FORTPEAT - RARE SPECIES - 28
Dipelataran istana yang luas, pada bagian bagasi penyimpanan kendaraan, tampak dua orang dengan perbedaan tubuh mencolok berdiri dintara beberapa mobil. Mata besar beriris aqua menatap wajah sang submisif yang tengah berpikir keras.
"Bagaimana? Kau ingin naik yang mana?" Tanya Fort antusias, semalam ia memberitahu Saifah agar bagasi ditata dengan mobil paling mewah dan paling baru berada dibagian depan. Ia juga memerintahkan Saifah untuk mengurus kebersihan seluruh mobil karena hari ini ia akan berkencan dengan omeganya. Senyum bangga yang ia tampilkan memperlihatkan seberapa puas ia dengan hasil yang didapat, bahkan mobil lama pun terlihat mengkilap dari kejauhan.
"Yang Mulia" Cicit Peat pelan, tangannya menggerakkan kecil tangan Fort yang ia genggam, bibirnya menggigit bibir bawah bagian dalamnya, tingkah Peat menunjukkan ragu bercampur hati hati.
"Hm?"
"Apa kau- tak memiliki motor?" Peat menoleh, menatap Fort dengan mata anak anjing yang memohon.
-----
Deru mesin motor dipelataran istana terdengar sangat nyaring. Motor 1500 cc dengan warna merah tampak mengeluarkan polusi begitu banyak dari cerobong asapnya. Namun sang pengemudi tak menghiraukan dan terus menaikkan kecepatan motor yang ia kendarai.
Disisi bagasi pelataran, pria dengan mata rusa menatap kagum kearah pria yang tengah mencoba motor merah dihadapannya. Motor itu bergerak dengan ringan hingga meliuk bahkan miring dalam sudut tiga puluh derajat.
Putera Mahkota memang berbeda. Tak ada yang tak bisa ia lakukan. Bahkan dengan motor besar yang entah berapa lama berada didalam bagasi pun pria besar itu tampak sangat hebat mengendarainya.
Dalam sekejap motor besar berwarna merah tersebut berada dihadapannya, pria besar yang berada diatasnya kemudian turun tepat setelah mematikan mesin motor yang baru saja ia kendarai.
Seketika pipi Peat bersemu dengan jantung yang berdegup cepat. Sang Putera Mahkota terlihat sangat amat menawan sekaligus tampan ketika turun dari motor besar miliknya. Belum lagi helm full face yang ia kenakan terlepas dari kepalanya, membuat rambutnya sedikit terangkat dengan kepalanya yang bergoyang untuk menurunkan semua rambutnya kembali. Jangan lupa tangannya yang kini sudah menyisir rambut hitam itu kebelakang untuk merapikannya. Entah kenapa.. Semuanya begitu terasa sempurna dimata Peat.
Flip
"Apa aku setampan itu?" Jentikkan jemari didepan wajahnya berhasil membawa Peat kembali ke alam sadarnya. Membuat sang empu semakin tersipu karena ia tertangkap basah mengagumi pria didepannya. Kepala Peat semakin menunduk ketika matanya tanpa sengaja bertemu dengan mata Fort.
"Ekhem" Fort berdeham cukup keras, melihat Peat yang menunduk malu membuatnya juga merasa malu. Wajahnya berpaling kearah lain dengan kepalan tangan yang berada didepan bibirnya, matanya mengerjap cepat karena ia menjadi gugup tiba tiba.
Tebar pesona bukanlah hal baru bagi Fort, bahkan ia sudah sangat terbiasa dengan hal tersebut. Melakukan hal seperti ini biasanya akan membuat rasa percaya dirinya semakin naik dan bahkan kadang ia bisa menggoda para submisif yang tersipu karenanya.
Namun kali ini berbeda, setelah menggoda Peat dengan pertanyaannya, ia malah tersipu bahkan gugup setelahnya. Jantungnya ikut berdegup karena melihat Peat yang tersipu kearahnya.
Ada apa dengannya sebenarnya?
Apa jatuh cinta memang seperti ini?
"Yang Mulia.." Sebuah tangan kecil terlihat memegang ujung kemeja milik Fort, tangan tersebut menarik narik kecil ujung kemeja tersebut malu malu. Wajah Fort semakin memerah hanya dengan melihat tangan yang malu malu menarik ujung kemejanya.
"Hm?" Fort bergumam kecil, suara degup jantungnya sangat keras hingga telinganya sendiri tak mendengar gumaman yang ia keluarkan.
"Ayo- berangkat"
-----
Jalan utama terlihat begitu ramai. Berkencan pada hari selasa pada pukul 8 pagi, mau tidak mau mereka akan terlibat dalam padatnya lalu lintas. Beberapa kali motor besar berwarna merah itu tampak berhenti dilampu lalu lintas. Namun hal seperti ini malah membuat sang pengemudi bersyukur karena ia bisa lebih lama merasakan pelukan hangat dibelakang tubuhnya.
Perjalanan yang cukup panjang terlihat dilalui dengam baik. Tangan Fort terlihat hampir selalu berada diatas tangan putih yang berada diatas perutnya. Sesekali tangan besar itu terlihat mengusap punggung tangan dari sang submisif.
Dibagian belakang pun terlihat tak kalah nyaman, dengan kepala yang bersandar pada punggung lebar sang dominan dan tangan yang memeluk erat pinggang penuh otot tersebut, Peat terlihat begitu menyukai apa yang ia rasakan. Kaca visor dari helm yang Peat kenakan terlihat diangkat hingga wajah berseri itu tampak keseluruhan. Mata rusa itu terpejam, bibir tipisnya tersenyum, angin yang sedikit melewati wajahnya tampak membelai surai surai miliknya yang tak tertutup secara sempurna oleh helm yang ia gunakan.
Tak lama jalan pun berubah sepi. Mobil mobil serta beberapa motor yang meramaikan jalan sebelumnya perlahan mulai menipis. Sisi jalan mulai dipenuhi pepohonan yang daunnya menghalangi cahaya matahari.
Tangan besar yang semula hanya menangkup tangan Peat, kini berubah menyelipkan jarinya kesela sela jari kurus tersebut. Membuat sang omega tersipu karena pergerakan kecil yang diberikan sang alpha.
Tak berselang lama peradaban kembali terlihat. Jalanan yang diterangi sinar matahari terlihat begitu jelas membentang. Jalanan tak lagi ramai, sepertinya orang orang sudah bergegas memasuki kantor masing masing dan berkutat dengan pekerjaannya. Hanya ada beberapa kendaraan yang berlalu lalang, hingga Fort berinisiatif untuk melajukan motornya lebih cepat karena mereka belum mengisi perut dengan apapun pagi ini.
-----
Deru mesin motor berhenti didepan sebuah tenda pinggir jalan yang sepi. Dengan mata berbinar Peat segera turun dari motor besar itu dengan menumpukan semua beban tubuhnya pada pundak Fort. Layaknya bayi yang bertemu dengan mainan kesukaannya, Peat segera berlari menuju tenda pinggir jalan tersebut sebelum sebuah tangan menggapai lengannya.
"Ada apa?" Peat memutar kepalanya kearah Fort dengan bibir mencebik. Ia ingin makan, perutnya sudah lapar dan aroma sop daging dari tenda didepannya sudah menusuk indra penciumannya.
Fort terkekeh geli, tangannya bergerak kearah sisi kepala Peat yang masih mengenakan helm dan mulai melepaskannya.
"Helmmu sayang" Fort kembali terkekeh ketika melihat Peat mengulum senyum malu. Tangannya kini beralih merapikan helaian rambut Peat yang berantakan.
Mata rusa itu kemudian melirik pria didepannya, tangannya terangkat keudara untuk ikut merapikan rambut Fort yang tak terlalu berantakan.
"Aku juga ingin merapikan rambutmu, hehe"
Keduanya pun terkekeh geli sebelum masuk kedalam tenda tersebut untuk mengisi perut kosong mereka.
-----
Dahi putih itu berkerut bingung, matanya berpendar melihat kesekeliling taman bermain yang kosong. Benar benar kosong.
"Kenapa hm? Kupikir akan melihat senyum lebarmu setibanya disini" Fort menekuk sedikit tubuhnya untuk mensejajarkan mata mereka, kedua tangannya berada dibelakang tubuh saling bertaut.
"Bu-bukan seperti itu. Mana mungkin aku tak menyukainya ketika aku yang menyarankan tempatnya. Tapi apa benar taman bermain sekosong ini?" Setelah menatap sesaat mata besar didepannya, mata beriris cokelat terang itu kembali berpendar tak percaya menatap sekelilingnya. Apa taman bermain tak seseru dulu? Seingatnya bermain disini cukup menyenangkan dan selalu ramai pengunjung. Ya meskipun hari ini adalah hari kerja, tapi setaunya taman bermain tak pernah kosong melompong seperti sekarang.
Fort segera menegakkan tubuhnya dengan saliva yang ia telan gugup, alpha itu kemudian terlihat menjilat bibirnya yang tiba tiba menjadi kering.
"Bukankah itu bagus? Hanya kita berdua dan-"
"Ini tak seperti yang kupikirkan bukan?" Mata rusa itu beralih menatap pria besar didepannya dengan tatapan menyelidik. Pria tan ini mencurigakan.
Gulp
"Tidak" Fort menjawab cepat, bibirnya kembali terasa kering dan ia buru buru menjilatnya kembali.
Grep
"Matahari semakin tinggi, sebaiknya kita tak menghabiskan waktu dengan berdiri saja bukan?" Fort segera meraih tangan Peat dan mengajaknya untuk mulai menjelajahi taman bermain yang terkenal di wilayah pendamping.
-----
Derai tawa terdengar begitu nyaring dari dua orang yang sibuk dengan benda masing masing ditangannya. Tak jarang Peat sampai memegangi perutnya karena keram akibat tertawa. Tak berbeda, alpha besar tersebut juga memecahkan gelak tawanya ketika ia berhasil mendadani Peat cukup aneh.
Begitu banyak aksesoris berada dihadapan mereka. Berbagai macam bando, headband hingga penutup kepala tersaji didepan mata. Beberapa mainan lain seperti kumis palsu, topi kerlap kerlip serta bulu bulu kerlap kerlip yang diset sepasang, mainan gigi taring dengan lampu yang menyala ditengahnya, anting anting kecil hingga besar. Bahkan boneka boneka lucu dan beberapa kostum aneh serta menggemaskan turut terpajang.
Merasa puas dengan tingkah aneh masing masing, baik Fort maupun Peat akhirnya mengambil kostum kelinci dan rubah untuk dibeli. Tak perlu menunggu hari lain, hari itu juga mereka mengenakan kostum yang sudah mereka beli.
"Tidak! Aku ingin rubah" Peat mendorong tangan Fort yang menyodorkan kostum kelinci putih padanya, kepalanya menggeleng dengan tangan lain yang mencoba meraih kostum rubah oranye yang berada ditangan Fort yang lain.
Srett
Tiba tiba saja tangan Fort yang memegang kostum rubah terangkat tinggi hingga Peat tak bisa menggapainya. Pria kecil itu terlihat kesusahan, matanya menatap tajam kearah Fort sambil terus melompat lompat dengan tangan yang coba ia ulurkan lebih panjang.
Fort terkekeh melihat tingkah Peat yang menggemaskan. Tangannya naik turun searah dengan tubuh Peat yang melompat naik turun. Astaga! Siapa yang menciptakan makhluk semenggemaskan ini?! Lihatlah wajah marahnya, pipinya menggembung dengan bibir mencebik lucu, alisnya tertekuk dengan mata yang menatap kostum rubah berapi api, bahkan tak satu pun dari lompatannya yang cukup tinggi untuk meraih kostum rubah ditangannya.
Grep
"Aa!!!"
Tangan besar yang memegang kostum kelinci tersebut seketika mendekap pinggang Peat. Satu kaki Fort segera bertumpu dibelakang membentuk kuda kuda agar tubuhnya tak terhuyung. Reflek tangan Peat memeluk leher Fort, tubuh mereka menempel tanpa ada jarak diantara keduanya. Teriakan Peat mewakili seberapa terkejutnya ia ketika tiba tiba kakinya masih mengawang diudara. Bahkan raut yang berapi api sebelumnya seketika berubah menjadi terkejut.
"Uwah! Yang Mulia! " Seru Peat sambil memundurkan kepalanya menatap wajah Fort, raut terkejutnya masih ketara terlihat.
Tangan Fort yang semula melilit pinggang Peat, kini dengan cepat berpindah untuk menopang bokong sintal omega itu.
"Kkk, kau terkejut?" Peat mengangguk cepat menjawab pertanyaan Fort, matanya masih terbelalak dengan mulut yang masih terbuka, membuat Fort kembali terkekeh karena Peat terlihat berkali lipat menggemaskan dengan wajah terkejutnya.
"Ingin kostum ini?"
"Eung"
"Panggil namaku. Fort"
"Eh?"
-----
Srettt
"Pfftt" Pria cantik yang sudah mengenakan kostum rubah itu seketika menutup mulutnya dengan punggung tangan. Ia tak kuasa menahan tawanya ketika melihat Fort dengan tubuh besarnya tengah mengenakan kostum kelinci. Dan lebih parahnya lagi pria raksasa itu hanya bisa mengenakan hoodie yang berbentuk kepala kelinci dengan satu lengan yang tertutupi lengan kostum.
"Tak muat. Menyebalkan" Wajah Fort tertekuk kesal, membuat tawa Peat pecah seketika dan menghambur kehadapan Fort.
"Ututu. Kelinciku yang menggemaskan" Tangan kecil itu kini menempel pada pipi berisi milik Fort diiringi cubitan kecil yang ia bawa memutar. Mata rusa itu menatap Fort berbinar. Fort terlihat sangat menggemaskan dimata Peat.
Grep
"Tapi kostumku tidak muat" Adu Fort setelah memeluk pinggang Peat, bibirnya mencebik sedih.
"Kkk, tubuhmu terlalu besar Yang- ah, maksudku Fort. Hihi. Tak ada manusia biasa yang sebesar dirimu" Ujar Peat dengan tangannya yang mengeluarkan telunjuk dan kini mulai menusuk nusuk pipi sang alpha.
"Seharusnya kita ke taman bermain diwilayah inti."
"Disini lebih baik. Wilayah inti tidak seru"
Sepasang kekasih itu berjalan dengan tubuh yang masih saling berpelukan. Kaki Peat bahkan tanpa sadar sudah berada diatas kaki Fort sehingga Peat terlihat berjalan mundur dengan Fort yang melangkah maju.
"Oh, benarkah? Kau sudah pernah kesana? Bagaimana kau bisa tau? "
"Belum, tapi disini aku sudah pernah, dan aku ingin kau merasakan betapa serunya disini."
"Kau pasti sudah jatuh cinta padaku, kau bahkan mengajakku ketempat seseru ini"
"Huu, terlalu percaya diri" Keduanya kembali terkekeh sepanjang perjalanan ketika menuju ke wahana permainan.
-----
Berbagai arena wahana sudah mereka datangi. Meskipun di taman bermain hari ini hanya ada mereka berdua, namun sorakan dari keduanya tak membuat taman bermain terlihat sepi. Senyum cerah hingga tawa renyah dari keduanya membuat suasana taman bermain cukup hidup.
Banyak wahana yang mereka coba hingga tanpa terasa lima jam sudah mereka ditaman bermain. Tubuh mereka menjadi sangat panas dan cukup berkeringat karena beberapa wahana ekstrim yang memacu adrenalin.
Kini keduanya tampak merebahkan tubuh mereka diatas sebuah tikar dengan liris merah jambu dibawah salah satu pohon rindang. Tepat setelah selesai dari wahana viking, Peat melihat jika ada satu tikar yang tergelar begitu saja dibawah pohon sehingga mereka bergegas untuk bisa beristirahat sejenak disana.
"Wah, aku tak tau jika menyelesaikan wahana sebanyak ini akan menguras tenaga. Bahkan aku kehabisan napas rasanya" Ujar Peat setelah tubuhnya rebah diatas tikar, anggota geraknya ia rentangkan selebar mungkin hingga tubuhnya terlihat seperti bintang. Bahkan kostum rubah yang ia kenakan sudah terlepas dan tergeletak begitu saja diatas rumput bersamaan dengan kostum kelinci yang Fort kenakan sebelumnya.
"Biarku berikan napas buatan"
Srettt
Fort berguling kearah Peat ketika mendengar pernyataan pria cantik itu. Tubuhnya kini bertumpu pada lengan yang ia lipat dibawah tubuhnya.
"Ck! Aku tau tujuanmu bukan itu Fort" Peat mendelik, kepalanya menggeleng kecil diiringi dengan mata yang ia pejamkan. Pria besar ini hanya tengah mencari kesempatan padanya.
"Kkk, kenapa kau terlalu pintar Peat? Otakku harus berpikir keras agar kau bisa jatuh pada jebakanku" Peat tersenyum tipis dan memilih menghiraukan pernyataan Fort.
"Peat"
"Hm?"
"Kenapa kau mengajakku berkencan?" Tiba tiba suasana yang sebelumnya penuh canda berubah sedikit serius. Bahkan Peat juga mendengar jika nada Fort terdengar cukup serius.
Mata rusa itu perlahan terbuka dan mendapati wajah Fort yang sudah berada tepat diatasnya, menatapnya dalam seolah meminta penjelasan.
"Kau ingin aku jujur atau tidak?"
Kini giliran Fort yang terdiam, matanya menatap Peat lekat dengan otak yang menimang pilihan dari Peat. Sedikit takut jika perasaannya akan tersakiti jika memilih jujur.
"Jujur"
Peat menarik napasnya dalam dan menghembuskannya perlahan. Tangannya bergerak menepuk bahu Fort seolah menyuruh pemuda itu agar bangun dan mereka bisa duduk saling berhadapan.
Kedua pemuda itu akhirnya bangun dan duduk berhadapan diatas tikar tersebut, kaki yang duduk bersila itu bahkan terlihat tumpang tindih dengan tangan Peat yang menggenggam tangan Fort.
"Aku ingin merasakan cinta dan kasih sayang untuk terakhir kalinya Fort"
Degg
Mata Fort mengerjap cepat, seketika waktu terasa berhenti berputar disekelilingnya. Rautnya berubah bingung dan terkejut, matanya yang menatap Peat sedari tadi tak lepas sedetikpun.
"Apa maksudmu yang terakhir kali? Kau ingin meninggalkanku?" Nada tanya Fort berisikan amarah, meskipun rautnya ia coba perlihatkan setenang mungkin, namun Peat masih melihat sirat terluka dari wajah sang alpha.
"Bukan aku" Ibu jari Peat yang berada diatas punggung tangan Fort kini bergerak mengelus punggung tangan tersebut, mencoba untuk menenangkan.
"Tapi kau" Raut wajah Fort semakin bingung. Kapan ia mengatakan hal omong kosong seperti itu?
"Maafkan aku jika menurutmu ini hanya kesimpulan sepihak. Malam setelah kita kembali dari club, aku menanyakan pendapatmu mengenai Net-"
"Itu hanya-"
"-kumohon dengarkan aku, bolehkah?" Fort mengangguk tak suka ketika mendengarkan permintaan Peat, bibirnya kembali tertutup dan menyimpan protesnya untuk nanti.
"Kupikir malam itu kau setuju dengan apa yang dilakukan Net, Fort. Dan lagi bukan hanya itu, aku tak yakin umurku akan panjang. Kau tau jika tubuhku ternyata tengah sakit, bahkan tak lama lagi aku akan dijemput untuk perawatan. Aku tak tau apakah aku akan mati dimeja operasi atau bahkan diatas tempat tidur rawatku-"
"Peat-" Fort mendesah ketika mendapatkan tatapan memohon dari Peat, membuatnya kembali menelan protes yang ingin ia ajukan dan menutup mulutnya rapat rapat.
"-kau tau aku tak sama dengan dirimu atau werewolf lain, Fort. Aku terlahir dari pernikahan dua manusia biasa dan bukan sepasang werewolf. Sangat mustahil jika tubuhku juga sama dengan kalian. Mutasi ditubuhku yang membuatku memiliki gender sekunder mungkin juga mengubah struktur lain ditubuhku. Dan sangat masuk akal jika aku memiliki penyakit bahkan berbahaya, Fort. Jadi, mari kita nikmati hari ini dengan penuh sukacita, bisakah? " Bibir tipis itu mengukir senyum diakhir pembicaraannya, berusaha agar alpha didepannya ikut tersenyum bersamanya.
Namun nihil.
Wajah sang alpha tampak mengeras dengan emosi yang memupuk didadanya.
"Apa aku boleh berbicara?" Nada rendah itu sontak membuat bulu halus Peat meremang, aura disekitarnya tiba tiba menjadi dingin dan menyesakan.
Ini kali keduanya Fort mengeluarkan aura semenakutkan ini setelah hari dimana ia memperlihatkan seluruh luka ditubuhnya pada Fort. Peat tak percaya ia lagi lagi merasakan aura sepekat ini kembali mengelilinginya. Peat pun mengangguk, mengiyakan pertanyaan Fort.
"Perbuatan Net? Aku bahkan tak mau memikirkannya. Satu satunya yang mengisi otakku hanyalah aku yang mencintaimu dan berharap sebaliknya. Penyakit? Cih! Itu bukan seberapa Peat, aku bahkan akan mendatangkan dokter terbaik dari Atreka hanya untukmu. Aku akan membawa semua peralatan tercanggih dari belahan dunia mana saja agar kau bisa sembuh. Dan aku akan membeli seluruh obat paling mahal untuk kesembuhanmu" Peat merasakan tangannya yang Fort genggam balik mengerat dan mulai terasa sakit.
"Kau- jangan pernah sekalipun berpikir untuk meninggalkanku. Kau mengerti?" Peat mengangguk cepat diiringi desisan kesakitan dari bibirnya, tangannya terasa kebas karena Fort menggenggamnya cukup kuat.
Seketika Fort melepaskan tangan Peat dan memutar tubuhnya hingga memunggungi Peat. Pria besar itu dengan tangan terlipat terlihat berusaha mengontrol emosinya.
Kenapa Peat bisa berpikir seperti itu? Bahkan dalam pikirannya saja tak terlintas sedikitpun mencari orang lain untuk mengganti Peat.
Dan apa?
Mati?
Tak ada yang bisa lolos dari tangannya bahkan ruh sekalipun! Tak ada izin darinya untuk pria cantik ini mati! Bagaimanapun juga Peat harus hidup bersamanya! disampingnya!
Perlahan suara gesekan terdengar mengisi daun telinga Fort. Dihadapannya kini Peat tengah bersimpuh dengan lututnya dan tangan yang menggapai kedua pipinya. Lambat laun kepala Fort terangkat mendongak menatap wajah cantik yang selalu ia kagumi.
"Fort"
"..."
"Fort"
"..."
"Kumohon jawab aku Fort" Mata rusa itu bergerak kecil menatap kedua mata besar didepannya bergantian, wajahnya terlihat cukup murung dan memohon. Namun Fort tetap diam, hanya matanya saja yang membalas tatap pria didepannya.
Hatinya masih panas. Emosi masih menguasainya walaupun cukup reda karena nada lembut dari panggilan yang Peat lontarkan.
"Sayang"
Nada lembut itu kini berubah menjadi madu ditelinga Fort tepat setelah panggilan baru untuknya Peat layangkan. Membuat sudut bibirnya sedikit terangkat karena kupu kupu kembali menggerayangi tubuhnya.
Ia menyukai panggilan yang Peat berikan. Ia menyukai kata kata panggilan itu berasal dari bibir kemerahan didepannya.
"Sayang" Sekali lagi Peat memanggil sang alpha dengan lembut, sudut bibir yang sedikit terangkat tersebut tak luput dari pandangan Peat.
Alphanya menyukainya.
"Sekali lagi" Senyum lebar terbentuk dibibir Peat ketika sang alpha akhirnya mengeluarkan sepatah kata padanya.
"Sayang"
"Sekali lagi"
"Sayang"
Grep
Fort segera menghambur kedalam pelukan Peat dan menyembunyikan wajahnya pada perut sang omega. Tiba tiba saja wajahnya menjadi sangat panas dan Fort pastikan jika wajahnya sudah terlihat seperti kepiting rebus saat ini.
Peat terkekeh dengan tangan yang mendekap kepala sang dominan. Mengelusnya lembut diiringi dengan beberapa kecupan dipuncak kepala tersebut.
Tak dipungkiri hatinya sedikit menghangat setelah mendengar jawaban Fort. Namun pria ini tetap tak memberikan kepastian yang ia inginkan. Pria ini hanya menyatakan cintanya tanpa mengatakan jika dirinyalah yang terakhir.
Tapi tak apa. Ia tak ingin Fort berjanji dengan sesuatu yang tak pasti. Meskipun Fort mengatakan jika ia akan membuat Peat sehat kembali dengan segala cara, kemungkinan hidup dan matinya tetap tak akan berubah. Apalagi semua komando perawatannya berada dibawah Perdana Menteri, nyawanya bisa saja melayang dihari pertama ia masuk, bahkan sebelum Fort menyadarinya.
Mendengar kalimat kalimat hangat yang Fort lontarkan sudah cukup baginya untuk percaya diri bisa hidup hingga beberapa hari kedepan.
"Maafkan aku sudah meragukanmu sayang" Peat kembali menangkup wajah Fort dan mengangkatnya untuk mendongak, menatap sepasang mata indah beriris aqua tersebut dengan lekat. Bibirnya tersenyum dan dibalas sama oleh pria besar yang masih memeluknya.
Suasana perlahan berubah menjadi sunyi. Semilir angin dengan desiran halusnya mulai bearak mengitari sepasang kekasih tersebut. Jarak wajah keduanya pun mulai terkikis, sangat lambat dan pelan.
Cup
Bibir keduanya akhirnya bertemu. Menempel tanpa lumatan diatasnya. Berbagi tekstur dari bibir masing masing serta rasa yang mereka tukar satu sama lain. Kecupan tersebut diiringi senyum bahagia dari masing masing, hingga Peat menjadi orang pertama yang memulai lumatan pada bibir penuh didepannya.
Ciuman tersebut berlangsung cukup lama. Keduanya saling menikmati tanpa adanya nafsu yang mengungguli. Ciuman tersebut kemudian terputus ketika Peat menjauhkan kepalanya lebih dulu. Benang saliva yang tercipta diantara keduanya dibiarkan begitu saja hingga dahi dan puncak hidung mereka saling menempel. Mata keduanya saling beradu dan menatap penuh puja. Bibir mereka bahkan membentuk senyuman lebar dan tak jarang kekehan kecil terdengar.
Drrtt
Drrtt
Ponsel milik Fort berdering, membuat keduanya terpaksa memutus kontak yang terjadi diantara keduanya.
Dengan senyum diwajah yang masih terpatri, Fort meraih ponsel miliknya dari dalam saku celana dan melihat jika panggilan tersebut berasal dari Saifah. Tanpa ragu Fort segera mengangkat panggilan tersebut Dan menaruhnya disamping telinga.
"Ya, bicaralah"
"..."
"Aku tak punya waktu untuk membuka jejaring sosial seperti itu. Katakan saja"
"..."
"Katakan sekali lagi"
"..."
"Peat, kau anak dari Group Chaijinda?"
TBC
Komentar
Posting Komentar