FORTPEAT - JINX - 22

Ketukan jari yang cepat diatas meja menunjukkan sang empu dalam kondisi tak sabar karena telpon yang ia sambungkan tak kunjung diangkat. Wajah frustasi dengan pijatan dipelipisnya kini memperlihatkan jika ia benar benar butuh bantuan.

Semalam suntuk ia mengajak otaknya untuk berpikir. Menyusun segala kemungkinan yang terjadi dan langkah yang harus ia ambil. Dan semua kekacauan yang terjadi dalam otaknya disebabkan oleh pria kecil yang tiba tiba saja muncul dihadapannya.

Tak terhitung berapa skala bahagia yang ia rasakan ketika tanpa sengaja melihat sisi wajah yang sangat ia rindukan bersembunyi dibalik lemari hitam di kantornya. Wajah itu terlihat sama persis tanpa kurang sedikitpun, meski ia hanya melihat separuh dari wajah itu tapi ia serasa diterbangkan ke langit tertinggi.

Namun disaat yang bersamaan kenyataan memukulnya telak dikepala. Baru saja ia membuka lembar baru dihidupnya dan melepaskan pria kecil ini, dan dalam waktu dekatpun pertunangannya dengan Pearwah akan dilaksanakan. Membuat tubuhnya kembali terhempas ke jurang dengan batu runcing didasarnya.

Perasaannya menjadi tak karuan. Bertahun tahun ia habiskan mencari pria kecil itu dan mendambanya setiap malam. Memutari harinya dengan berbicara pada benda mati yang erat kaitannya dengan pria kecil itu. Menangisi kesepian yang ia lalui setiap hari hingga semua kerabat yang melihatnya hampir mencapnya sebagai orang gila karena terlalu fanatik pada seseorang. Bahkan Fort menutup diri dari segala lingkungan dan hanya berkutat dengan pekerjaan sebagai pengalih akal sehatnya.

Sepuluh tahun ia hidup dalam gambar besar Peat dan tak sekalipun ia berpaling.

Ini tak adil.

Takdir terlalu mempermainkan hidupnya.

Memang benar ia bersalah dan ia harus menebus semuanya. Tapi tak seperti ini. Apa yang harus ia lakukan jika keadaan sudah menjadi seperti ini? Kabar pertunangannya sudah diumumkan keseluruh penjuru melalui media baik online maupun cetak. Ia tak bisa menaruh malu diwajah ayah dan ibunya.

Fort paham jika kemungkinan besar mereka akan turut senang jika mengetahui satu satunya orang yang menjadi sumber kebahagiaan anaknya sudah kembali. Namun mereka bukan lagi remaja yang bisa bertindak semena mena. Apalagi posisinya saat ini yang merupakan seorang Presiden Direktur diperusahaan besar. Apa yang akan dikatakan orang jika ia memutuskan pertunangan yang digembar gemborkan akan menjadi pernikahan terbesar tahun ini.

Tapi tak bisa dipungkiri. Cinta yang bertahun tahun yang ia miliki tak pudar sedikitpun. Bahkan setelah dirinya melepaskan pria itu beberapa hari lalu, tetap saja ia kembali bertekuk lutut tepat disaat matanya menangkap sosok kecil itu.

Ia sangat butuh bantuan saat ini. Ia tak bisa menanyai ayah atau ibunya karena takut dengan apa yang akan ia dengar. Satu satunya orang yang bisa memberikan masukan padanya saat ini hanyalah Boss, salah satu orang yang sangat ia percayai selama ini.

"Ya, halo. Ada apa?"

"Phi, tolong aku"

-----

Sepanjang perjalanan menuju kantornya, Fort tak berhenti memikirkan perkataan Boss. Perkataan itu terus saja terngiang ngiang dikepalanya.

'Aku tak bisa memberi jawaban apa apa, tapi aku hanya ingin mengatakan jika pernikahan bukan hal yang main main dan bukan hanya tentang perasaan, pernikahan bukanlah sekedar hitam diatas putih, kau akan menghabiskan waktumu bersama pasanganmu dalam waktu yang lama Fort'

Perkataan Boss membuat semuanya malah semakin rumit. Saat ini ia hanya membutuhkan satu pilihan, kembali pada Peat atau tetap melanjutkannya dengan Pearwah. Fort sangat tau jika pernikahan adalah hubungan seumur hidup. Tapi ia hanya tak tau pilihan mana yang terbaik untuk dirinya. Jika akal sehatnya menyuruhnya tetap bersama Pearwah, lain dengan perasaannya yang sangat menginginkan Peat.

Sial!

Kenapa semuanya menjadi serumit ini sekarang?

-----

Langkah kaki beraturan menggema dilorong salah satu lantai gedung pencakar langit. Dahi yang berkerut dan alis yang menukik tajam membuat setiap pegawai yang tak sengaja melintasi Fort hanya bisa menundukkan kepala dan berjalan menepi. Suasana hati sang Presdir tampaknya tak dalam keadaan baik, jadi sudah seharusnya para pegawai mengerti untuk tak berurusan apa apa dengan sang Presdir hari ini.

Kaki itu terus menbawanya menuju ruang kerjanya yang berada dilantai atas. Dengan satu tangan yang berada didalam saku dan satu tangan lain yang dihiasi jam tangan rolex itu tampak berayun mengiringi langkah tegapnya.

Sesaat sebelum dirinya mencapai pintu ruang kerjanya, ia menolehkan kepalanya kesamping, tepat kearah sekretarisnya yang tampak hampir membungkuk, nyaris menutupi seluruh wajahnya dengan sampul map dokumen yang ia pegang.

"Jika calon tunanganku datang, katakan padanya untuk menunggu sampai jam makan siang diruang tamu. Jangan biarkan siapapun masuk keruanganku sebelum istirahat"

"Baik Khun"

Fort segera mendorong pintu ruang kerjanya dan meninggalkan sang sekretaris yang pucat dengan degup jantung yang melaju cepat.

-----

Jam mulai menunjukkan pukul 12 siang, yang artinya waktu jam makan siang baru saja dimulai. Fort mulai membereskan beberapa barangnya dan mengambil dompet beserta kunci mobil miliknya. Berdiri dari singgasananya dan berjalan menuju pintu keluar untuk menemui calon tunangannya yang menunggu diruang tamu.

Sekian lama ia merenung dan kali ini pilihannya jatuh pada akal sehat miliknya. Seperti kata Boss, pernikahan bukan hanya mengenai perasaan, jadi Pearwah sudah lebih dari cukup untuk memenuhi syarat menjadi pilihannya. Dia gadis yang lembut, perhatian dan penyayang. Bahkan dia mengerti mengenai bisnis dan berkompeten dalam berbagai hal. Pearwah adalah pendamping yang cukup untuknya saat ini. Disamping kelebihannya, pilihan ini juga tak akan merugikan siapa siapa. Dan itu demi kebaikan semuanya.

Cklek

Tangan besar itu mendorong pintu ruang tamu yang terletak disebrang ruangannya. Tak butuh waktu lama sampai ia mendapati gadis kecil dengan terusan floral didalam ruangan tersebut. Melangkahkan kakinya lebih jauh kedalam untuk menyambut sang calon tunangan yang tersenyum kearahnya.

"Lama menunggu?"

"Tidak juga, tak sampai 30 menit" Pearwah merentangkan tangannya dan memeluk pinggang Fort. Kemudian merebahkan kepalanya pada dada bidang itu dan memejamkan matanya untuk merasakan hangat tubuh dari pria didepannya.

"Bagaimana harimu? Baik?" tanya Fort sambil membalas pelukan Pearwah, tangannya mengusap surai hitam panjang itu dengan lembut.

Pearwah mengangguk, lalu menjauhkan kepalanya untuk mendongak menatap Fort yang jauh lebih tinggi darinya.

"Kita makan sekarang?"

"Ayo"

Keduanya pun melepaskan pelukan mereka. Memilih menautkan jemari dan berjalan beriringan menuju pintu keluar ruangan. Lorong yang sunyi kini diisi dengan derap langkah sepatu mereka, wajar saja karena dua sekretaris yang berada disisi ruangan Fort kini sudah pergi untuk istirahat.

"Sayang apa kau terburu buru?" tanya Pearwah sambil terus menatap kedepan, tangannya yang berpegangan pada Fort ia ayunkan dengan lucu.

"Tidak, kenapa?"

"Ayo lewat tangga saja, aku ingin berjalan lebih lama denganmu" Pearwah menatap Fort dari samping, menatap layaknya kucing yang memohon pada tuannya. Terlihat menggemaskan.

"Baiklah, kita lewat tangga saja" ujar Fort tersenyum tipis, mengangguk menatap Pearwah sambil memutar tubuh mereka kearah pintu tangga darurat.

Senyum lebar terukir pada bibir yang dipolesi lipstick merah muda itu. Kini tangannya yang lain dengan semangat menggenggam lengan Fort agar tubuh mereka saling berdekatan.

Langkah demi langkah terdengar saat kaki mereka mulai menuruni tangga. Tak ada yang bicara, mereka berdua hanya menikmati sunyi yang entah bagaimana tak terasa canggung. Hanya ada rasa nyaman dan tenang.

"Eumhh.. Sshh.."

Tiba tiba saja suara desahan tipis tertangkap oleh telinga mereka. Membuat keduanya saling menatap dengan raut bingung diwajah mereka. Fort yang pertama memutus kontak mata mereka kini beralih menatap seluruh sudut ruang yang dapat terlihat oleh matanya, siapa tahu ia akan mendapatkan pelaku yang melakukan hal tak senonoh di kantornya.

Bunyi desahan serta kecipak khas ciuman itu kembali bergema tipis. Membuat Pearwah menggenggam tangan Fort lebih erat dan menariknya kesisinya. Wajah bingungnya semakin menjadi saat Fort kembali menatap wajah cantik calon tunangannya.

Dengan langkah lebih dulu, Fort menarik Pearwah untuk turun menyusuri tangga darurat. Suara itu semakin terdengar jelas, artinya mereka berjalan kearah yang tepat. Dari tempat Fort berdiri sekarang, ia dapat melihat sepasang pria dan wanita yang sedang bercumbu disudut tangga yang tepat berada satu lantai dibawahnya. Matanya menyipit ketika melihat seseorang yang familiar dimatanya.

Tato kupu kupu biru!

Dari matanya ia melihat pria yang membelakanginya itu memiliki tato kupu kupu biru ditengkuknya, itu adalah pria yang ia lihat tempo hari di lift. Dan wanita itu juga terlihat cukup familiar. Fort mendesis tak yakin, ia kembali melanjutkan jalan mereka dengan memelankan suara langkah mereka. Fort ingin menangkap basah pegawainya yang seenaknya berbuat hal mesum dikantornya.

"Apa yang kalian lakukan?!" seru Fort begitu sampai pada lantai yang sama dengan dua orang yang sedang bercumbu itu. Suara beratnya menggema sehingga membuatnya terdengar lebih menakutkan.

Pasangan itu pun seketika menghentikan kegiatan mereka. Tubuh mereka mematung karena terkejut dengan suara yang tiba tiba. Tak ada jawaban apapun dari keduanya, si pria pun masih tetap berdiri membelakangi Fort dengan menumpukan tangannya pada dinding.

"Jawab! Apa kalian tak punya malu hah? Ini kantor! Bukan hotel ataupun motel!" marah Fort ketika melihat pasangan tersebut yang tak bergeming ditempatnya. Pearwah yang berada disampingnya tampak mengelus lengan Fort untuk menenangkannya.

"Dan kau Jane! Bukankah kau sekretarisku? Dimana letak profesionalitasmu hah? Kau orang dengan jabatan tinggi disini! Kau ingin mempermalukanku?!" Fort semakin meninggikan suaranya. Tak salah lagi, ternyata benar wanita ini adalah sekretarisnya.

Jane yang terkejut dengan amukan atasannya segera mendorong pria dihadapannya dan memperbaiki setelan kantornya yang terlihat acak acakan. Ia kemudian kembali merapikan rambutnya dan menundukkan kepalanya bersalah.

Berbeda dengan pria itu, dia sama sekali tak memutar tubuhnya dan tetap menatap tembok putih. Tak berniat untuk menghadap atasannya yang tengah marah.

Fort semakin jengah dengan situasi yang ada. Ia segera melepaskan tangan Pearwah yang menggenggam tangannya dan menghentak tangan pria putih yang membelakanginya agar berputar kearahnya.

Degg

"Peat.."

Betapa terkejutnya Fort melihat wajah yang sangat ia kenali kini berada dihadapannya. Napasnya berhenti sejenak, ia tak bisa mencerna apa yang terjadi saat ini.

Dengan sangat jelas matanya melihat wajah itu. Mata rusa itu, hidung bangirnya, bibir tipis kemerahan miliknya, dan kini ia juga merasakan kulit halus itu dalam genggamannya. Membuatnya tak dapat berkedip dan mengalihkan pandangannya dari sosok dihadapannya.

Namun mata itu memandangnya lain. Mata itu memandangnya berbeda. Pancaran sakit dan kesedihan terlihat sangat jelas dari mata cantik yang selalu ia damba.

Dalam sepersekian detik Peat menghempaskan tangan Fort. Dengan cepat ia berlari menuju pintu keluar. Reflek kaki Fort ikut bergerak menyusul pria kecil itu, baru saja ia mencapai gagang pintu keluar, ia merasakan sentuhan ditangannya yang menggenggamnya dengan erat.

Fort berbalik dengan raut wajah marah, ia harus mengejar Peat dan ia tak mau dihalangi. Namun ia mendapati Pearwah yang tengah menatapnya. Membuat air wajahnya yang keras melunak seketika. Fort terpaksa menelan kembali bulat bulat sumpah serapah yang ingin ia keluarkan.

Helaan napas kasar berhembus seiring matanya yang terpejam untuk mengontrol emosinya. Tangannya membalas genggaman Pearwah dan mengajaknya untuk turun melanjutkan perjalanan.

"Tunggu" Fort menghentikan langkah mereka dan berbalik melihat Jane yang masih berdiri disana dengan kepala tertunduk.

"Kau, dipecat!"

-----

Setelah mengantarkan Pearwah kembali ke kantornya, Fort memilih kembali menuju kantornya sendiri dengan mengemudi dalam kecepatan penuh.

Sedari tadi kepalanya tidak bisa berpikir jernih, ia selalu mengingat kejadian ciuman ditangga darurat yang dilalukan oleh sekretarisnya dan Peat.

Rasa marah, emosi dan kesal bercampur. Hingga buku buku tangannya memutih karena terlalu erat mencengkram setir mobil.

Dengan cepat ia memarkirkan mobilnya didepan lobi perusahaan dan bergegas masuk kedalam.

"Permisi Khun" salah seorang petugas keamanan dengan takut menghampiri atasannya yang tampak sangat marah.

Tubuh besar itu berhenti dan menatap sinis kearah petugas keamanan yang berani mencegatnya. Petugas keamanan itu menengguk ludahnya kasar, tatapan atasannya terasa sangat mengancam. Dengan segera petugas keamanan itu mengeluarkan sebuah kunci mobil dari dalam sakunya dan menyodorkannya kehadapan Fort.

Tepat saat matanya melihat kunci mobil yang disodorkan didepan wajahnya, wajah Fort berubah datar. Tangannya dengan cepat meraih kunci itu dan kembali beralih menatap petugas keamanan yang kini menundukkan kepalanya.

"Darimana kau dapat kunci ini?" tanya Fort cepat. Ini adalah kunci yang ia hilangkan kemarin, bahkan hari ini ia terpaksa membawa mobil sport karena mobil suv miliknya masih terparkir dikantornya.

"Tadi pagi seorang pria menyerahkan kunci ini pada saya Khun. Ia meminta saya memberikan ini pada anda" dengan suara yang sedikit bergetar ketakutan petugas keamanan tersebut menjawab pertanyaan Fort.

"Kau tau namanya? Apa kulitnya putih pucat?"

"Ya Khun, dia tak terlalu tinggi dan ditengkuknya terdapat tato. Untuk namanya maaf saya tidak tahu"

"Baiklah, kuperingatkan kau untuk menurunkan pandangan jika kembali bertemu dengannya. Aku tak suka kau memperhatikan tubuhnya serinci itu"

Fort pun mulai berjalan. Tak salah lagi jika Peat yang mengembalikan kunci mobilnya. Sedikit senang mengetahui Peat masih membantunya dalam hal sekecil ini. Sebenarnya bisa saja Peat tak mengembalikan kunci mobilnya ini jika tak ingin berurusan dengannya, tapi pria kecil itu tetap melakukannya untuknya.

Cih! Apa apaan petugas tadi. Berani beraninya dia menatap Peat selekat itu, bahkan ia mengetahui lebih dulu jika Peat memiliki tato ditengkuknya. Apa dia menikmati pemandangannya? Ck, benar benar menyebalkan!

Fort menghentikan langkahnya dan kembali menatap tajam kearah petugas keamanan yang kini tampak berdiri didekat pintu sambil membukakannya untuk para pegawai yang akan masuk.

"Apa ku pecat saja dia?" gumam Fort pada dirinya sendiri. Ia menimang kembali pemikirannya mengenai pemecatan sang petugas keamanan. Menatap kembali kunci mobil yang berada ditangannya dan tersenyum tipis.

"Kau beruntung hari ini, aku tak akan memecatmu" lagi, Fort bergumam pada dirinya sendiri dengan senyum lebar diwajahnya.

Fort kembali melanjutkan perjalanannya, tanpa tau jika semua karyawan yang kini berada satu lantai dengannya tengah terkejut karena melihat hal yang baru pertama kali mereka lihat.

Seorang Khun Fort tersenyum sangat lebar untuk pertama kalinya.

-----

Tok

Tok

Tok

"Ya masuk" tangan kurus itu mulai menepikan laptopnya dan menatap seorang wanita yang baru saja masuk.  Wanita itu menangkupkan kedua telapak tangannya dan menundukkan kepalanya tanpa menatap Peat. Sedikit bingung, namun Peat hiraukan.

"Ada apa?"

"Maaf sebelumnya Khun, Khun Fort memanggil anda keruangan karena ada yang ingin dibicarakan"

"Maaf, eum-"

"Film Khun, panggil saja saya Film"

"Ya Khun Film, maafkan saya. Pekerjaan saya sangat menumpuk jadi belum bisa menemui Khun Fort, tolong sampaikan permintaan maaf saya padanya" Peat tersenyum tipis memandang Film yang masih menundukkan kepalanya. Kembali mengambil laptopnya dan mulai menggerakkan jari jarinya diatas keyboard.

Satu menit

Dua menit

Empat menit

Sepuluh menit

Desahan kesal akhirnya keluar dari mulut Peat. Mata rusa itu menatap jengah wanita yang masih berdiri dalam posisi yang sama diambang pintu ruang kerjanya. Peat membawa tubuhnya mendekati wanita itu setelah melepaskan kaca mata yang tersampir dihidungnya. Dengan satu tangan yang berada didalam saku, tangan lainnya meraih dagu Film dan mengangkat wajah manis tersebut. Mata rusa itu menatap dalam mata wanita didepannya, membuat wanita itu tanpa sadar menelan salivanya dengan gugup.

"Kau menginginkanku? Bilang saja" bibir tipis kemerahan itu menyeringai, membuat wajahnya terlihat semakin menawan.

Film membuang wajahnya dan kembali menundukkan kepalanya. Mencoba menetralkan detak jantungnya yang berpacu sangat cepat. Khun Peat itu sangat menarik, dan saat ini pria menarik yang belakangan ini sering dibicarakan semua orang tengah berdiri dekat dengan dirinya! Tak aneh rasanya untuk tak tersipu dalam keadaan seperti ini. Namun mengingat pesan dari atasannya yang tidak boleh menatap pria didepannya ini membuat Film mengurungkan niatnya untuk mengagumi keindahan ciptaan Tuhan didepannya.

"Ma-maaf Khun, saya diperintahkan untuk membawa anda dan tidak diizinkan kembali jika anda menolak"

Peat mendecih, menatap wanita yang lebih pendek darinya itu dengan remeh. Seketika wajahnya berubah datar, dengan cepat tangannya mengambil kaca mata dan bergerak keluar lebih dulu dari Film.

-----

Brakkk

"Kenapa kau memanggilku?" tanya Peat sesaat setelah membuka pintu ruang kerja Fort. Dengan tajam ia menatap pria yang kini beralih menatapnya.

"Baby!" Fort berseru dengan wajah sumringah. Senyumnya begitu lebar melihat Peat datang keruangannya, ia bahkan melupakan seluruh rencananya untuk meminta maaf dan memarahi pria kecil itu karena berani bercumbu dengan sembarang orang. Fort dengan cepat melangkah menuju Peat dan segera memeluk tubuh kecil itu.

Plakk

Peat menepis tangan yang berada disisi tubuhnya, memundurkan langkahnya dan menatap marah kearah Fort.

"Jika kau hanya ingin membuang waktuku untuk bekerja, lakukanlah hal yang lain. Itu sangat mengganggu" mata rusa itu menatap nyalang mata besar dihadapannya. Memberi tahu seberapa benci dan tak sukanya pada pria didepannya.

"Hei, calm down baby. Aku hanya merindukanmu. Tak bolehkah?" Fort menurunkan suaranya agar Peat luluh. Menampakan wajah sendunya agar Peat mengasihaninya.

"Tidak! Jika kau melakukan hal seperti ini lagi, aku akan mengabari atasanku agar segera menarikku kembali kesana"

Peat berbalik, dengan hentakan kaki yang cukup keras ia berjalan keluar melewati pintu yang masih terbuka. Namun Fort lebih cepat, ia menarik tangan Peat dan mendorong tubuh kecil itu kedinding. Menghempaskan daun pintu ruang kerjanya cukup keras dan kemudian mengurung Peat dengan kedua tangannya.

"Tatap aku"

Peat menghiraukan perintah Fort, dengan tangan yang bersilang didepan dada Peat memilih menatap kesamping.

"Tatap aku baby" suara Fort terdengar lebih rendah dan mengancam, namun tetap saja tak membuat Peat beralih menatap pria besar itu.

"Tatap aku Peat!" nada tinggi ditelinganya membuat Peat terhenyak dan terpaksa menolehkan pandangannya pada pria didepannya. Matanya mulai berkabut, entah kenapa hatinya menjadi sakit hanya dengan suara tinggi Fort yang diarahkan padanya.

Kedua pasang mata itu bertemu. Menatap dengan dalam seakan mampu berkomunikasi hanya lewat tatapan saja. Keduanya memandang dengan tatapan saling terluka, seakan tak mau mengalah membandingkan siapa yang paling sakit disini.

Akhirnya Fort mengalah, ia memejamkan matanya sesaat sambil menghela napas panjang, menurunkan tegangan pada rahangnya dan kembali menatap Peat lebih lembut.

"Peat, maafkan aku-" Fort menjeda perkataannya sambil mencoba menatap mata rusa itu lebih dalam. Mencoba menyampaikan apa yang ia katakan benar benar tulus dari hatinya.

"-Maafkan aku Peat. Semua ini salahku dan akulah bajingannya disini. Maafkan aku membuatmu terluka. Maafkan aku telah menyakitimu Peat. Aku-"

"Berhenti" sanggah Peat dengan suaranya yang bergetar. Dengan sekuat tenaga ia meredam emosi dan tangisnya yang kini mendesak untuk dilepaskan. Bibirnya mengatup hingga membentuk garis. Mata berkabutnya kini sudah membentuk air yang siap meneteskan air mata.

"Dengarkan aku Baby. Kumohon. Aku harus-"

"Kubilang berhenti!!" teriakan keras dari bibir tipis itu sukses membuat Fort kembali bungkam. Menatap tak percaya sekaligus khawatir pada pria kecil didepannya yang kini sudah meneteskan air mata.

"Ma-maafkan aku, aku tak bermaksud membuatmu menangis" Fort mengangkat tangannya dan menyeka tetesan air mata itu dengan ibu jarinya, mengelus pipi halus itu untuk menenangkan sang submisif yang masih menatap tajam kearahnya.

Tangan pucat itu kini mendorong tubuh Fort menjauh dan menyeka kasar air matanya, menghirup udara disekelilingnya dalam dan menghembuskannya cepat.

"Saya harap pertemuan selanjutnya hanya berkaitan dengan pekerjaan. Meskipun anda seorang atasan, anda sudah mengganggu kinerja saya dalam bertugas. Saya harap tak ada kejadian seperti ini lagi. Saya permisi"

Peat membungkukkan tubuhnya dan segera berjalan menuju pintu ruangan. Tangannya meraih gagang pintu dan kemudian menariknya, membuat akses yang hanya cukup untuk tubuh rampingnya lewati.

Blam

Peat menutup pintu itu kasar. Berjalan dengan cepat menelusuri lorong tanpa mempedulikan keadaan Fort didalam sana.

Tangan pucat itu dengan sigap menopang tubuh limbungnya pada dinding. Kepalanya terasa sangat sakit dan napasnya memburu. Kepalanya seperti dihantam dengan palu besi berkali kali. Lama kelamaan pandangannya mengabur dan mulai menghitam

Brukk

Tubuh kecil itu akhirnya ambruk, terbaring dalam keadaan tak sadarkan diri di atas dinginnya lantai lorong.

TBC


Komentar

Postingan populer dari blog ini

FORTPEAT - SURROGATE 2🔞

FORTPEAT - JINX - 16 🔞

FORTPEAT - RARE SPECIES - 5 🔞