FORTPEAT - RARE SPECIES - 38
Matahari tenggelam kesekian yang Fort nikmati sendirian setelah beberapa bulan Peat menghilang. Rasa putus asa tak jarang menyusupi hatinya karena omega itu menghilang dalam kondisi yang tidak baik. Tak jarang bisik bisik dari pelayan dan pekerja lain menghampiri telinganya, mengatakan jika apa yang tengah Fort lakukan saat ini hanyalah sia sia.
Banyak yang mengatakan jika Peat tak akan bisa bertahan lebih dari dua minggu. Kondisinya yang tak baik serta penyakit langka yang masih dipercayai orang orang, membuat mereka berasumsi jika Peat telah lama mati.
Namun tidak bagi Fort. Baginya Peat pasti masih hidup disuatu tempat yang entah dimana. Berbekal keyakinannya dan mengingat jika Peat sebenarnya tak mengidap penyakit apapun melainkan membawa keberkahan, Fort sangat yakin omega itu masih bertahan hingga saat ini. Bahkan setiap kali ia meminta Ratu untuk melacak omeganya, Ratu selalu memastikan jika napas Peat masih berhembus dan berbaur dengan udara. Meskipun Ratu tak bisa menerka bagaimana kondisi omega itu, setidaknya mengetahui Peat masih hidup sangat membuat Fort lega.
Tok
Tok
Ketukan dipintu kamar Fort membuat pria tampan itu membalikkan tubuhnya. Pria yang kini menyandang status sebagai Raja sementara itu berjalan kearah pintu kamarnya dan menarik pintu tersebut kearah dalam untuk membukanya.
"Masih diam?"
Helaan napas panjang terdengar dari bibir Fort ketika mendapatkan gelengan kepala dari Saifah.
Tan. Orang yang dicurigai mengirimi berkas yang berisikan bukti kasus besar beberapa bulan lalu akhirnya ditemukan. Dia adalah seorang pengusaha yang mendirikan organisasi Chain yang menyediakan jasa pengawal dan sekaligus menjadi kepala pengawal dari organisasi tersebut.
Butuh waktu lebih dari satu bulan untuk menemukan siapa pengirim email tersebut. Hingga akhirnya mereka menemukannya setelah menyewa hacker terbaik untuk melacak IP sang pemilik email.
Setelah dilakukannya pertemuan, Tan tak memberi alasan pasti kenapa ia mengirimkan semua bukti, bahkan ia juga tak mengatakan dari mana bukti tersebut ia dapatkan.
"Yasudah, kembalilah bekerja. Dua jam lagi antarkan aku ke kamp militer"
Baru saja tangan Fort hendak menutup pintu kamarnya, sebuah selebaran dengan cepat mengisi pandangannya. Dahinya mengernyit bingung kearah kertas tersebut dan berganti menatap bingung kearah Saifah.
"Saat saya keluar dari ruangan Khun Tan. Di meja salah satu pegawainya saya menemukan ini Yang Mulia. Sepertinya mereka belum memperbanyak selebaran ini karena saya hanya menemukan lima lembar ini dengan desain berbeda"
Srett
Mata besar itu segera meniti setiap kalimat yang ditaruh diatas selebaran tersebut. Fort yakin Saifah tak akan mengambil sesuatu yang tak berguna, besar harapannya hal ini berkaitan dengan Peat.
Bukan tanpa alasan Fort mencurigai koneksi antara Tan dengan Peat. Fort ingat betul jika Peat pernah mengatakan ia menyewa detektif untuk menyelidiki kasus pelelangan manusia yang juga ia selidiki dengan Max saat itu. Dan secara kebetulan, satu satunya pihak luar yang berani mengiriminya semua bukti yang bahkan bukan hanya pelelangan manusia hanyalah Tan.
Meskipun semua ini hanyalah berdasarkan posibilitas, Fort ingin berpegang pada hal tersebut untuk sementara. Fort ingin mempercayai jika Peat lah yang mengutus Tan untuk mengirim semua bukti tersebut padanya.
"Perawat?"
"Benar Yang Mulia. Mereka tengah mencari perawat. Disitu juga tertulis upah yang cukup besar untuk ukuran seorang perawat."
"Apa dia memiliki orang tua? Maksudku bisa saja ini diperuntukkan untuk orang tua Tan. Orang tua dari pria dengan umur 50 tahunan bosa saja mengalami beberapa penyakit dan membutuhkan perawat"
"Sejauh ini saya tak menemukan informasi mengenai orang tua Khun Tan, Yang Mulia. Data mengenai Khun Tan cukup sedikit, hanya ada informasi umum bahkan tak ada nama orang lain selain dirinya dicatatan sipil miliknya."
"Benarkah? Bukankah anak dari panti asuhan biasanya memiliki ciri khas data diri seperti ini?"
"Benar Yang Mulia. Tapi juga tak ada sejarah mengenai panti asuhan didalam catatan sipil miliknya"
Kepala Fort berdenyut sakit. Ia membutuhkan seseorang dengan koneksi luas diluar sana seperti Max saat ini. Namun rouge satu itu malah menghilang lebih dari tiga bulan lamanya dan membawa Nat kabur bersamanya. Siapa lagi yang bisa membantunya? Ia tak bisa melimpahkan Saifah lebih banyak tugas lagi dari ini. Bahkan tugas Putera Mahkota saja dikerjakan hampir 70 persen oleh Saifah.
"Baiklah. Terimakasih, kita bicarakan ini lagi nanti."
"Baik, saya permisi Yang Mulia"
-----
Hampir lima bulan lamanya persidangan mengenai kasus yang didalangi oleh Perdana Menteri dilakukan. Dan setiap kali persidangan dilaksanakan, media dan pers diberikan izin penuh untuk menayangkan persidangan tersebut secara langsung hingga dapat disaksikan oleh khalayak ramai.
Sebelumnya selama dua hari berturut turut telah dibacakan putusan final bagi para kaki tangan yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam kasus yang terjadi. Kurungan penjara dengan berbagai macam lama kurungan pun disebutkan, mulai dari yang terpendek 5 tahun hingga terlama seumur hidup.
Dan kemudian pada hari ini sidang terakhir mengenai kasus ini pun diadakan, dengan rangkaian yang dijalankan sesuai protap akhirnya sampailah dipuncak pembacaan putusan final bagi para terdakwa.
Keterlibatan Raja yang tak bisa disepelekan karena menyangkut kemanusiaan akhirnya dihukum dengan diasingkan pada suatu pulau yang tak disebutkan namanya selama sisa hidupnya, Raja akan dikurung penjara selama 10 tahun pertama dipulau tersebut dan diawasi oleh 5 orang yang terdiri dari 3 prajurit militer dan 2 polisi. Hal ini sudah diringankan dari tuntutan jaksa dengan menimbang kinerja Raja yang baik selama 30 tahun lebih menjabat, tak dipungkiri jika selama menjabat Raja tak pernah mengecewakan rakyat dalam hal apapun. Hanya saja pada sisa kepemimpinannya ia termakan oleh ketamakannya sendiri karena haus akan wilayah kekuasaan.
Putusan kedua pun akhirnya dibacakan. Perdana Menteri Jom dijatuhi hukuman mati dengan eksekusi yang nantinya akan dibuka untuk umum. Hal ini bertujuan agar memberi efek jera pada orang orang agar tak mengulangi kesalahan yang sama, namun demi menjaga mentalitas sebagian kalangan, mereka yang berada dibawah umur tak diizinkan untuk masuk ke arena pengeksekusian. Dan dengan segala tindak kejahatannya seperti memperjual belikan barang ilegal, human trafficking hingga kejahatan terhadap humanity, Jom juga akan menerima 100 cambukan sebelum dieksekusi mati nantinya.
Desahan lega terdengar hampir serempak didalam persidangan. Semua orang tampak puas dengan apa yang dibacakan hakim didepan sana. Haru dan riuh tepuk tangan mengiringi suasana sidang. Hingga akhirnya sang hakim kembali menyalakan mic miliknya dan mulai membuka suara.
"Seterusnya, berkenaan dengan kondisi terdakwa 0406 yang tak memungkinkan untuk melanjutkan persidangan, dengan ini saya akan membacakan putusan saudara Net Siraphop Manithikhun. Atas tindakan kejahatan yang bertindak langsung sebagai kepala eksekutor dilapangan, maka seluruh aset yang berada dibawah nama saudara Net akan ditarik dan disita hingga kemudian hasilnya akan dibagikan sesuai porsinya pada para korban yang mengalami kerugian. Dengan putusan ini sidang hari ini saya nyatakan berakhir-"
Tuk
"-dan apabila dikemudian hari dirasa ada hal yang tidak berkesesuaian, terdakwa diizinkan mengajukan banding disertai dengan kelengkapan bukti dan dokumen yang cukup. Dan dengan ini sidang saya tutup"
Sorakan kemenangam terdengar menggema diseluruh ruangan bersamaan dengan terdengarnya bunyi tiga ketukan palu yang menandakan sidang telah berakhir dan ditutup. Semua masyarakat yang berada dalam ruang persidangan pun tak henti hentinya mengucap syukur karena para pelaku mendapatkan hal yang setimpal dengan apa yang mereka lakukan.
Berbeda dengan pria yang berdiri diluar ruang sidang dengan topinya yang turun menutup hampir seluruh wajahnya. Dengan setelan gelapnya pria dengan tubuh besar itu melangkah menjauhi ruang sidang dengan air mata yang menetes mengaliri pipinya.
Tak bisa Fort pungkiri jika ia sedih mendengar putusan hari ini. Dua orang yang ia sayangi menerima hukuman yang tak bisa dibilang ringan.
Ayahnya diasingkan dan dipenjara serta tak diizinkan kembali ke wilayah Azea. Pria gagah yang ia lihat selama tumbuh kembangnya itu berakhir menyedihkan dipengasingan. Meskipun ia sangat menghormati dan menyayangi pria itu, Fort tetap menerima keputusan yang diberikan pengadilan, ayahnya adalah pelaku kriminal dan hampir menghilangkan nyawa seseorang.
Berbeda cerita dengan Net. Pria malang yang menyedihkan. Semua yang ia lakukan hanyalah untuk keselamatan omeganya. Tak lebih dan tak kurang. Bahkan pernikahan yang ia lakukan pun adalah kartu terakhir yang terpaksa ia gunakan agar dapat kembali bersama James.
Namun apa yang bisa dikatakan? Orang orang tak akan mengerti dan tak ingin mengerti alasan dibalik tindak kejahatan. Mereka hanya ingin semua kriminal ditindak sesuai dengan perbuatan. Fort tak menangisi aset Net yang kini disita dan dilimpahkan kewenangannya pada pemerintah. Namun Fort menangisi kondisi yang terjadi pada alpha itu. Selepas kepergiannya, hanya label kriminal dan penjahatlah yang ia miliki. Tidak keluarga, tidak harta apalagi cinta.
Kaki panjang itu pun berhenti diujung lorong. Tepatnya didepan jendela yang kacanya terbuka lebar dan menampakan megahnya langit cerah disore itu. Iris aqua itu pun mendongak, memfokuskan penglihatannya kearah satu satunya awan yang mengisi langit saat ini.
"Bagaimana? Kau sudah bertemu dengannya Net? Hei, jangan malu karena semuanya sudah selesai disini. Tegakkan kepalamu dan melangkahlah dengan percaya diri kearahnya. Mintalah dia dan berbahagialah. James milikmu seutuhnya kawan." Mata sembab itu menenggelamkan iris aqua tersebut ketika sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman lebar. Air mata kembali mengalir melewati pipinya dan turun menuruni bibirnya.
Kawannya yang menyedihkan.
Tangan besar yang berisikan secarik kertas kusut itupun terangkat, kepalanya menunduk menatap isi lembaran tersebut dan meremasnya kembali.
"Jangan khawatir. Pesan ini akan kusampaikan secepatnya padanya. Pegang janjiku kawan" Fort menyimpan kembali kertas kusut itu kedalam sakunya. Mengusap wajahnya kasar dan kembali memasang masker diwajahnya.
Kini ia harus bergerak lagi, ia harus menemukan si pemilik surat ini beserta si pemilik hatinya saat ini.
-----
Dua manusia dengan tubuh berbeda tinggi menyentuhkan tapak kakinya dilandasan pagi ini. Dengan kacamata hitam yang membingkai wajah keduanya, pasangan tersebut terlihat semakin serasi dengan rangkulan dipinggang sang submisif. Belum lagi tangannya yang mengusap sisi perut besar yang tampak jelas tercetak dibalik baju tipis yang sang omega kenakan.
"Dingin?" Noeul menggeleng pelan, tangan yang kukunya dihiasi nail art lucu itupun bergerak menaikan kaca mata hitamnya hingga tersampir diatas kepala.
"Sayang, kudengar didekat sini-"
"Jelly?" Boss menghela napas saat melihat sang istri memamerkan deretan gigi kelincinya dengan mata yang mengerjap lucu untuk memohon. Apalagi kalau bukan jelly yang diminta omega ini?
"Ini berbeda dari jelly yang lain. Katanya ada jelly yang memiliki 10 rasa sekaligus ketika dimakan. Aku hanya penasaran, tak lebih.." Noeul memelankan suaranya ketika mengakhiri perkataannya, mencoba membujuk sang alpha agar menuruti keinginannya.
"Lalu kenapa kita membawa sekoper jelly jika kau akan membeli hal yang sama disini hm?"
"Tapi- itu- Bunbun sepertinya-"
"Jangan bersembunyi dibalik Bunbun, sayang" Boss menatap Noeul lekat, kepalanya menggeleng kecil, paham betul jika istri kecilnya ini akan memanfaatkan calon bayi mereka untuk keinginannya.
Sang omega yang menyadari jika ia tak lagi bisa memanfaatkan kehadiran sang calon bayi hanya mampu mencebikkan bibirnya. Pipinya sedikit menggembung dengan langkah kaki yang menghentak kesal. Suaminya tak lagi bisa dikelabui, menyebalkan.
Boss hanya tersenyum tipis. Membiarkan istrinya merajuk karena ia tak mungkin selalu menuruti kemauan sang omega. Apalagi mereka sudah membeli banyak jelly sebelum pergi ke Azea. Jika membeli lagi disini, sama saja dengan boros, Boss tak suka itu.
"Sebagai gantinya aku akan membuatkan susu hangat dan memijat kakimu sebelum tidur, bagaimana?" Mendengar tawaran yang cukup menarik itupun membuat Noeul berdeham kecil. Matanya melirik kearah Boss memastikan jika sang alpha serius.
"Aku serius" Boss menampakan senyuman lebarnya untuk meyakinkan Noeul jika ia bersungguh sungguh dengan ucapannya
Noeul mengerjapkan matanya sebelum kembali menatap kearah depan, kini matanya berputar kesebelah kanan seolah tengah berpikir mengenai tawaran yang Boss berikan.
"Bahuku juga"
"Setuju" Boss mengulurkan tangannya kearah Noeul dan disambut dengan jabatan tangan dari sang omega. Noeul kemudian menolehkan kepalanya diiringi dengan senyum lebar yang menggemaskan. Keduanya pun terkekeh kecil sebelum Boss melayang kecupan singkat dipelipis sang istri.
"Ah.. Aku tak sabar bertemu dengan ibu. Aku merindukannya"
"Kau tak merindukan Fort? Ah- maksudku Raja?"
Noeul mendengus ketika telinganya mendengar nama sang kakak. Emosinya seketika kembali memuncak diubun ubun mengingat semua peristiwa yang diceritakan ibunya berbulan bulan lalu.
"Alpha bodoh itu akan berakhir mengenaskan ditanganku. Lihat saja, Ugh! Sialan!"
-----
Bugh
"Ou!"
Grep
"Akhh! Ukh- lepashh- akh- Noe-"
Baru saja ia ingin membalikkan tubuhnya saat mendengar suara sang adik dari pintu utama Golden House, Fort merasakan bokongnya yang ditendang sangat kuat dari arah belakang. Membuat tubuhnya seketika jatuh kearah depan dan membentur lantai. Untung saja tangannya menumpu dengan baik hingga wajahnya tak ikut menabrak kerasnya lantai istana.
Namun belum sempat ia berbalik untuk bangkit dari posisinya, tengkuknya sudah dicengkram sangat kuat dari arah belakang, disertai bobot berat tubuh seseorang yang ikut menghimpit tubuhnya. Membuat Fort sedikit kelimpungan dan merasa sesak seketika.
Jika saja pria kecil yang menduduki tubuhnya saat ini tidak hamil, mungkin dengan mudah ia akan menjatuhkan Noeul keatas lantai. Namun ini berbeda! Ia tak mungkin menyakiti omega hamil ini, ia tak mau keponakannya yang masih berada dalam perut itu mengalami masalah hanya karena hal sepele seperti ini.
"Dasar bodoh! Sudah kubilang akan menendang bokongmu jika kau menyakiti Peat bukan?! Cih! " Lengkingan suara itu mengisi ruang besar istana. Membuat beberapa pelayan yang masih sibuk berlalu lalang menyiapkan hidangan untuk menyambut kedatangan Boss dan Noeul berhenti seketika.
"Sayang, jangan begini. Ayo lepaskan, apa kau tak kasihan pada kakakmu hm?" Meskipun Boss sangat menikmati pertunjukan didepannya, tapi melihat omeganya bergerak begitu aktif sedikit membuatnya khawatir. Omega ini tengah mengandung dan gerakannya saat ini terlalu besar untuk seukuran orang yang tengah mengandung. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan bayi mereka?
"Pria bodoh ini harus diberi pelajaran sayang. Otaknya akan semakin kosong jika dibiarkan begitu saja! " Dengan mata yang menatap nyalang pria dibawahnya, Noeul semakin mengeratkan cengkeramannya dileher Fort.
"Akh- Boss angkathh- istrimuh- sialh" Erang Fort kesal. Apa ia harus mati dulu agar Noeul melepaskannya?
"Kau berani mengutuk suamiku hah?! Fort bajingan!!!" Kini bukan lagi cengkeraman, tangan Noeul sudah berpindah kerambut Fort dan menariknya naik turun. Alpha bodoh ini sudah menyakiti sahabatnya dan sekarang mengatai suaminya? Dia ingin mati atau apa?!
Sial!
Berbeda dengan suasana tegang yang terjadi antara kakak beradik tersebut, suara kekehan geli terdengar dari Boss yang kini tampak memegangi bahu Noeul seolah olah tengah mencoba menghentikan pertengkaran ini. Melihat temannya yang disiksa sedemikian brutalnya, membuat dirinya benar benar terhibur. Ini adalah pemandangan baru. Selama ia mengenal Fort, ia tak pernah melihat Fort berada dalam kondisi seperti ini. Alpha ini selalu terlihat berwibawa dan berkarisma dalam kondisi apapun.
Namun tak butuh waktu lama, melihat Fort yang sudah mengangkat tangannya dengan putus asa membuat Boss mengalah dan akhirnya mengangkat omega hamil tersebut dari atas tubuh Fort. Meskipun ia cukup kesulitan karena Noeul yang terus memberontak, Boss akhirnya berhasil menjauhkan Noeul dan memeluk erat omega yang masih memuntahkan sumpah serapahnya pada kakaknya tersebut.
Perlahan tubuh besar yang terbaring dilantai itupun bangkit dari posisinya, dengan tangan yang memegangi pinggangnya yang terasa sedikit sakit karena tak siap dengan serangan mendadak dari adiknya, Fort juga terlihat sangat kacau dengan rambut yang acak acakan. Rambut rapi yang ditata dengan hair spray mahal tersebut kini mencuat keberbagai arah, membuat Raja sementara itu terlihat seperti ilmuan gila yang ada dibuku buku sains sekolah.
Bersamaan dengan berdirinya Fort dari posisinya, sang Ratu pun turun ke lantai pertama setelah menyudahi tumpukan pekerjaannya. Mendengar jika putera bungsunya sudah datang, membuatnya menutup segala dokumen pekerjaannya dan bergegas melihat putera dan menantunya.
"Anak ibu sudah datang" Dengan langkah cepat Ratu menghampiri puteranya yang berada dalam pelukan suaminya. Senyum lebarnya tak luntur sejak pertama kali matanya melihat siluet putera bungsunya yang berada dalam pelukan menantunya
Noeul segera melepas pelukan Boss dan beralih memeluk sang ibu erat. Tubuh keduanya bergerak seirama diiringi hujaman kecupan dari sang Ratu dikepala sang putera.
"Aku sangat merindukan ibu, bagaimana kabar ibu?" Suara omega itu berubah menjadi manja, Noeul berubah menjadi si bungsu manja setelah berada dalam pelukan ibunya.
"Benarkah? Tapi sepertinya ibu lebih merindukanmu sayang. Ibu baik nak, bagaimana denganmu hm?"
"Jangan ditanya, bahkan baru sampai saja dia sudah menendangku bu" Bukannya mendapat jawabam dari anak bungsunya, sang Ratu malah mendapatkan aduan dari putera sulungnya, membuat sang Ratu menoleh kearah Fort dan kemudian meringis seketika.
Melihat reaksi sang ibu membuat Fort hanya mampu memutar bola matanya jengah. Apa ia tak cukup mengenaskan untuk dibela? Dimana haknya sebagai putera disini?! Arghh!!
"Yasudah, ayo makan dulu. Aku sengaja menahan lapar agar bisa makan bersama kalian, namun bukan makanan yang tubuhku dapatkan, melainkan rasa sakit dari adik yang sudah berbulan bulan tak pulang" Fort kemudian beranjak dari posisinya menuju meja makan panjang yang berada ditengah ruangan, tangannya pun turut sibuk merapikan rambutnya yang sudah acak acakan.
Baru saja Noeul ingin membalas perkataaan sang kakak, ibunya segera menggelengkan kepala untuk menghentikan perbuatannya, membuat Noeul bungkam dan mengangguk pasrah menyetujui permintaan sang ibu.
"Ayo Boss, kita makan"
"Baik bu"
-----
Desir pasir mulai mengusik suasana pagi buta dipesisir pantai yang tak terlalu beriak. Sepasang kaki putih tampak menyisir sisi pantai dengan langkah ringan. Senandung kecil pun terdengar cukup merdu untuk suara pertama yang ia keluarkan hari itu.
Tongkat yang ia pegang disisi kanan tubuhnya pun bergerak seirama, tangan lainnya yang kosong pun mengusap perut besarnya. Matanya menatap jauh kearah kosongnya pantai yang tak diisi siapapun. Bibir tipisnya tersenyum tipis menikmati suasana nyaman yang ia sukai.
Kaki itu kemudian berhenti tepat dua meter dari gazebo kayu yang berada ditepi pantai. Mata rusa itu menyipit memfokuskan pandangannya, berusaha memastikan jika gazebo yang ia tuju sedari tadi benar benar sudah berada dihadapannya.
"Hah.. Akhirnya, kita duduk disana ya sayang" Suara lembut yang terlontar dari bibir tipis itu membuat janin yang berada didalam perutnya menimbulkan sedikit pergerakan. Mereka seolah setuju dengan ucapan ayah mereka untuk duduk digazebo kayu tersebut.
Pria dengan mata rusa itupun tersenyum dan kembali melangkahkan kakinya kearah gazebo tersebut. Tubuhnya sudah tak kuat, ia harus segera duduk untuk mengisi energinya kembali.
'Peat'
Suara familiar yang menemaninya selama beberapa bulan kebelakang itu pun terdengar setelah dirinya berhasil duduk diatas kursi kayu gazebo. Peat bergumam kecil menanggapi panggilan Nick sambil menyamankan posisi duduknya.
'Kupikir kursi roda tak buruk untuk dicoba.'
'Kkk.. Kau mengkhawatirkanku?' Peat terkekeh dengan tangannya yang kini memijat kedua matanya secara perlahan. Matanya terasa sangat lelah. Bukan mengantuk, hanya saja jarak penglihatannya terus menerus berkurang. Apalagi dua minggu belakangan ini jaraknya berkurang lebih cepat dua kali lipat dari biasanya. Saat ini matanya hanya mampu melihat jelas objek dalam jarak kurang lebih 1,5 meter. Jika ia memaksakannya, maka otot matanya akan lelah seperti saat ini.
'Siapa yang tidak? Bahkan kakimu mati rasa setelah berjalan sejauh ini'
'Hei bercerminlah tuan. Berhentilah untuk memberiku tambahan energi, bahkan sekarang kau hanya bisa bergelung saat ini untuk menghemat energimu. Dan lagi perjalananku tak jauh. Pantai ini hanya 100 meter dari rumah Nick'
Peat kembali membuka matanya, tubuhnya ia rebahkan hingga terbaring menatap langit langit gazebo. Tangannya menangkup perut besar yang kini hendak memasuki bulan keenamnya.
'Jika aku tak memberimu energi, kau akan berhenti tepat didepan pintu rumah Peat. Kau tak akan bisa menikmati pantai pagimu lagi'
'Ah, terimakasih kalau begitu, kkk... Tapi jangan terlalu boros. Ingat, bukan cuma aku yang terkena efek ini. Kau juga. Bahkan kita tak lagi bisa bertukar ruh apalagi shifting'
'Dan terimakasih juga karena kau memiliki darah istimewa seperti ini. Kupikir kita akan mati ketika kabur saat itu, kkk.. '
'Eum, benar juga. Tapi jika diingat lagi, aku menjadi merasa bersalah pada bayi bayi ini. Malam itu aku sangat ingin mati Nick, aku sangat kalut. Beruntung aku memilikimu, jika tidak aku tak tahu dimana aku sekarang'
Mendadak wajah Peat berubah sendu. Pikirannya kembali melayang pada malam saat ia kabur dari istana. Bibirnya menggumamkan maaf dengan tangan yang mengusap perut besarnya. Ia benar benar merasa bersalah pada bayi bayi didalam perutnya.
Srett
Omega dengan mata rusa itu terkesiap ketika sebuah tangan asing ikut menyentuh perutnya. Bergegas tubuhnya bangkit dari posisi tidurnya dan melihat orang yang tiba tiba ikut mengusap perutnya.
Degg
"Luna?"
TBC
Komentar
Posting Komentar