FORTPEAT - RARE SPECIES - 26

Mobil sedan hitam tampak baru saja memasuki pelataran istana. Dalam sekejap mobil tersebut terparkir baik dan disusul dengan pintu bagian belakang yang terbuka lebar.

"Saifah, hubungi Jenderal Jo dan katakan kita akan kembali kesana besok. Setelah itu kau bebas"

"Baik Yang Mulia"

BLAM

Fort menutup pintu mobil tersebut dan berlari menuju mansionnya. Sejenak beban pikirannya terangkat karena ia akan melihat wajah cantik omeganya sesaat lagi. Oh astaga! Dia sangat merindukan pria cantik itu! Sudah berapa lama mereka tidak bertemu? 6 jam? 8 jam? Tapi kenapa rasanya seperti berhari hari? Oh Tuhan! Dia sudah tergila-gila tampaknya!

Bibir penuh itu merekah sesaat setelah kakinya menginjak teras mansion miliknya, pintu masuk mansion yang terbuka lebar menampilkan sosok omega cantik yang tengah sibuk dengan ponsel ditangannya.

"Sayang!"

"Hei"

Drap

Drap

Grep

"Ah! Aku merindukanmu"

Tangan besar itu dengan cepat memeluk Peat sesaat setelah sampai disamping pria cantik tersebut. Menggoyangkan tubuh mereka ke kanan dan ke kiri, diiringi senyum lebar dari bibir penuh tersebut.

Peat hanya pasrah, membiarkan tubuhnya diayun layaknya boneka yang dimainkan. Bibir tipisnya tak luput dari senyum, bahkan hatinya tergelitik untuk membalas pelukan sang alpha.

Puk

Puk

"Bersiaplah, aku menunggumu disini" Peat menepuk pelan paha belakang Fort dengan kepala yang mendongak keatas, menatap sang dominan yang kini masih berdiri dan menangkup kedua pipinya.

Cup

"Tunggu aku"

Pria besar itu bergegas naik kelantai dua setelah mengecup bibir sang omega kilat. Membiarkan Peat yang termangu dan bersemu karena ulahnya.

-----

Deru mesin mobil mulai terdengar memekakan telinga. Mobil mercy keluaran terbaru akhirnya keluar dari gerbang istana dan melaju membelah jalan utama.

Pria dengan tubuh besar yang duduk dibelakang kemudi setir tampak mengenakan kemeja black navy yang kancingnya terbuka hingga batas perut, satu tangannya terlihat berada diatas kemudi dengan satu tangannya yang lain terlihat menggenggam tangan putih yang lebih kecil.

Tanpa malu, sang dominan membawa tangan yang ia genggam untuk ia kecup sesaat dan membawanya sedikit lebih keatas untuk menangkup pipinya. Mata besarnya terus mengawasi jalanan yang tak ramai saat ini.

Berbeda dengan sang dominan, pria kecil yang menggunakan t-shirts inner putih dan dilapisi dengan jacket jeans berwarna merah muda tampak duduk dengan kepala yang bertopang pada tangannya yang tak digenggam. Matanya menatap sang dominan lama dengan wajah yang sulit diartikan.

Peat akui akhir akhir ini kupu kupu cukup sering bermain diperutnya, perlakuan manis yang belakangan sering ia terima dari Fort membuatnya cukup banyak tersipu dan ia menyukainya.

Tapi disisi lain ia merasa semakin takut. Ia takut jika Fort hanya memiliki perasaan sesaat padanya. Ia tak bisa mengatakan jika perasaan Fort datang secara tiba tiba, banyak hal yang mereka lalui akhir akhir ini dan itu semua adalah proses mereka mengenal lebih baik satu sama lain.

Tak hanya Fort yang merasakan perubahan, dirinya juga. Rasa kesal, benci dan marah yang dulu ia rasakan pada pria besar ini entah sejak kapan tak pernah Peat rasakan lagi.

Dan hari ini ia melihat kondisi James, pria cantik itu mengalami after effect setelah mendapatkan reject dari fated pairnya. Tak pernah sedikitpun terlintas dibenak Peat jika pasangan tersebut akan mengalami fase seperti ini. Selama ia mengenal Net, alpha itu terlihat begitu mencintai James. Alpha itu memperlakukan James layaknya pasangan yang sempurna.

Namun apa? Pada akhirnya kepahitan kini menyapa mereka. Alpha yang sempurna itu berubah 180 derajat dan menyakiti omega yang ia cintai. Tidak- alpha itu tak mencintai James, karena cinta tak akan pernah menyakiti, dan cinta tak akan pernah membuat orang yang ia cintai berada diambang kematian.

Srett

Tiba tiba saja sebuah ibu jari bergerak dipipi Peat, matanya mengerjap cepat hingga sebuah aliran air kembali turun dipipinya. Peat tersentak, kepalanya berputar melihat sekeliling dan mendapati mobil yang ia tumpangi sudah berada dipinggir jalan.

"Sayang, kau menangis" Peat kembali menolehkan kepalanya kearah Fort, dengan jelas Peat melihat raut khawatir dari sang empu.

Apa ia lagi lagi menangis tanpa sadar? Ini mengerikan.

"Kau tak apa?" Lagi, Fort bertanya dengan nada penuh cemas. Peat bahkan merasakan kekhawatiran besar dari usapan ibu jari dipipinya.

Pet mengangguk lemah, menurunkan tangan Fort dari pipinya dan melepaskan genggaman tangan Fort ditangannya yang lain. Namun dengan cepat Fort kembali mengambil tangan Peat untuk digenggam.

"Kau bisa berbagi denganku sayang. Jangan menanggungnya sendirian"

"Eum. Nanti, jika aku sudah siap"

-----

Pria cantik dengan mata rusa itu sesekali memberikan senyum manisnya pada beberapa orang yang menyapanya ketika berjalan disisi club. Namun disaat yang bersamaan, ia juga merasakan bagaimana pria besar dibelakangnya semakin menempel bahkan tubuhnya seperti dipeluk dari belakang. Fort benar benar menjadi posesif padanya.

Berbeda dengan Peat yang tampak ramah, Calon Raja itu kini melemparkan tatapan tajamnya pada setiap alpha atau beta yang mencoba menarik perhatian omeganya. Tangannya dengan posesif memegang kedua bahu Peat dari belakang untuk menghalangi semua kemungkinan yang mencoba mendekati Peat.

Lihatlah mata mata lapar itu. Mereka menatap Peat penuh puja dan nafsu, bahkan ketika pakaian yang Peat kenakan sangat tertutup. Dan dengan beraninya mereka masih sempat untuk mengedipkan mata bahkan menggoda omeganya.

Jika saja club ini bukanlah tempat bersenang senang, Fort pastikan mereka tak akan melihat cahaya matahari keesokan paginya.

Bukk

"Heii! Dimana kau taruh matamu hah?!" Fort segera memindahkan posisi Peat kesisinya yang lain ketika seorang pria mabuk tak sengaja menabrak Peat. Tangannya hampir saja mencengkeram kerah baju pria tersebut jika saja tangan Peat tak lebih dulu menahannya. Fort mendengus kesal ketika ia melihat gelengan ringan dari Peat, membuat tangannya kembali memeluk sang omega dengan mata yang masih menatap tajam pria mabuk disampingnya.

"Beruntung kau hari ini bajingan! Jika tak ada istriku kau hanya akan tinggal nama setelah ini"

"Yang Mulia!"

Fort memutar bola matanya malas ketika mendengar suara Peat yang sedikit meninggi. Kemudian mereka memilih untuk melanjutkan jalan mereka menuju ruang kerja milik Net yang sebenarnya adalah tujuan utama mereka hari ini.

Selama perjalanan, dentuman musik tak berhenti mengiringi langkah mereka. Bahkan Fort yang biasanya selalu tertarik untuk mencoba lantai dansa setiap kali mendengar musik, kini lebih memilih fokus terhadap Peat agar prianya tak diganggu oleh siapapun.

"Yang Mulia" Peat memberhentikan langkahnya seketika dan menoleh melihat Fort, membuat sang alpha ikut menoleh dengan satu alis terangkat.

"Aku ingin ke kamar mandi"

"Oh, oke" Fort kembali berjalan sambil mendorong tubuh Peat maju, namun langkahnya terhenti ketika Peat kembali memberhentikan tubuhnya.

"Aku sendiri saja"

"Tidak, berbahaya" Fort menggeleng cepat, ia tak akan membiarkan Peat pergi sendirian.

"Tak apa, aku tak lama" Peat mulai menjauhkan tangan tangan Fort yang berada ditubuhnya dengan wajah tersenyum menatap Fort.

Grep

"Tidak. Jika aku bilang tidak, berarti tidak" Fort kembali menarik bahu Peat mendekat kearahnya.

"Kumohon, jika sepuluh menit aku tak sampai keruangan Net, kau bisa menyusulku" Mata rusa itu menatap Fort dengan tatapan memohon, membuat Fort yang sedari tadi mempertahankan wajah garangnya  berubah menjadi lunak seketika. Hatinya luluh, ia tak bisa berkata tidak ketika makhluk semenggemaskan ini memohon dengan mata rusa yang membulat itu padanya. Kepala Fort mengangguk pelan menyetujui perkataan Peat.

"Terimakasih!"

Cup

"Tunggu aku diruangan Net" Peat segera bergegas menuju kamar mandi setelah mengecup kilat pipi sang alpha.

-----

Langkah kaki yang begitu pelan terlihat sangat berhati hati, bersamaan dengan mata yang kini menelisik seluruh penjuru area. Bermodalkan masker hitam dan sarung tangan kulit, Peat mulai membuka pintu berwarna hitam yang berada didepannya.

Basement

Satu ruang terpencil yang bahkan tak seorang pun tau jika ruangan itu ada. Berdasarkan informasi dari Khun Tan, Black MK tak akan menyimpan informasi mengenai organisasi mereka ditempat terbuka. Semua dokumen memiliki chip dan tentu saja sensor untuk mencegah terjadinya hal hal yang tak diinginkan.

Namun teknologi yang mereka gunakan menjadi pisau bermata dua karena posisi dokumen menjadi lebih mudah terlacak. Sebenarnya mereka cukup pintar menaruh ruang rahasia seperti ini dibasement, sehingga kode dari chip dan sensor mereka tidak akan terlacak oleh para hacker. Namun karena signal dari chip dan kode ini tidak terlihat dimanapun, ruang bawah tanah menjadi pilihan teratas untuk dipilih. Hingga satu staff Chain diturunkan untuk menyisir area basement dari club dan mendapati satu ruangan tersembunyi disudut basement yang berada tepat dibawah tangga darurat. Pintunya di cat hitam untuk menyesuaikan warna dinding sehingga tak satupun orang yang tau jika disana terdapat sebuah ruangan.

Klek

Bunyi dari smartlock yang terbuka membuat senyum terukir dari balik masker. Alat peretas dari ponselnya benar benar bermanfaat untuk apa saja. Chain benar benar menjalankan bisnis mereka dengan sangat baik. Mereka akan kaya raya jika menjual benda seperti ini.

Dengan langkah jinjit namun cepat, akhirnya Peat berhasil masuk kedalam ruang tersembunyi itu. Matanya melihat kesetiap sudut ruangan. Tak ada satupun sinar merah yang berkedip, artinya Khun Tan sudah mematikan cctv dari ruangan ini.

"Okay, sepuluh menit dan aku harus mendapatkan dokumen dokumen itu" Peat berbisik pelan pada dirinya sendiri. Menyalakan senter dari ponselnya dan mulai mencari dokumen yang ia perlukan.

Sepanjang mencari berkas, pikiran Peat terbagi dua. Separuh hatinya mengatakan jika apa yang ia lakukan sekarang sama saja dengan memanfaatkan keadaan James. Bukankah sebagai teman seharusnya ia berada didalam ruangan Net dan memaki pria itu sekarang? Namun ternyata ia malah berdiri disini untuk memperoleh dokumen dokumen rahasia. Teman macam apa ia sebenarnya? Bahkan Peat rasa ia tak layak disebut sebagai teman.

"Oh!" Pikiran kalutnya buyar seketika saat lampu senter ponselnya menyinari suatu tulisan.

BLACK MK

Rak didepannya memiliki tulisan BLACK MK, sehingga dapat Peat pastikan jika seluruh dokumen BLACK MK disimpan dirak tersebut. Tangannya kembali bergerak mencari dokumen penting yang harus ia temukan. Matanya bergerak lebih cepat dari sebelumnya untuk membaca satu persatu nama dari dokumen yang ada.

Great!

Data transaksi BLACK MK!

Tangan Peat dengan cepat mengambil tiga map yang memiliki tulisan sama tersebut. Membukanya dan mulai memgambil gambar dari isi masing masing dokumen.

"Astaga, berapa banyak ini" Peat menggerutu kecil, matanya beralih menatap jam diponselnya.

"Astaga! Fort akan mencariku sebentar lagi!" Peat menjadi panik ketika melihat jam sudah lewat dari sepuluh menit sejak ia berpamitan pada Fort. Tangannya bergerak semakin cepat untuk mengambil gambar dari setiap lembar dokumen yang tersisa. Dalam hati ia merutuki kenapa dokumen ini memiliki begitu banyak halaman. Merepotkan!

Blitz

Gambar terakhir pun akhirnya Peat dapatkan, kini ia bergegas menaruh kembali map yang ada dan menyusunnya kembali ke rak dengan rapi.

Drap

Drap

Tubuh Peat membeku, dengan jelas ia mendengar suara langkah kaki mendekat dari arah luar. Mata rusa itu kemudian segera berpendar mencari tempat persembunyian diiringi rutukan rutukan kecil dari mulutnya.

Sial!

Kenapa mereka harus datang disaat seperti ini? Ugh, merepotkan!

Grep

Srett

Klek

Peat terkejut ketika merasakan sepasang tangan memegang pinggangnya dan menariknya kesalah satu sudut antara rak. Tubuhnya diputar hingga tepat membelakangi sudut ruangan dengan tubuh orang yang menariknya berada dihadapannya dan mengukungnya. Semua hal terjadi begitu cepat, bersamaan dengan suara pintu yang juga turut dibuka.

Tak lama sebuah tangan besar bersarang didepan mulutnya, seolah memberi isyarat agar Peat tetap diam tak bersuara.

Mata rusa itu mulai terpejam. Merapalkan doa didalam hati agar ia tak ketahuan. Suara bisik bisik dari arah lain pun terdengar, membuat tubuh Peat rasanya semakin mengecil dan tenggelam kedalam sudut ruangan. Orang didepannya pun terasa semakin menghimpit tubuhnya.

Degg

Peat segera membuka mata dan mendongakkan kepalanya ketika aroma familiar menusuk hidungnya, matanya melebar begitu mendapati wajah yang sangat ia kenali berada didepannya.

Fort?

-----

Tungkai panjang yang dibaluti jeans hitam itu tampak berjalan cepat dengan tangan yang menggenggam tangan putih dari pria kecil dibelakangnya. Iris aqua itu tampak tergesa gesa mencari tempat yang sepi karena ia ingin berbicara empat mata dengan pria dibelakangnya.

Sesaat kemudian Fort melihat satu balkon yang pintunya masih tertutup. Langkahnya seketika berbelok menuju balkon tersebut dan membuka pintu tersebut. Tangannya kemudian membawa Peat untuk berdiri didepannya, menghadapnya, dengan kaki yang mendorong pintu balkon agar kembali tertutup.

"Jelaskan"

Gulp

Peat menelan ludahnya kasar ketika iris aqua itu menatapnya lekat. Tanpa sadar Peat membawa tubuhnya kebelakang dan tak sengaja menabrak pagar pembatas balkon, membuat pergerakannya menjadi terbatas.

"Eum.. Itu.. " Peat menggigit bibir bawahnya gugup. Satu alis Fort naik seolah menuntut jawaban dari Peat.

Bagaimana ini?

Apa yang harus ia katakan?

Apa ia harus jujur?

Tapi Fort tak akan melepaskannya begitu saja. Pria ini akan menanyainya seribu pertanyaan lainnya jika ia berkata jujur.

Peat semakin panik. Gumaman kecil terus keluar dari bibirnya, seakan akan ia tengah berusaha menjawab pertanyaan Fort. Jemarinya pun bertaut acak, matanya bergerak menjauh dari tatapan Fort.

Tak

Grep

Dengan cepat Fort meletakan satu tangannya pada pagar pembatas dibelakang Peat, dengan satu tangan lainnya meraih rahang Peat agar kembali menatapnya.

"Jawab" Tanpa sadar Peat menahan napasnya ketika Fort memerintah dalam nada rendah, matanya tak lagi berkedip, Fort terlihat menakutkan.

"Kita tak akan kemana mana sebelum kau menjawab pertanyaanku." Fort mulai mengeluarkan feromonnya untuk mengintimidasi sang omega. Ia tak suka dibohongi, dan lagi ia tak suka ketika melihat Peat berada dalam bahaya.

"Ermm.. Aku- melakukan beberapa penyelidikan" Mendengar Peat mulai membuka suara, Fort berangsur menghentikan pengeluaran feromonnya dan menatap wajah Peat dalam diam. Ia ingin mendengar kelanjutan dari perkataan Peat.

"Maaf jika aku menyembunyikan ini darimu. Tapi saat pertama kali kita menghadiri acara pesta perjamuan untuk donasi, aku melihat pelelangan terselubung disana" Peat merasakan jika jantungnya berdetak seribu kali lebih cepat saat ini, semoga dia tak mati ditempat setelah ini.

"Lalu setelah itu aku menyewa beberapa detektif untuk membantuku, dan hari ini dia memintaku mengumpulkan beberapa bukti untuk keperluan penyelidikan" Helaan napas kecil terlihat dari Peat setelah menyelesaikan perkataannya. Lagi. Ia membohongi orang orang mengenai dirinya.

"Kenapa tak memberitahuku? Ini terlalu berbahaya untuk kau lakukan sendirian!"

"Net- "

"Kenapa dengan Net? "

"Dia temanmu. Aku takut kau akan berpihak padanya"

Tak ada suara. Keduanya hanya saling menatap satu sama lain. Tak ada tanggapan apapun dari Fort karena wajar jika Peat berfikir seperti itu.

Fort baru ingat jika hari itu ia sendiri yang membawa Peat keluar dari ambang pintu pelelangan omega dan beta female tersebut. Hatinya berdenyut sakit ketika membiarkan omeganya menghadapi ketakutan seperti ini sendirian, tapi ia juga senang karena Peat memiliki rasa peduli yang tinggi bahkan dari hari pertama ia bertugas. Moon Goddes tak salah memberikan pria cantik didepannya ini sebagai calon pendamping.

"Kau sendiri, kenapa ada disana?" Peat membuyarkan lamunan Fort seketika, membuat pria besar itu berdeham sebelum menegakkan tubuhnya dan meraih tangan Peat.

"Alasan yang sama denganmu."

Fort kemudian tersenyum tipis dan mulai mengaitkan jemari mereka, pria besar itu kemudian membawa tubuh mereka untuk keluar dari area balkon. Menghiraukan raut kebingungan yang Peat perlihatkan.

Jadi Fort juga menyelidiki hal ini?

-----

"Kupikir kalian jatuh atau mati disuatu tempat" Pria berahang tajam yang tengah berjalan menuju sofa diruang kerjanya, tampak melirik sepasang kekasih yang baru saja membuka pintu ruangannya. Bibirnya menyunggingkan senyum cemooh, mencibir dua orang yang seharusnya sudah datang dari setengah jam yang lalu.

"Kupikir berolahraga malam tak buruk. Apalagi akan bertemu orang sepertimu yang akan menghabiskan energi" Fort menarik pinggang Peat cukup kuat kearahnya hingga Peat tanpa sengaja menopang tubuhnya dengan bertumpu pada dada Fort. Membuat posisi mereka terlihat lebih intim.

"Benarkah? Tak cukup kalian melakukannya selama seminggu penuh? Jaga penismu dengan baik Fort, kau bisa melukai Peat jika terlalu sering" Net tersenyum miring dengan kepala menggeleng pelan. Mengambil posisi duduk diatas sofa tunggal yang berada disana.

"Pikirkan saja urusanmu" Fort kemudian menarik Peat untuk duduk disofa yang cukup panjang, tangan posesifnya tetap mempertahankan posisinya yang berada dipinggang Peat.

"Ada urusan apa kalian kesini? Biar kutebak- ini mengenai James?" Net menenggak segelas alkohol yang sudah ia tuangkan sebelumnya pada sloki kecil miliknya. Tangannya mengangkat botol alkohol tersebut kearah Fort dan Peat seolah menawarkan minuman tersebut.

"Apa yang terjadi?" Fort mulai mengambil sloki kecil dan berniat meraih botol alkohol didekatnya sebelum sebuah tangan menahan pergelangan tangannya. Kepalanya berputar menatap Peat yang kini menggeleng kearahnya.

"Kau mengemudi" Ah benar, tak seharusnya ia meminum alkohol karena ia tak membawa supir hari ini. Apalagi ia membawa Peat bersamanya, ia tak ingin membahayakan omega cantik ini.

Tanpa sadar Peat menyunggingkan senyum tipisnya ketika melihat Fort yang mengurungkan niatnya untuk meminum alkohol.

"Apa yang terjadi? Tak ada yang spesial, aku menikah dan kini memiliki istri" Net menjawab pertanyaan Fort dengan nada ringan. Seolah apa yang ia lakukan bukanlah apa apa.

"Apa kau tak menyesal Net?" Kini Peat yang bertanya, mata rusa itu menatap Net penuh sakit.

"Menyesal? Kenapa? Istriku sangat kaya. Dia cantik dan memiliki sikap yang baik. Asal kau tau saja. Istriku adalah anak pengusana material dari wilayah Adira."

"Yim?" Net mengangguk menanggapi pertanyaan singkat Fort. Fort sedikit terkesiap, sejak kapan Net mengenal Yim? Setaunya omega itu sangat menutup diri dari dunia luar. Bahkan ia tak pernah keluar dari wilayahnya sendiri.

"Kau pernah ke Adira?" Fort menatap Net penuh selidik, setaunya Net tak pernah berpergian keluar wilayah akhir akhir ini. Mencurigakan.

"Tsk, apa aku harus memberitahumu kemana saja aku pergi? Sudahlah, masalah ini tak begitu penting-"

"Tak begitu penting?! Kau- apa kau masih mengingat James hah?" Mata rusa itu kini menatap nyalang kearah Net, tangannya yang berada diatas paha pun terkepal kuat.

"Omega itu? Tentu. Bagaimana keadaannya? Apa dia menangis untukku? Cih, omega yang lucu, kkk" Net terkekeh kecil setelah mengucapkan kalimat tersebut, ia kembali menenggak alkohol dari sloki miliknya.

"Kau pikir ini lucu? Bajingan!" Peat berdesis dengan gigi yang terkatup rapat, mengepalkan tangannya semakin kuat bahkan buku buku jarinya terlihat mulai memutih. Fort segera memeluk bahu Peat dan menepuknya pelan, tangannya yang lain tampak mencoba membuka kepalan tangan Peat karena takut Peat akan melukai dirinya sendiri.

Seketika kekehan Net terhenti dan menoleh menatap Peat tajam. Tanpa sadar tangannya mulai meremas sloki ditangannya.

"James, dia hancur, dia sakit. Semua tubuhnya sakit bahkan hanya untuk berbaring. Namun yang lebih sakit adalah mentalnya, hatinya, perasaannya. Kau menghancurkannya hingga titik terdalam dari dirinya. Apa kau pernah peduli padanya Net? Apa kau pernah menganggapnya penting? Apa kau pernah mencintainya?-" Peat menarik napasnya kuat, kemudian menghembuskannya perlahan dan bergetar. Mata rusa itu terlihat merah dan berkaca kaca.

"Kupikir tidak. Karena jika iya kau tak akan menikah dengan orang lain dan membuatnya sehancur ini. Dan apa kau bilang? Omega itu? Apa kini bahkan bibirmu tak sudi lagi menyebut namanya hah? Bajingan. Cih, beginilah alpha, terlalu egois dan tinggi. Membuang apa saja yang tak lagi mampu memuaskannya, bergonta ganti pasangan layaknya baju dalam lemari tanpa tahu apa dampaknya pada orang lain. Kalian- sangat menyedihkan" Peat mengusap kasar air matanya yang mengalir, mengatur napasnya yang berderu cepat lalu berdiri dari posisinya. Pria cantik itu melangkah lebih dulu keluar ruangan dan kemudian diiringi oleh Fort di belakangnya.

"Arrghh!!!"

Trakk

Prangg

Net berteriak keras diiringi dengan tangan yang meremas kuat slokinya hingga pecah dan hancur lebur. Dilanjutkan dengan tangannya yang meraih botol alkohol didepannya dan melemparnya kearah pintu masuk yang sudah tertutup. Botol alkohol tersebut pun pecah dan berserakan diatas lantai

"James.. James.. Hiks, maafkan aku sayang.. James.. Maafkan aku" Tangan yang sudah dipenuhi oleh darah itu terlihat bergetar dan perlahan mulai menangkup wajah basahnya. Tubuh Net bergetar hebat diiringi rintihan penyeselan. Tubuhnya bahkan terjatuh menghantam lantai, memghiraukan pecahan kaca yang mulai menggores kulitnya

Ruang kerja itu untuk kesekian kalinya kembali diisi oleh isak tangis pilu dari seorang pria yang sama setiap haringa.

TBC


Komentar

Postingan populer dari blog ini

FORTPEAT - SURROGATE 2🔞

FORTPEAT - JINX - 16 🔞

FORTPEAT - RARE SPECIES - 5 🔞