hitam pun terlihat bergerak meneliti satu persatu orang yang melewatinya.
Bzzttt
Bzzttt
Merasakan earbud ditelinganya berdenging, tangannya segera melipat koran didepannya dan beralih menekan tombol yang berada dibelakang earbud miliknya.
"Yang Mulia, target terlihat memasuki area"
Reflek, mata besar beriris aqua itu pun menolehkan kepalanya kearah pintu masuk ruang tunggu.
"Pria dengan hoodie kuning cerah dan celana boogie. Dia perawat yang dikirim oleh Chain." Tanpa sadar Fort menganggukan kepalanya mengerti, matanya terus mengikuti arah jalan dari pria berhoodie kuning cerah itu.
"Segeralah menuju tempat yang kita sepakati sebelumnya Yang Mulia. Kita harus cepat karena waktu kita tak banyak"
"Oke"
-----
Tap
Tap
Tap
Bunyi tepukan diatas meja kayu itu terdengar sangat pelan. Sang empu terlihat mencoba meraba permukaan meja kayu yang terletak disudut ruangan. Dengan hati hati tangan kecil itu menyentuh inci demi inci permukaan meja agar tak melewatkan benda yang tengah ia cari
Tak
Senyum tipis terukir ketika Peat merasakan tangannya menyentuh permukaan dingin yang ia cari. Membiarkan tangannya menempel pada benda tersebut, Peat mulai menarik kursi rodanya bergerak mendekati benda tersebut. Matanya yang kabur perlahan melihat jelas guci biru dengan ukuran sedang yang berada diatas meja.
Grep
Tangannya seketika buru buru mengambil guci biru tersebut dan memangkunya. Satu tangannya kemudian bergerak mengendalikan kursi roda yang ia duduki agar sampai didepan jendela yang terbuka lebar.
"Cantik bukan? Kupikir kau akan menyukai langit sore ini James. Meskipun aku tak dapat melihatnya, aku yakin langit kali ini sangat cantik." Pria dengan mata cokelat terang itu tersenyum cukup lebar, tangan kecilnya juga terlihat mengusap guci yang ia pangku dengan pelan.
Berbulan bulan lamanya hingga akhirnya ia bisa menetap di pulau kecil ini. Pulau yang hanya berisikan 10 rumah dan dihuni oleh para lansia. Pulau yang terletak cukup jauh dari pulau utama, bisa dikatakan jika pulau ini tak terhubung dengan wilayah manapun. Posisi yang jauh serta batas wilayah yang ambigu membuat pulau ini sering dilupakan.
Untuk bertahan hidup disini, para lansia diharuskan menangkap ikan serta kerang disisi pantai dan menanam padi. Semua hasil kebun akan berputar diantara mereka tanpa adanya transakai uang.
Namun bukannya mereka tak butuh uang, jika hasil panen melimpah beberapa dari mereka akan menjajakannya ke kota untuk memperoleh beberapa lembar uang. Bahkan tak jarang uang tersebut kembali ke pulau dalam bentuk barang. Para lansia tersebut akan membeli beberapa keperluan dalam jumlah cukup dan dibagikan antara mereka.
Menyenangkan hidup disebuah pulau yang sama sekali tak mengenalnya seperti disini. Beberapa bulan Peat terpaksa hidup berpindah pindah karena banyak orang yang mengenalinya.
Sangat segar diingatannya saat ia kabur malam itu dari mansion. Dengan kepala yang berputar hebat serta tiap persendian yang berdenyut sakit, Peat tetap berusaha untuk berlari meskipun beberapa kali tubuhnya terjatuh ketanah hingga luka luka baru pun tercetak. Dengan sisa kekuatan yang ada, ia pergi ke asrama para pelayan dan menyelinap ke lantai dua untuk membawa tubuh kaku James bersama.
Begitu lama proses yang terjadi malam itu, bahkan bagian timur sudah terlihat sedikit lebih cerah ketika dirinya baru berhasil mencapai teras asrama. Belum sampai sepuluh langkah dari teras, tubuh Peat limbung karena kehabisan tenaga, energinya tak cukup karena harus menahan rasa sakit yang begitu parah dan membopong tubuh kaku James disaat yang bersamaan. Hal ini tentu saja membuat Peat hampir pingsan jika saja Nick tak segera mengambil alih kesadarannya.
Kata Nick ia memaksa melakukan shifting saat itu. Meskipun dirinya turut merasakan rasa sakit yang hebat karena efek reject, tapi ia harus melakukannya untuk keselamatan mereka. Hingga akhirnya mereka dapat kabur melewati hutan luas dibelakang istana dan pergi menemui Khun Tan.
Saat mencapai kediaman Khun Tan, semuanya menjadi gelap, ia tak sadarkan diri hampir seminggu lamanya. Bahkan kata Khun Tan tubuh kaku James sempat dibiarkan beberapa hari hingga sedikit membusuk sebelum dimasukan kedalam peti penyimpanan dalam suhu rendah. Khun Tan beralasan takut salah langkah, bisa saja mayat yang mereka bawa adalah mangsa yang dibawa Nick atau seorang kaki tangan dari kasus yang terjadi. Namun saat melihat wajah familiar setelah menggali ingatan, Khun Tan menyadari jika James adalah orang yang menemani Peat dulu saat bertemu, hingga akhirnya tubuh James diurus dan dimasukkan kedalam peti penyimpanan tersebut.
Butuh hingga 3 hari hingga tubuh Peat menjadi lebih pulih. Meskipun tak dalam kondisi prima, mereka akhirnya dapat menyelenggarakan proses pemakaman yang layak untuk James. Saat melihat tubuh James memasuki krematorium, Peat tak kuasa menahan tangis, hingga tubuhnya kembali limbung dan bertopang penuh pada tubuh Khun Tan. Tak ingin kehilangan jejak dari sang sahabat, Peat memilih menyimpan abu James bersamanya.
Tak lama setelah itu kabar pihak kerajaan yang tengah mencari Khun Tan pun terdengar. Peat pun terpaksa dikirim keluar wilayah demi menghindari hal yang tak diinginkan. Peat tak ingin kembali, ia tak ingin lagi berhubungan dengan apapun yang berkaitan dengan kerajaan Azea.
Selama hidup diwilayah lain, Peat hanya berdua dengan Khun Tan. Tubuhnya beranjak lemah, tubuhnya sering kelelahan setiap kali berjalan. Pikirannya pun sering kosong, hatinya hampa, Peat merasa jika saat itu dia tak hidup didalam dirinya.
Beberapa kali Khun Tan mencoba menghentikannya dari tindakan nekat bunuh diri. Peat tak tahu kenapa, namun ia seperti dituntun untuk mengambil pisau maupun tali. Rasa bingung, linglung dan kosong membuatnya tak berada didalam kondisi aman. Bahkan saat itu Nick tak lagi muncul semenjak mereka pingsan dihari pertama kabur.
Tak mau semuanya menjadi lebih buruk, Khun Tan akhirnya membawa Peat kerumah sakit terpencil diwilayah yang mereka datangi, dan tentu saja disertai dengan penyamaran yang cukup. Namun siapa sangka jika saat kunjungan itu mereka malah mendapatkan berita lain yang lebih mengejutkan, Peat dinyatakan hamil dengan usia kandungan yang sudah memasuki 11 minggu.
Detik itu juga Peat merasakan tubuhnya bergetar hebat. Tak menyangka selama ini ia tengah mengandung, dan yang lebih mengejutkannya lagi terdapat 3 kantung dirahimnya, yang berarti saat ini Peat tengah mengandung anak kembar 3. Tentu saja ini mengejutkan, jika saja benar kandungannya sudah memasuki 11 minggu, maka seharusnya ia merasakan gejala gejala kehamilan trimester pertama. Namun Peat tak merasakan apapun selain tubuhnya yang berubah karena efek reject.
Seperti memperoleh energi baru. Semenjak mengetahui jika dirinya tengah mengandung, seketika rasa kosong dan bingung yang ia rasakan berbulan bulan menjadi hilang. Fokusnya menjadi sepenuhnya pada bayi dikandungannya.
Bukan hanya mengenai kehamilannya, kondisi tubuhnya juga membuat kejutan tersendiri. Dokter yang memeriksa tubuhnya dibuat tercengang dengan kondisi yang Peat miliki.
Tak satupun orang yang tak tahu jika seseorang yang telah direject memiliki tanda coret memanjang diatas tanda pair miliknya. Begitu juga dengan seorang omega yang tengah mengandung, omega itu dipastikan memiliki seorang dominan yang ditandai dengan terciumnya aroma sang dominan dari tubuh sang submisif.
Namun sang dokter mendapatkan kasus yang berbeda pada Peat. Tubuh omega itu tak memiliki aroma feromon sama sekali, dan lagi disaat pemeriksaan berlangsung, tanpa sengaja tanpa pair milik Peat terlihat dan diatasnya terdapat coretan memanjang. Jika benar Peat telah di reject, seharusnya ia tak lagi hidup sekarang, harusnya ia sudah mati dua minggu setelah kejadian tersebut.
Tentu hal ini menjadi mengkhawatirkan. Rasa takut akan masalah baru menjadi muncul. Belum lagi kabar burung mengenai suruhan Fort yang masih mencarinya membuat Peat merasa tak tenang sama sekali. Apalagi ia hidup ditengah tengah wilayah yang membuat jejaknya begitu mudah ditemukan.
Hingga akhirnya Peat hidup berpindah dari satu tempat ke tempat lain, satu wilayah ke wilayah lain, dan dari satu pulau ke pulau lainnya. Sampai akhirnya ia menemukan pulau ini dan sudah menempatinya kurang lebih 6 minggu lamanya.
Tak pernah terbesit dibenaknya jika dirinya akan melewati kehidupan yang sedramatis ini. Dan lucunya ia mampu melewati semua rintangan, bahkan ketika nyawanya sudah berada diujung tanduk.
Hidupnya benar benar menakjubkan.
Mulai merasa bosan dengan posisinya saat ini, Peat kembali menggerakan kursi rodanya kedepan. Rute yang selalu sama hingga ia sudah hapal diluar kepala.
Kriett
Seketika tubuh Peat terpaku. Pendengarannya tiba tiba menangkap suara pintu yang terbuka. Dahinya berkerut penasaran mengenai siapa yang kini membuka pintunya.
"Apa kau perawat yang dikirim Khun Tan?"
Dahi Peat semakin berkerut. Ia tak menerima jawaban apapun dari sumber suara didepan sana, namun sangat jelas derap langkah yang cenderung berlari mendekat kearahnya.
Grep
"Peat-
-aku datang sayang"
TBC
Komentar
Posting Komentar