FORTPEAT - JINX - 8
Bugh
"Akh!" kurasakan tulang pinggulku menjadi nyeri saat tubuhku tak sengaja jatuh dari sofa ketika bergerak dalam tidurku. Aku sedikit meringis ketika mencoba bangun dari posisiku untuk duduk diatas sofa dengan memegangi pinggulku yang masih terasa nyeri.
"Hah..." kuhempaskan tubuhku ke sandaran sofa dengan tangan yang kerentangkan dengan lebar serta kepala yang mendongak menatap langit langit kamar. Mataku terpaku menatap hamparan warna putih diatas kepalaku.
Berhari hari aku menjalani hidupku hanya dengan melamun. Ingatanku terus terkunci pada malam saat Peat mengatakan akan melakukan seks denganku hanya sekedar untuk menghentikanku. Apa menurutnya aku hanya tertarik dengan hal seperti itu saja? Aku akui dia benar benar menarik dan menggoda, tapi aku benar benar mencintainya asalkan kalian tau. Bahkan aku sangat mencintainya sampai ditahap aku tak bisa hidup tanpa dirinya.
Namun aku menyesal, seharusnya aku tak pergi begitu saja hari itu. Harusnya aku bisa menahan emosiku dan lebih berusaha menjelaskan diriku padanya. Bahkan aku lebih kesal pada diriku saat tadi malam aku mengacuhkannya, kenapa egoku menjadi sangat tinggi? Bukankah kau mencintainya Fort?
Bagaimana keadaannya sekarang? Dia sangat berantakan semalam, tubuhnya basah hingga bajunya menempel pada kulitnya. Sepertinya ia menerobos hujan deras semalam. Apa dia baik baik saja? Apa dia demam? Semoga saja tidak.
Aku mengusap wajahku kasar dan mulai berdiri. Mataku melihat kamarku yang kini sangat berantakan. Banyak botol alkohol dan cemilan yang bertebaran. Peat benar benar membuatku frustasi ternyata.
Aku mulai bergerak membersihkan kamarku. Memasukkan botol alkohol, plastik cemilan dan beberapa sampah lainnya kedalam kantong besar, kemudian menaruhnya didalam tong sampah disamping pintu keluar. Lalu aku menyapu dan menyusun barang barang yang berantakan.
Aku berjalan kedalam kamar tidur dan mengambil dompetku yang berada diatas kasur. Aku berniat untuk keluar dan membeli makanan untuk sarapan hari ini sambil membuang sampah. Aku mengganti pakaianku yang masih berbau alkohol dan berkumur dengan segelas air yang berada dinakas sebelah kasur. Aku mengecek penampilanku sekali lagi dicermin tinggi sebelum melangkah menuju pintu keluar kamar kondominium.
Setelah berada diluar kamar kondominium, aku berjalan menuju tangga. Aku tak suka naik lift, naik turun menggunakan tangga terasa lebih bermanfaat dan sehat. Dengan satu tangan yang dimasukkan kedalam saku dan siulan dari bibirku, membuat suasana hatiku sedikit naik dari sebelumnya. Sinar matahari yang terik tampak menembus kaca biru yang berada didinding kondominium, walau tak menyilaukan tapi cukup memberikan rasa hangat pada tubuh.
Degg
Peat.
Tanpa sadar napasku tertahan ketika melihat Peat dari ujung lain tangga. Mata kami bertemu sesaat namun ia segera memutuskan pandangan kami dan meneruskan jalannya. Membuatku juga ikut mengalihkan pandangan dan meneruskan jalanku. Bahkan saat posisi kami sudah bersisian pun tak ada sapaan. Hanya suara gesekan sandal dan lantai yang mengisi lorong tangga.
Aku harus menolak perasaanku yang terus meronta meminta untuk mendekati Peat dan merengkuhnya. Bagaimana tidak jika aku baru aaja melihat kedua mata rusanya terlihat sangat sendu. Walaupun secara fisik ia terlihat sehat dan itu juga membuatku bersyukur bahwa dirinya tidak sakit setelah tubuhnya diguyur hujan deras. Tapi tubuhnya terlihat tak setegar biasa hingga rasanya aku sangat ingin memeluknya.
Sial! Aku berdecak malas saat perasaanku kembali menjadi kacau karena mencemaskan keadaan Peat. Ini tidak bisa diabaikan lagi, Aku harus memastikan dirinya sekali lagi. Aku menoleh kebelakang dan mendapati tubuh Peat yang sudah menghilang diujung tangga. Aku ingin mengejarnya tapi entah kenapa kakiku seolah tertahan.
Aku menggigit bibir bagian dalamku frustasi, harusnya aku menyapanya dan mengajaknya berbicara tadi. Dasar ego sialan!
Aku menghembuskan napas panjang dan memilih kembali melangkah kebawah, melanjutkan aktivitasku untuk membuang sampah dan membeli sarapan.
-----
"Peat" sebuah tangan besar dengan kulit tan menahan pergelangan tangan Peat. Membuat Peat terpaksa menoleh ke sumber suara dengan malas.
"Kenapa?" tanya Peat lemas, ia tak bersemangat melakukan apapun sekarang. Tubuhnya masih lelah, dan ia hanya mau pulang, makan dan kemudian tidur. Energinya terkuras habis semalam, menangisi orang orang yang membuangnya. Harusnya memang seperti itu dirinya, terbuang dan tertinggal.
Peat merasakan sebuah punggung tangan bersarang didahi dan perpotongan lehernya. Peat menepis tangan itu lemas dan menatap laki laki dihadapannya malas.
"Aku baik, pergilah Joss. Aku butuh istirahat" Peat kemudian beranjak dari depan kamar Joss menuju kamarnya. Namun lagi lagi tangannya dipegang hingga tubuh lemahnya terputar. Tangan besar Joss segera memegangi bahu Peat agar tak jatuh karena tarikannya yang cukup kuat.
"Peat, jangan menjauhiku seperti ini." Peat mendengus, ia sedang tak ingin berdrama pagi ini. Ia benar benar lelah.
"Joss, aku mau istirahat. Aku lelah. Mari bicara lain kali" Peat kembali berusaha melepaskan tangan Joss dari bahunya tapi gagal. Tenaganya saat ini masih lemah dan lawannya adalah Joss. Kekuatan mereka sangat timpang sekarang.
Joss menatap lekat wajah Peat. Mata tajamnya seakan berbicara agar Peat diam dan mendengarkannya.
"Peat, bisakah kita menjadi baik seperti dulu? Aku benar benar merindukanmu. Jangan menghindariku seperti ini, jangan mengacuhkanku. Aku ingin kita dekat seperti dulu. Tak bisakah? Aku benar benar mencintaimu" tatapan memohon Joss membuat Peat berdecih. Lucu mendengarkan kata 'dulu' dari bajingan seperti Joss.
"Dulu? Yang benar saja Joss. Kita tak pernah memiliki hubungan apapun. Kau hanya kekasih dari temanku, itu saja. Cinta? Cih, gara gara cinta yang kau umbar kau membunuh temanku, Joss. Kau membunuh Mook!" seketika api dalam diri Peat menyala. Rasa sakitnya kembali muncul bersamaan dengan kata kata yang ia keluarkan. Matanya kembali memerah untuk kesekian kalinya.
"Apa salah jika aku mencintaimu Peat? Apakah salah?!" Joss berteriak kecewa tepat dihadapan wajah Peat. Kenapa Peat tak pernah mengerti perasaannya?
Peat menutup telinganya rapat rapat, memejamkan matanya erat hingga mengatupkan bibirnya rapat. Ia sudah muak! Ia tak mau lagi mendengar kata cinta. Semua orang mengatakan jika ia mencintai Peat, tapi apa buktinya? Tak satupun yang tinggal disisinya. Mereka semua hanya berbohong! Tak ada yang benar benar mencintainya.
Peat kembali menata napasnya yang mulai memburu. Dia bisa saja pingsan jika terus melibatkan emosinya seperti ini.
"Kau mencintaiku?" Peat bertanya dalam suara pelan dan diangguki oleh Joss. Peat kembali membuka matanya perlahan dan menatap pria didepannya.
"Bisa lepaskan aku? Aku lelah Joss, aku ingin istirahat" Peat melemparkan senyum lelahnya, menampakan pada Joss jika ia benar benar lelah.
Namun tiba tiba sebuah tangan lain mencengkram kerah Joss hingga mendorongnya kedinding. Membuat pegangan Joss pada Peat terlepas karena tak siap dengan serangan tiba tiba.
"Jangan. Ganggu. Dia" ucap Fort dengan penuh tekanan. Telunjuknya mengarah ke wajah Joss yang menatapnya nyalang.
Argghh! Apalagi ini?! Peat menatap lelah dua orang yang masih beradu pandang didepannya. Tak bisakah hidupnya tenang sebentar saja?
Peat kemudian beranjak dan pergi ke kamarnya meninggalkan dua orang yang saling menatap marah. Peat tak berniat untuk memisahkan mereka, ia tak mau repot dan malah memperpanjang urusan dengan dua pria itu.
Melihat Peat yang akan memasuki kamar, Fort segera melepas cengkramannya dikerah Joss dengan mengarahkan dua jarinya ke arah Joss dan kematanya sambil berjalan mengikuti Peat.
Blam
Pintu kamar kondominium Peat tertutup dan menyisakan Joss yang masih tak terima dan marah pada Fort yang terlihat meremehkannya.
-----
"Peat, tunggu" langkah lebar Fort terlihat mencoba mendahului Peat yang berada didepannya. Membuat Peat mau tidak mau harus berhenti dan menunggu Fort berbicara.
Fort kemudian meraba kening dan leher Peat dengan tangannya. Mendapati Peat yang tak demam membuat Fort dapat bernapas lega. Rasa berat dihatinya sedikit terangkat.
"Sudah? Pulanglah kalau begitu" Peat kembali melanjutkan langkahnya menuju dapur. Ia mengambil mangkuk dan peralatan makan, lalu berjalan menuju meja makan.
"Peat aku lapar, aku tak sempat membeli makanan" keluh Fort yang juga duduk di meja makan, ia menatap Peat yang kini tengah menuangkan makanannya kedalam mangkuk.
"Pergilah dan beli sarapan" Peat beranjak menuju ruang tengah untuk mengambil sekotak tisu yang ada disana dan kembali ke meja makan. Ia sedikit menumpahkan kuah kari yang ia beli, jadi ia butuh tisu.
"Aku lelah, Peat. Aku tak sanggup berjalan untuk mencari makan" Peat menatap Fort sekilas dan kembali menyeka meja.
"Tidak usah makan" Peat berjalan menuju kulkas untuk mengambil sebotol air mineral dan kembali ke meja makan.
"Tak bisakah kita makan kari ini berdua? Aku sangat lapar" Fort menatap Peat memelas. Matanya mencoba menarik Peat agar dapat melihatnya.
Peat menghela napas dan menatap Fort yang kini menyunggingkan senyum pada Peat. Peat mendorong mangkuk miliknya kearah Fort beserta sebotol air mineral.
"Makanlah, aku ingin istirahat" Peat memilih pergi menuju kamar tidurnya. Laparnya lenyap seketika, lebih baik ia tidur sekarang.
"Ey, jangan begitu Peat. Ayo makan dulu" Fort meraih lengan Peat dan menariknya untuk duduk kembali.
"Aku tidak lapar Fort, kau saja yang makan" Peat melepaskan tangan Fort dari lengannya dan berniat kembali pergi menuju kamar tidur namun kembali ditahan oleh Fort.
"Ayolah" Fort menautkan alisnya memohon.
Peat menatap dingin kearah Fort. Matanya bergerak naik turun antara wajah dan pegangan Fort pada lengannya seakan menyuruh Fort untuk melepaskan pegangannya. Fort tak menyerah, ia terus berusaha membujuk Peat hingga sedikit demi sedikit menariknya kembali untuk duduk.
Peat akhirnya menyerah, selain tenaganya yang habis, ia memang tak bisa melawan keras kepala Fort. Peat lalu duduk kembali dan menjatuhkan kepalanya diatas meja dengan beralaskan salah satu pipinya. Ia berencana tidur diatas meja makan sambil menunggui Fort makan.
"Peat, ayo makan" Fort mengusap lembut pipi Peat yang dapat ia jangkau dengan ibu jarinya. Kepalanya ia rendahkan agar sejajar dengan kepala Peat.
"Aku tidak lapar" Peat membalikkan kepalanya kearah lain, membuat Fort menghela napas dan kembali menegakkan tubuhnya.
"Maaf Peat" suara rendah Fort kembali terdengar tapi Peat tidak suka. Ia tak ingin mendengar permintaan maaf dari siapapun. Peat memilih menulikan pendengarannya dan berusaha untuk tidur.
"Maafkan aku, seharusnya aku tak mengacuhkanmu. Aku salah, aku minta maaf" sekuat tenaga Peat berusaha menulikan pendengarannya tapi tetap saja suara Fort masuk ke telinganya. Peat kemudian menegakan tubuhnya dan menatap Fort yang kini hanya tampak puncak kepalanya.
"Jangan minta maaf. Ini salahku, aku membuatmu marah jadi itu salahku. Bisakah kau pergi setelah makan? Aku ingin tidur" Peat akhirnya beranjak dari meja makan dan masuk ke kamar tidurnya. Ia mengunci pintu kamar tidurnya dari dalam dan melompat keatas kasur. Ia menelungkupkan tubuhnya dan membenamkan wajahnya kedalam bantal. Lagi. Ia menangis untuk yang entah keberapa kalinya
-----
Sebuah tangan kurus tampak menggedor sebuah kamar kondominium di lantai 4. Bibirnya tampak bersenandung sambil menunggu pintu didepannya terbuka. Tangannya yang memegang kantong plastik besar yang berisikan beberapa kaleng bir dan cemilan terlihat bergoyang karena tangannya yang bergerak mengikuti tubuhnya yang bergoyang karena senandungnya.
Cklek
"Noeul... aku merindukanmu" Peat mencebik begitu melihat Noeul yang berada dihadapannya. Ia merentangkan tangannya lebar ingin memeluk Noeul, namun malah dibalas dengan dorongan telunjuk dikeningnya oleh Noeul.
"Masuk dulu, kau harus kumarahi" Noeul membelalakan mata besarnya sambil berjalan masuk kedalam kamar Peat. Membuat Peat melangkah mundur dengan telunjuk Noeul yang masih berada didahinya.
"Kau. Duduk" ucap Noeul sambil menunjuk sofa, satu tangannya terlipat dengan mata yang menatap tajam.
"Bisakah kau memarahiku setelah memberikanku itu?" lirih Peat dengan mendudukan tubuhnya diatas sofa sambil menunjuk belanjaan yang dibawa Noeul. Mata rusanya terlihat berkaca kaca dengan bibir yang dibentuk garis lurus.
Kerongkongannya terasa kering dan perutnya pun sudah sangat lapar karena belum mencicipi apapun dari pagi, ia hanya menangis dan tidur sepanjang hari hingga Noeul sampai dikamarnya malam ini. Peat sangat ingin mencicipi bir dan cemilan yang dibawa oleh Noeul.
"Tidak" Noeul dengan wajah kesalnya mendudukan dirinya berhadapan dengan Peat dalam satu sofa yang sama. Matanya menyipit menatap Peat penuh selidik.
"Kemana kau kemarin? Kenapa menghilang setelah mata kuliah pagi?"
"Hiks.. Noeul.." Peat menghamburkan badannya memeluk Noeul. Peat kembali menangis tersedu sedu dengan membenamkan wajahnya dibahu Noeul, menyebabkan kemeja dibahu Noeul basah dan terasa hingga kulitnya. Noeul mengusap punggung Peat pelan dan lembut.
"Ayo ceritakan"
-----
"Huaa.. Peatku yang malang.. Kenapa hidupmu seperti ini.. Hiks.. " Noeul dengan wajah memerah memeluk Peat yang terlihat tak jauh berbeda darinya.
Setelah menceritakan seluruh kejadian yang terjadi padanya kemarin pada Noeul termasuk saat Fort mengacuhkannya, membuat Noeul menjadi marah dan ingin pergi menemui Fort untuk memukulnya. Tapi ia urungkan karena Noeul ingat jika Boss kini tengah berada di kamar Fort. Jadi ia hanya mengeluarkan sumpah serapah untuk memaki orang orang yang menyakiti sahabatnya. Dengan kaleng kaleng bir kosong yang telah berjejer diatas meja membuat suasana menjadi tak karuan. Kadang mereka berdua terlihat marah, kadang mereka terlihat mengeluarkan ekspresi licik dan kini mereka berdua menangis. Mereka berpelukan dengan suara tangis yang saling bersahut.
"Peat.. Huks.." kini giliran Noeul yang merengek, ia menatap Peat dengan tatapan sedih.
"Kau kenapa?" tanya Peat yang sudah berhenti dari tangisnya, ia menyeka lelehan air mata dan ingusnya dari wajahnya dengan tisu bekas yang ia pakai sebelumnya. Tangannya kemudian mengambil kaleng bir baru dari kantong plastik yang terletak di ujung kakinya.
"Aku.. Hiks.. Aku tidur dengan phi Boss. Huaa.. "
"Lalu apa masalahnya? Itu hanya tid- Tunggu! Apa maksudmu?" bola mata Peat membesar ketika baru sadar dengan perkataannya. Tangannya tak sengaja melepas kaleng birnya hingga bir didalamnya tumpah membasahi karpet. Dengan bibir setengah terbuka ia menatap Noeul tak percaya.
"Kau apa?"
Noeul mengangguk, membenarkan jawaban yang ada dikepala Peat, membuat mata Peat lebih membesar dari sebelumnya karena terkejut.
"Aku tak tau, saat kami pergi malam itu aku merasa dia sangat baik dan perhatian. Kami menginap disalah satu penginapan dan menyewa satu kamar. Aku tak tau bagaimana itu bisa terjadi, tapi phi Boss terlihat begitu tampan malam itu, jadi.. Hmm.. Jadi.. Kami melakukannya" Noeul menangkup wajahnya dengan telapak tangannya. Ia merasa malu menceritakan pengalaman pertamanya pada Peat. Meski ia tahu jika dia menyukai laki laki, namun berhubungan intim seperti itu adalah kali pertama dihidupnya.
"Kalian sudah berpacaran?" wajah Peat berubah marah saat mendapati Noeul menggelengkan kepala dibalik telapak tangannya.
Plakk
"Ho oih! Dasar bodoh!" Peat memukul kepala belakang Noeul keras. Membuat Noeul mengaduh dan memegang kepalanya yang dipukul.
"Kalau kau hamil bagaimana? Siapa yang akan bertanggung jawab?" Peat berteriak dihadapan Noeul. Tangannya kini berkacak pinggang, menunjukan jika ia tengah marah namun terlihat lucu karena wajah merah mabuknya. Temannya sudah gila rupanya! Ia bercinta dengan pria yang bahkan bukan kekasihnya!
Plakk
"Kau yang bodoh! Aku ini laki laki! Mana mungkin hamil!" Noeul membalas memukul kepala Peat. Apa putus dengan kekasih membuat otak pintar temannya menjadi bodoh? Noeul tak habis pikir dengan temannya ini
"Tetap saja.. Kalian belum berpacaran tapi sudah seperti itu" cicit Peat membela diri. Anggap saja ia salah bicara karena faktor mabuk, otaknya tidak berfungsi dengan baik sekarang.
"Lalu sekarang bagaimana? Kalian masih berhubungan? Atau dia meninggalkanmu?" selidik Peat, matanya menyipit menginterogasi Noeul.
Noeul mengacuhkan tatapan Peat dan menjatuhkan kepalanya diatas meja didepannya. Helaan napas terdengar begitu pipinya menyentuh dinginnya meja didepannya. Kepala Noeul menjadi semakin sakit memikirkan hubungannya. Sesaat kemudian ia menggeleng menanggapi pertanyaan Peat, bibirnya mencebik menahan tangis dengan pipi yang menggembung lucu.
"Aku tak tau Peat. Setelah itu kami berpura pura tak terjadi apa apa. Huks.. Sepertinya aku tak memuaskan"
"Apa kau mencintainya?" Peat ikut menjatuhkan kepalanya diatas meja hingga wajah mereka berhadapan.
"Aku tidak tau"
"Bagaimana dengan Fort?" Peat menatap mata Noeul lekat. Wajah merahnya menjadi serius, entah kenapa ia ingin tau tentang perasaan Noeul sekarang.
"Tidak tau" Peat terdiam. Apa yang ia harapkan sebenarnya? Noeul mengatakan tidak? Atau ia mengharapkan Noeul masih memiliki perasaan pada Fort?
Peat kembali memfokuskan matanya menatap wajah Noeul. Temannya ini sangat cantik dan imut. Matanya besar dan hidungnya mancung, giginya seperti kelinci dengan bibir plump. Noeul tampak sempurna untuk Fort. Bahkan dirinya bukan apa apa jika dibandingkan Noeul.
Peat mengangkat tangannya membelai kepala Noeul yang sepertinya akan menangis.
"Jangan menangis, aku akan bantu pikirkan jalan keluarnya" Peat berucap sambil tersenyum lembut. Kepalanya menjadi jernih seketika, membuat kesadarannya kembali seratus persen setelah percakapan panjangnya bersama Noeul.
Peat benar benar tak akan membiarkan siapapun menyakiti Noeul. Sekalipun itu dirinya.
-----
"Berhentilah melakukan itu Fort." jari panjang yang mengapit sepuntung rokok tampak mengetuk ujungnya untuk menurunkan abu yang sudah terbakar. Rokok tersebut kembali dihisap dan kemudian menyemburkan asap putih dari bibirnya. Boss menikmati rasa tembakau dan nikotin yang mengisi tiap celah dimulutnya.
"Kalau aku tau cara menghentikannya, sudah kulakukan sejak lama" kini asap lain pun terlepas dari bibir lainnya. Asap tersebut kemudian membaur keudara luar hingga lenyap tak bersisa. Desisan terakhir dari bibir Fort membuat rasa tembakau kembali menyerbak ditenggorokannya.
"Jangan sampai menyesal" Boss menjatuhkan puntung rokoknya kedalam asbak. Ia kembali mengambil sebatang rokok baru dari kotak rokok disebelahnya.
Tok
Tok
Baru saja rokok tersebut terjepit dibilah bibir Boss dan berniat untuk membakarnya, ketukan keras dipintu kamar kondominium Fort menyela kegiatannya. Boss melirik arlojinya yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
"Apa dia sudah selesai?" ucap Boss pada dirinya sendiri, mengundang kerutan didahi Fort yang mendengarnya.
"Aku kemari bersama Noeul, Peat menelpon Noeul ketika kami sedang melakukan diskusi mengenai penelitian tim. Jadi aku menemaninya kesini" jelas Boss sambil kembali menyimpan rokok miliknya. Ia menepuk pakaiannya beberapa kali untuk menghilangkan abu rokok yang mungkin saja berterbangan kearahnya.
"Cih, kemajuanmu terlalu pesat phi. Aku jauh tertinggal rupanya" Fort tersenyum miring melihat Boss yang melemparkan seringaian kemenangan kearahnya. Fort kemudian mematikan rokoknya kedalam asbak dan mengikuti Boss yang berjalan menuju pintu kamar kondominiumnya.
Cklek
"Kau! Bajingan!! Berani beraninya meniduri temanku!!!"
Grep
Peat dengan wajah merah dan marahnya menarik rambut panjang Boss sekuat tenaga. Menyebabkan Boss tertunduk memegangi rambutnya yang ditarik oleh Peat.
"Aw! Aw! Rambutku! Sial! Lepaskan! Ak!" erang Boss sambil terus memegangi rambutnya. Badannya terseok mengikuti arah tarikan Peat.
"Ayo Peat! Rontokan rambutnya! Hajar dia! Dia itu pria jahat! Beri dia pelajaran! Tendang saja selangkangannya! " Noeul yang ternyata berada dibelakang Peat bersorak menyemangati Peat untuk bersikap lebih anarkis. Dua pria mabuk itu tampak menyeringai kesetanan melampiaskan rasa marah mereka.
"Ho oih, Fort! Kau tak akan membantuku ha?! Jauhkan kekasihmu ini dariku!!!" teriak Boss frustasi. Fort hanya mematung tak merespon ucapan Boss, ia takjub dengan pemandangan didepannya.
Kalian tau?
Dua pria mabuk ini tidak menggunakan atasan! Mereka hanya menggunalan celana olahraga dibawah tubuh mereka dengan tampilan acak acakan.
"Ho oih Fort! Kau mau aku mendorong kekasihmu ha? Cepat jauhkan dia dariku! Akk!! Sakit!"
"Diam kau Boss!!! Kau harus tanggung jawab! Kau menghamili Noeul! Bajingann!!" Peat semakin meluapkan emosinya. Kali ini ia memukul seluruh tubuh Boss dengan kuat.
Srett
Fort yang tersadar dari ketakjubannya menarik tubuh Peat menjauh dari tubuh Boss. Ia tak mau Boss benar benar mendorong Peat.
"Cih, jangan tarik aku! Aih! Fort!" Peat bergerak acak untuk melepaskan pelukan Fort diperutnya. Kakinya mengayun diudara untuk menendang Boss yang ia pikir berada didekatnya. Tangannya juga berkali kali bergerak mencoba menjangkau Boss.
"Bajingan!!! Kenapa kau menyakiti Peat?!! Mati kau!" kini Noeul berlari menuju Fort dengan berteriak kesetanan.
Plakk
Noeul memukul kepala belakang Fort dengan keras, menyebabkan dahi Fort membentur kepala belakang Peat hingga terdengar ringisan dari keduanya. Boss yang belum sepenuhnya pulih dari rasa sakit akibat tarikan Peat kini mengejar Noeul yang tampak akan menghajar Fort sekali lagi.
Boss menarik Noeul menjauh, menyebabkan dua pasang manusia itu berada dalam jarak aman agar tidak menyakiti satu sama lain.
"Aku pulang. Kau urus kekasihmu itu" Boss menarik Noeul yang sebelumnya ia paksa untuk memakai jaket denim yang ia gunakan. Ia tak akan dan tak ingin memamerkan tubuh Noeul pada siapapun, cukup Fort dan itupun hanya kali ini.
Fort mengangguk, tangannya sudah memerah karena pukulan dan tamparan Peat. Peat terus meracau untuk minta dilepaskan dan mengutuk Boss, begitu juga dengan Noeul yang kini tampak mencengkram erat tepian pintu kamar kondominium Fort, ia tak mau pergi sebelum menghajar Fort habis habisan. Mata bulat Noeul menatap tajam kearah Fort, bibirnya sibuk menyuruh Fort untuk mati.
"Cepatlah pergi phi! Peat mulai menggigit tanganku!" teriak Fort, ia menggigit bibirnya menahan rasa sakit ditangannya. Setelah ini ia harus menjauhkan alkohol apapun dari Peat. Ini benar benar menyiksa
Blam
"Hah.." Fort bernapas lega setelah melihat pintu kamar kondominiumnya tertutup. Tangannya bersamaan melepas Peat tepat setelah pintu tertutup. Fort menatap tangannya yang sudah dipenuhi jejak kemerahan karena pukulan dan gigitan Peat.
Srett
Fort kembali menarik Peat mendekat ketika melihat Peat yang berancang ancang mengejar Boss dan Noeul.
"Jangan. Sekarang saatnya untuk tidur, okey? "
TBC
Komentar
Posting Komentar